LOGINBacaan dewasa area 21+ Semua orang tahu bahwa Amanda telah mengkhianati Fazar dengan melakukan POLIANDRI. Kegilaannya akan harta dan kekuasaan sosial membuat Amanda melakukan tindakan tercela dengan menikah siri bersama pria lain yang jauh lebih tampan dan muda dari suaminya. Akan tetapi, saat pengkhianatan itu terus berlanjut, identitas asli suaminya terbongkar. Siapa sangka jika Fazar adalah putra tunggal pemilik EXCO Group, perusahaan besar tempat Amanda berkerja. Lalu, apa yang membuat suaminya itu merahasiakan jati dirinya sendiri?
View More“Hari ini kamu sibuk? Kalau tidak, aku ingin mengajakmu makan siang. Anila baru saja membuka cafe,” ucap Ivana. Wanita dengan rambut sepundak itu menatap ke arah Arga—suaminya.
Namun, tidak ada jawaban. Arga masih sibuk dengan ponsel di tangan. Sejak berada di ruang makan, pria itu tidak mengalihkan pandangan sama sekali. Dia bahkan tidak melihat Ivana yang sudah berdandan rapi di hadapnanya. “Arga,” panggil Ivana karena tidak juga mendapat jawaban. Namun, Arga hanya bergumam pelan, menangapi pangilan sang istri. Wajahnya tampak tenang dan datar. Dia bahkan tidak mengalihkan pandangan, tetap fokus dengan benda pipih di tangannya. Hal yang membuat Ivana menjadi penasaran. ‘Sebenarnya dia lihat apa?’ tanya Ivana dengan diri sendiri. Ivana pun mulai mendekat, bermaksud mengintip apa yang dikerjakan sang suami. Tapi, tepat saat itu, Arga mematikan layar ponsel. Dia mendongakkan kepala, menatap ke arah istrinya berada. “Kamu lagi chat sama siapa?” tanya Ivana. Dia mulai penasaran karena sejak kemarin suaminya hanya fokus dengan ponsel. Padahal biasanya Arga tidak pernah seperti itu. Meski sering mengabaikannya, tetapi Arga juga masih mendengarkannya. “Hanya seorang rekan bisnis,” jawab Arga singkat. Dia mengambil tisu dan mengusap mulut, menghilangkan sisa makanan. “Kamu gak habiskan makanannya?” tanya Ivana ketika melihat masih banyak sisa sarapan di piring sang suami. “Aku kenyang. Lagi pula ada rapat pagi ini. Jadi, aku gak mau sampai terlambat,” jawab Arga. Dia pun bangkit dan melangkah pergi. Ivana yang melihat tingkah laku sang suami pun hanya bisa membuang napas lirih dan mengelus dada. Pernikahan mereka sudah berjalan empat tahun, tetapi sikap Arga tidak berubah. Pria itu seperti tidak menganggapnya istri. Bahkan di ranjang pun terasa hambar. ‘Ya Tuhan, harus sampai kapan aku menahan,’ batin Ivana. Ivana yang melihat tas sang suami tertinggal di meja makan langsung meraihnya. Dia pun mulai bangkit dan melangkah ke arah ruang utama. Kakinya melangkah cepat, tidak ingin tertinggal suaminya. Meskipun Arga selalu bersikap dingin, Ivana tetap memperlakukannya dengan baik. Dia berharap hal ini bisa meluluhkan hati suaminya. Hingga dia yang sudah berada depan langsung berhenti di sebelah mobil Arga. Ivana hendak mengetuk pintu, tetapi niatnya terhenti ketika mendengar percakapan Arga dari dalam mobil. “Aku tidak bisa datang. Aku akan ke apartemen setelah pulang kerja,” kata Arga. Mendengar hal itu, Ivana mengerutkan kening dalam. Dia bertanya-tanya dalam hati, “Arga mengobrol dengan siapa?” *** “Kamu yakin mau mengantar makanan ini untuk Arga?” tanya Anila, menatap Ivana lekat. “Iya. Aku mau dia merasakan makanan di cafemu,” jawab Ivana dengan tenang, “tadi aku mengajaknya ke cafemu, tapi dia gak bisa karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.” Anila yang mendengar pun berdecak kecil dan memutar bola mata pelan. Ekspresinya menunjukkan kekesalan dan berkata, “Dia itu bukannya banyak pekerjaan, tapi memang gak pernah mau bertemu dengan sahabatmu. Kamu masih ingat saat kalian menikah, kan? Dia bahkan gak mau menyapa kami.” Ivana merasa tidak enak hati. Dia meraih jemari sahabatnya. Dengan raut wajah sendu dia berucap, “Maaf. Saat itu banyak rekan bisnisnya.” Kalau saja bukan Ivana, Anila pasti sudah mengamuk. Dia pun hanya bisa membuang napas lirih, meredam jauh-jauh perasaan sakit hati karena perlakuan Arga. Sahabatnya sangat mencintai pria itu, membuat Anila tidak bisa berkata apa pun. “Kalau begitu, aku masuk dulu. Tunggu aku di sini,” kata Ivana. Anila yang mengantar Ivana ke kantor Arga pun hanya bergumam pelan. Dia memilih untuk duduk di dalam mobil, bermain ponsel sembari menunggu Ivana datang. Sedangkan Ivana menatap kotak bekal yang dibawanya. Dia datang ke cafe sahabatnya sendiri dan sengaja memesan makanan untuk Arga. Dia ingin suaminya itu merasakan makanan Anila yang begitu enak. Setelah sampai di perusahaan Arga, Anila pun berhenti. Ivana tidak menunggu lama. Dia segera keluar dari mobil sang sahabat dengan senyum merekah di bibir. Dia sudah membayangkan Arga yang akan lahap menyantap makanan itu. “Ivana, kamu mau aku tunggu atau pulang sendiri?” tanya Anila. “Sepertinya aku pulang sendiri saja. Soalnya aku pasti lama menunggu Arga selesai makan,” jawab Ivana. “Kalau begitu, aku pulang dulu. Kamu hati-hati.” Ivana menganggukkan kepala. Dia menatap kepergian sang sahabat. Setelahnya, Ivana kembali menatap bangunan yang tidak jauh darinya. Dia pun membuang nafas kasar dan mulai melangkahkan kaki. Ivana tidak henti-hentinya melempar senyum, menunjukkan kebahagiaannya. Namun, Ivana terhenti ketika melihat sosok yang tidak asing baginya. Kedua matanya menyipit, memperhatikan wanita yang berdiri tidak jauh darinya. Hingga wanita itu membalikkan tubuh, membuat Ivana bisa melihat siapa wanita yang terasa tidak asing bagi. “Gwen,” gumam Ivana dengan kedua mata melebar. Dia pun memilih untuk berhenti, menatap wanita yang sibuk dengan ponselnya. Beruntung sebuah mobil menghalangi, membuat Gwen tidak melihat kehadirannya. Sedangkan Gwen, masih begitu kesal. Beberapa kali dia memanyunkan bibir dan menghentakkan kaki. Hingga panggilannya tersambung, membuat Gwen langsung mendengus kasar. “Aku ada di bawah kantormu." “Aku hanya ingin makan siang bersama saja. Apa itu salah?” “Oke. Aku tunggu di bawah.” Gwen mematikan panggilan dan membuang napas kasar. Tapi, hal itu memancing rasa ingin tahu Ivana. Dia yang berdiri tidak jauh dari wanita itu bisa mendengar percakapan Gwen dengan jelas, membuat keningnya berkerut dalam. “Dia sedang bicara dengan siapa? Memangnya dia memiliki kenalan yang bekerja di sini?” tanya Ivana dengan diri sendiri. Ivana kembali menatap Gwen. Hingga kedua matanya melebar, merasa terkejut dengan sosok yang sejak tadi ditunggu wanita itu. Tubuhnya langsung membeku dengan lidah terasa kelu. “Arga,” gumam Ivana. Ivana benar-benar seperti tersambar petir. Melihat Gwen yang menggandeng lengan suaminya dengan manja membuat hati Ivana hancur. Air matanya pun perlahan mulai mengalir, menatap sang suami yang sudah pergi dengan wanita lain. “Ternyata, selama ini kamu berhubungan dengannya?” tanya Ivana dengan diri sendiri."Aku ingin bertemu dengan Cerry dan Ferro."Untuk sekian kalinya, Fazar meminta pada Amanda. Sejak diusir dari rumah tiga hari yang lalu, ia berusaha untuk menemui anaknya. Fazar sangat khawatir, mengingat pertemuan terakhir mereka, baik Ferro dan Cerry menangis histeris.Akan tetapi, permintaannya hanya ditanggapi dengan Amanda yang sibuk menyuapi Marvel buah-buahan potong. Sikapnya itu jelas sekali menunjukkan bahwa mereka mengacuhkan keberadaan Fazar. Seakan-akan dia ini makhluk tidak kasar mata.Merasa geram, Fazar pun menyentak. "Amanda, kamu mendengarku? Tolong, pertemukan aku dengan anak-anak."Brak!Amanda menghentakan garpu di meja dengan kuat. Wanita berusia 27 tahun itu lalu berdiri dan menatap nyalang suami pertamanya."Kamu tidak bisa bertemu dengan anak-anak. Sebaiknya kamu pergi saja, sana!" usir Amanda menunjuk pintu keluar."Jangan keterlaluan, Amanda. Aku ini ayah mereka," jawab Fazar tidak kalah bengis.
"Ah, akhirnya si beban itu mati juga." Setelah pemakaman Mbok Marni, Fazar pulang ke rumah bersama anak-anaknya. Sungguh, amarah dalam dirinya semakin bergejolak saat mendengar pernyataan kejam dari sang ibu mertua. "Ini tidak akan terjadi jika saja ibu tidak mendesak Mbok Marni." Fazar menatap tajam Ajeng setelah menyuruh kedua putra-putri kembarnya naik ke atas. Akan merusak mental mereka jika Fazar kelepasan marah. Sudah cukup dengan tingkah Amanada yang mencontohkan hal tidak baik dengan menjalani Poliandri. Ajeng yang sedang duduk di sofa ikut tersulut emosi. "Lho, kenapa kamu menyalahkanku? Memang sudah dasarnya ibumu itu penyakitan, makanya dia cepat mati." "Ibu!" sentak Fazar menaikan nada. Sungguh, tangannya gatal untuk menampar wajah angkuh Ajeng. Akan tetapi, Amanda yang datang bersama Marvel ke ruang tamu, segera menegur sikap kurang ajar Fazar pada ibunya. "Mas, apa hakmu membentak ibuku?!" "Dia
"Untuk apa kamu datang ke sini?"Fazar bertanya pada Kaiden yang duduk di sebelahnya. Kini mereka berdua sedang duduk menunggu di depan ruang operasi. Sementara, Marni sedang menjalani pemeriksaan di dalam sana."Ayah menyuruhku datang ke mari. Dia khawatir pada keadaanmu," jawab Kaiden tanpa menatap Fazar, sedangkan yang ditatap hanya menatap lurus ke depan.Raut wajahnya jelas dipenuh kebimbangan.Mendengar jawaban itu, Fazar mendengkus. "Lucu sekali. Setelah sekian lama si tua Bangka itu mengkhawatirkanku.""Hei, Naren. Sopanlah sedikit. Bagaimanapun dia ayah kita," tegur Kaiden menasehati.Sungguh, tidak ia sangka, meski Fazar sudah memiliki anak dua, tetapi sifat kekanakannya masih saja belum sirna.Di sisi lain, Fazar memilih tidak membalas. Bukan tidak ingin, tetapi ia sedang malas untuk berdebat. Pada akhirnya Kaiden akan selalu membela Hendra. Meski tahu bahwa apa yang dilakukan sang ayah salah, Kaiden selalu ada di kubun
"Apa kubilang?" sentak Fazar dengan nada suara tinggi.Meski demikian Amanda masih bersikap santai. Dengan tenang, ia membalas. "Aku menghentikan biaya pengobatan ibumu.""Kenapa?" tanya Fazar menahan kekesalan dan rasa frustrasi."Sudah kubilang biaya pengobatannya mahal.""Mahal?" ulang Fazar tidak percaya."Sebelumnya kamu tidak pernah mengeluhkan masalah ini, Amanda.""Memang.""Lalu? Kenapa kamu menghentikan pengobatannya? Kamu tahu bahwa ibuku sangat membutuhkan perawatan ini untuk bertahan hidup. Dan lagi, ini bukan seperti kamu membayarnya biaya pengobatan kelas atas. Ini hanya pengobatan biasa. Kenapa kamu tega sekali, Amanda?" rancau Fazar mengeluarkan uneg-uneg di hatinya.Oh Tuhan ... tidak bisakah sekali saja hidupnya baik tanpa ada masalah?Dulu saat masih menjadi Naren yang seorang pewaris kaya, Fazar dikhianati oleh Cinta yang hanya melihatnya dari harta dan kekuasaan. Sekarang pun saaat m
"Eungg ...." Fazar melenguh dari tidurnya. Dia menggeliat dengan mengerjapkan mata untuk menyesuaikan diri dengan cahaya terang benderang. Beberapa saat kemudian, Fazar pun terjaga. Sambil duduk di ranjang ia mengamati sekitar. Satu pengakuan terlintas di benaknya saat menya
Flashback ....Fazar mengamati seorang gadis yang tengah dikelilingi tiga orang preman berbadan besar."Sedang apa, Neng? Jalan-jalan sendirian tengah malam seperti ini. Memang mau ke mana? Biar Abang antarkan."Salah satu dari mereka mulai melayangkan rayuan. Ses
"Tumben kamu datang menemuiku, Naren? Ada apa?"Kaiden membawa Fazar masuk ke ruangannya setelah insiden tegang di lobi tadi.Fazar duduk di depan sang kakak, tatapan matanya menyorot tak suka. Ada setitik jejak Kebencian di sana. Tanpa berbasa-basi lagi ia langsung memberitah
Selalu, lagi dan lagi Fazar dipaksa untuk menerima perlakuan kejam Amanda yang memperbudaknya. Di pesta ulang tahun Marvel hari ini ia diminta ikut bantu-bantu membagikan minuman pada para tamu undangan. "Eh, lihat bukannya pria itu suami pertamanya Amanda?!" Bisikan dari seorang tamu menyapa inde












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews