Se connecterBacaan dewasa area 21+ Semua orang tahu bahwa Amanda telah mengkhianati Fazar dengan melakukan POLIANDRI. Kegilaannya akan harta dan kekuasaan sosial membuat Amanda melakukan tindakan tercela dengan menikah siri bersama pria lain yang jauh lebih tampan dan muda dari suaminya. Akan tetapi, saat pengkhianatan itu terus berlanjut, identitas asli suaminya terbongkar. Siapa sangka jika Fazar adalah putra tunggal pemilik EXCO Group, perusahaan besar tempat Amanda berkerja. Lalu, apa yang membuat suaminya itu merahasiakan jati dirinya sendiri?
Voir plusProlog
New York, 12. November 2018 – Die Nacht, in der die Valentinos bluteten. Der Regen prasselte wie Kugeln auf das Dach der alten Kathedrale St. Salvatore. Drinnen roch es nach Weihrauch, kaltem Stein und frischem Blut. Luciano Valentino kniete vor dem Altar, die Hände gefesselt mit silbernem Draht. Sein weißes Hemd war rot durchtränkt. Vor ihm stand der Mann, den ganz Amerika für tot hielt – sein eigener Bruder, Marco „The Ghost“ Valentino. „Du hast den Pakt gebrochen“, flüsterte Marco, die Stimme leise wie ein Gebet. „Eine Tochter. Du hast eine Tochter gezeugt, obwohl du wusstest, was das bedeutet.“ Luciano lachte heiser, Blut lief ihm aus dem Mundwinkel. „Sie wird euch alle vernichten. Sie ist kein Fluch. Sie ist das Ende.“ Marco hob die Pistole. Die Mündung küsste Lucianos Stirn. „Dann soll sie kommen und es versuchen.“ Ein Schuss hallte durch das Gotteshaus. Die Kerzen flackerten. Und irgendwo in Europa öffnete ein sechsjähriges Mädchen mit rabenschwarzem Haar in genau dieser Sekunde die Augen, als hätte sie den Schuss gehört. Sie hieß Liliana. Und die Welt hatte gerade ihren Untergang geboren. Rom, Gegenwart Der Regen in Rom war anders als in New York. Sanfter. Verlogener. Liliana Valentino – oder wie sie seit siebzehn Jahren hieß: Lila Rossi – stand unter dem Vordach des kleinen Antiquariats in Trastevere und zündete sich eine Zigarette an, die sie eigentlich längst aufgegeben hatte. Sie trug einen schwarzen Trenchcoat, der zu teuer für eine einfache Übersetzerin war. Darunter ein enges dunkelrotes Kleid, das ihre Figur betonte, ohne billig zu wirken. Ihre langen schwarzen Haare waren zu einem losen Zopf gebunden, aus dem sich einzelne Strähnen gelöst hatten, die ihr ins Gesicht fielen. Die Männer, die an ihr vorbeigingen, starrten länger als nötig. Sie bemerkten nie die Narbe hinter ihrem linken Ohr – ein Andenken an die Nacht, in der man sie aus Amerika fortgeschafft hatte. Ihr Telefon vibrierte. Unbekannte Nummer. Sie ging ran. Das tat sie immer. Neugier war ihre größte Schwäche. „Pronto?“ Stille. Dann eine tiefe, raue Stimme, die klang, als wäre sie durch tausend Zigaretten und noch mehr Sünden gegangen. „Du bist schwer zu finden, Liliana.“ Ihr Körper reagierte, bevor ihr Verstand es konnte. Ein kalter Schauer lief ihr über den Rücken. Diese Stimme... sie kannte sie nicht. Und doch fühlte sie sich vertraut. Gefährlich vertraut. „Falsche Nummer“, antwortete sie kühl und wollte auflegen. „Dein Vater hat vor acht Jahren nicht bei einem Autounfall sterben. Er wurde hingerichtet. Und deine Mutter... sie hat sich nicht das Leben genommen.“ Lilas Finger erstarrten am Telefon. „Wer zur Hölle bist du?“ Ein leises, dunkles Lachen. Es klang viel zu schön für einen Mann, der solche Dinge sagte. „Jemand, der dich seit siebzehn Jahren beobachtet. Jemand, der zugesehen hat, wie du in Florenz Jura studiert hast. Wie du in Paris Sprachen gelernt hast. Wie du versucht hast, normal zu sein. Niedlich.“ Lilas Herz hämmerte gegen ihre Rippen. Sie drehte sich um, suchte die Straße ab. Niemand Auffälliges. Und doch spürte sie es – Blicke. Viele Blicke. „Wenn das ein kranker Scherz sein soll–“ „Heute Nacht kommt ein schwarzer Maybach. Steig ein. Oder die Männer, die gerade dein Appartement durchsuchen, werden nicht nur deine Unterwäsche finden.“ Klick. Die Leitung war tot. Lila starrte auf ihr Handy. Ihre Hände zitterten nicht. Das machte ihr mehr Angst als alles andere. Sie hatte schon als Kind gelernt, dass echte Angst sich ruhig anfühlte. Sie zog ein zweites Prepaid-Handy aus der Innentasche ihres Mantels und wählte eine Nummer, die sie seit Jahren nicht mehr benutzt hatte. Eine alte Frau ging ran. Stimme brüchig. „Nonna... sie haben mich gefunden.“ Die alte Frau schwieg einen Moment. Dann, mit der Resignation von jemandem, der schon lange auf diesen Anruf gewartet hatte: „Dann lauf nicht, bambina. Die Valentinos laufen nie. Sie töten oder sie sterben.“ Lila stand noch zehn Minuten im Regen, bevor der Maybach kam. Schwarz. Getönte Scheiben. Kein Nummernschild. Die hintere Tür öffnete sich von allein. Auf dem Rücksitz saß ein Mann, der aussah, als hätte Gott beschlossen, die Sünde zu personifizieren. Dunkles Haar. Graue Augen, die zu kalt waren, um menschlich zu sein. Ein perfekter Dreitagebart. Maßanzug, der wahrscheinlich mehr kostete als ihre gesamte Wohnungseinrichtung. Eine dünne Narbe zog sich von seinem linken Mundwinkel bis zum Kiefer – als hätte jemand versucht, ihn zum Lächeln zu zwingen und dabei versagt. Damien Moretti. Er sah sie an, als hätte er sie schon nackt gesehen. Als wüsste er genau, wie sie klang, wenn sie Angst hatte. Und wie sie klang, wenn sie nicht mehr aufhören konnte zu schreien. „Liliana“, sagte er leise. Seine Stimme war dieselbe wie am Telefon. Lila blieb im Regen stehen. Wasser lief ihr übers Gesicht wie Tränen, die sie sich nicht erlaubte. „Und wer zur Hölle bist du, dass du meinen Namen so aussprichst, als würde er dir gehören?“ Ein langsames, gefährliches Lächeln breitete sich auf Damiens Lippen aus. „Weil er das tut. Seit dem Tag, an dem ich dich aus dem brennenden Haus deines Vaters getragen habe. Du warst sechs. Du hast geweint. Und ich habe beschlossen, dass du mir gehörst.“ Er streckte die Hand aus. Lang. Kräftig. Mit frischen Knöcheln, als hätte er erst vor Kurzem jemanden geschlagen. „Steig ein, Principessa. Die Hölle wartet nicht.“"Aku ingin bertemu dengan Cerry dan Ferro."Untuk sekian kalinya, Fazar meminta pada Amanda. Sejak diusir dari rumah tiga hari yang lalu, ia berusaha untuk menemui anaknya. Fazar sangat khawatir, mengingat pertemuan terakhir mereka, baik Ferro dan Cerry menangis histeris.Akan tetapi, permintaannya hanya ditanggapi dengan Amanda yang sibuk menyuapi Marvel buah-buahan potong. Sikapnya itu jelas sekali menunjukkan bahwa mereka mengacuhkan keberadaan Fazar. Seakan-akan dia ini makhluk tidak kasar mata.Merasa geram, Fazar pun menyentak. "Amanda, kamu mendengarku? Tolong, pertemukan aku dengan anak-anak."Brak!Amanda menghentakan garpu di meja dengan kuat. Wanita berusia 27 tahun itu lalu berdiri dan menatap nyalang suami pertamanya."Kamu tidak bisa bertemu dengan anak-anak. Sebaiknya kamu pergi saja, sana!" usir Amanda menunjuk pintu keluar."Jangan keterlaluan, Amanda. Aku ini ayah mereka," jawab Fazar tidak kalah bengis.
"Ah, akhirnya si beban itu mati juga." Setelah pemakaman Mbok Marni, Fazar pulang ke rumah bersama anak-anaknya. Sungguh, amarah dalam dirinya semakin bergejolak saat mendengar pernyataan kejam dari sang ibu mertua. "Ini tidak akan terjadi jika saja ibu tidak mendesak Mbok Marni." Fazar menatap tajam Ajeng setelah menyuruh kedua putra-putri kembarnya naik ke atas. Akan merusak mental mereka jika Fazar kelepasan marah. Sudah cukup dengan tingkah Amanada yang mencontohkan hal tidak baik dengan menjalani Poliandri. Ajeng yang sedang duduk di sofa ikut tersulut emosi. "Lho, kenapa kamu menyalahkanku? Memang sudah dasarnya ibumu itu penyakitan, makanya dia cepat mati." "Ibu!" sentak Fazar menaikan nada. Sungguh, tangannya gatal untuk menampar wajah angkuh Ajeng. Akan tetapi, Amanda yang datang bersama Marvel ke ruang tamu, segera menegur sikap kurang ajar Fazar pada ibunya. "Mas, apa hakmu membentak ibuku?!" "Dia
"Untuk apa kamu datang ke sini?"Fazar bertanya pada Kaiden yang duduk di sebelahnya. Kini mereka berdua sedang duduk menunggu di depan ruang operasi. Sementara, Marni sedang menjalani pemeriksaan di dalam sana."Ayah menyuruhku datang ke mari. Dia khawatir pada keadaanmu," jawab Kaiden tanpa menatap Fazar, sedangkan yang ditatap hanya menatap lurus ke depan.Raut wajahnya jelas dipenuh kebimbangan.Mendengar jawaban itu, Fazar mendengkus. "Lucu sekali. Setelah sekian lama si tua Bangka itu mengkhawatirkanku.""Hei, Naren. Sopanlah sedikit. Bagaimanapun dia ayah kita," tegur Kaiden menasehati.Sungguh, tidak ia sangka, meski Fazar sudah memiliki anak dua, tetapi sifat kekanakannya masih saja belum sirna.Di sisi lain, Fazar memilih tidak membalas. Bukan tidak ingin, tetapi ia sedang malas untuk berdebat. Pada akhirnya Kaiden akan selalu membela Hendra. Meski tahu bahwa apa yang dilakukan sang ayah salah, Kaiden selalu ada di kubun
"Apa kubilang?" sentak Fazar dengan nada suara tinggi.Meski demikian Amanda masih bersikap santai. Dengan tenang, ia membalas. "Aku menghentikan biaya pengobatan ibumu.""Kenapa?" tanya Fazar menahan kekesalan dan rasa frustrasi."Sudah kubilang biaya pengobatannya mahal.""Mahal?" ulang Fazar tidak percaya."Sebelumnya kamu tidak pernah mengeluhkan masalah ini, Amanda.""Memang.""Lalu? Kenapa kamu menghentikan pengobatannya? Kamu tahu bahwa ibuku sangat membutuhkan perawatan ini untuk bertahan hidup. Dan lagi, ini bukan seperti kamu membayarnya biaya pengobatan kelas atas. Ini hanya pengobatan biasa. Kenapa kamu tega sekali, Amanda?" rancau Fazar mengeluarkan uneg-uneg di hatinya.Oh Tuhan ... tidak bisakah sekali saja hidupnya baik tanpa ada masalah?Dulu saat masih menjadi Naren yang seorang pewaris kaya, Fazar dikhianati oleh Cinta yang hanya melihatnya dari harta dan kekuasaan. Sekarang pun saaat m
"Eungg ...." Fazar melenguh dari tidurnya. Dia menggeliat dengan mengerjapkan mata untuk menyesuaikan diri dengan cahaya terang benderang. Beberapa saat kemudian, Fazar pun terjaga. Sambil duduk di ranjang ia mengamati sekitar. Satu pengakuan terlintas di benaknya saat menya
Flashback ....Fazar mengamati seorang gadis yang tengah dikelilingi tiga orang preman berbadan besar."Sedang apa, Neng? Jalan-jalan sendirian tengah malam seperti ini. Memang mau ke mana? Biar Abang antarkan."Salah satu dari mereka mulai melayangkan rayuan. Ses
"Tumben kamu datang menemuiku, Naren? Ada apa?"Kaiden membawa Fazar masuk ke ruangannya setelah insiden tegang di lobi tadi.Fazar duduk di depan sang kakak, tatapan matanya menyorot tak suka. Ada setitik jejak Kebencian di sana. Tanpa berbasa-basi lagi ia langsung memberitah
Selalu, lagi dan lagi Fazar dipaksa untuk menerima perlakuan kejam Amanda yang memperbudaknya. Di pesta ulang tahun Marvel hari ini ia diminta ikut bantu-bantu membagikan minuman pada para tamu undangan. "Eh, lihat bukannya pria itu suami pertamanya Amanda?!" Bisikan dari seorang tamu menyapa inde
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentaires