Home / Romansa / Suamiku Duda Bisu / Bab 1. Perawan Tua

Share

Suamiku Duda Bisu
Suamiku Duda Bisu
Author: Liani April

Bab 1. Perawan Tua

Author: Liani April
last update publish date: 2026-01-05 13:57:54

Liora menghentikan gerakan tangannya saat pisau masih menempel di bawang merah yang setengah terpotong.

“Apa?”

“Kamu mau enggak menikah dengan lelaki bisu?” ulang Tante, santai, seolah baru saja menanyakan menu makan malam.

Aroma bawang yang menyengat membuat mata Liora perih, tapi bukan itu yang membuatnya tercekat. Kalimat Tante-lah yang membuat kepalanya mendengung. Lelaki bisu?

Beberapa hari terakhir, topik pernikahan memang menjadi menu wajib percakapan mereka. Tante seakan kehabisan bahan obrolan lain selain umur Liora yang kini genap tiga puluh tahun dan statusnya yang masih melajang.

Tiga puluh tahun. Angka yang menurut Tante, sudah cukup untuk melabeli seorang perempuan sebagai “perawan tua.”

Padahal Liora bukan perempuan yang menutup diri. Ia punya banyak teman, ramah, dan mudah bergaul. Lelaki maupun perempuan. Hanya saja, dari sekian banyak pertemanan itu, tak satu pun berujung pada hubungan serius.

Teman-temannya sudah menikah. Beberapa bahkan sudah bercerai. Sementara Liora masih berdiri di titik yang sama. Melajang.

Bagi Tante, itu masalah besar.

“Kamu dengar kan, Li?” Tante menyandarkan tubuh di ambang dapur. “Tahun ini kamu berumur tiga puluh. Tante enggak mau nanti kamu menyesal.”

Liora menarik napas panjang. Ia tidak menjawab, kembali mengupas bawang dengan gerakan lebih lambat.

Bukan karena ia tidak ingin menikah. Ia ingin. Sangat ingin. Hanya saja, ia ingin menikah dengan orang yang tepat.

Dan sejauh ini, pilihan Tante selalu jauh dari kata “tepat.”

Kemarin lusa, Liora dijodohkan untuk jadi istri kedua Pak Lurah. Pekan lalu, dijodohkan dengan teman bule Tante yang depresi karena ditinggal pacar. Bulan lalu, dengan lelaki manja anak mami.

Sekarang… lelaki bisu.

“Apa bisa kita bahas nanti saja, Tante?” Liora mencoba mengulur waktu.

“Enggak,” Tante memotong cepat. “Kali ini kamu harus dengar.”

Liora mendesah, lalu menoleh. “Kali ini dengan siapa lagi?”

“Kenalan pamanmu. Tante pernah bertemu sekali. Dia lelaki yang baik.”

Baik.

Dua informasi. Lelaki bisu. Baik.

Itu saja.

“Demi Tuhan, Tante,” Liora berusaha tersenyum tipis. “Aku harus menyelesaikan masakan ini sebelum Paman berangkat kerja.”

Sejak kedua orang tuanya meninggal, Liora tinggal bersama Paman dan Tante. Mereka menjadi tempatnya bergantung. Sebagai balas budi, Liora mengambil alih urusan dapur. Karena Tante tidak begitu mahir dengan kegiatan memasak atau semacamnya.

Tante tidak bergerak. Tatapannya justru makin tajam.

“Kamu selalu begitu setiap Tante mengenalkan lelaki padamu.”

Karena Liora memang tidak ingin dijodohkan.

“Harus bagaimana lagi supaya kamu mengerti,” suara Tante meninggi, “kamu sudah pantas menikah.”

Pisau itu akhirnya diletakkan. Liora menyerah menghindar.

“Aku tahu, Tante.”

“Terus kenapa kamu belum menikah?”

“Karena belum ada yang pantas.”

Hening.

Tante menghela napas panjang. “Dari semua lelaki yang Tante kenalkan, enggak ada satu pun yang menurutmu pantas?”

Liora menggeleng pelan. Ia tidak pernah berani jujur soal penilaiannya. Ia menghormati Tante, tapi ia juga tahu tidak ada satu pun yang membuat hatinya bergerak.

“Kalau begitu, coba lelaki yang sekarang ini. Tante yakin kamu akan suka.”

Ah, yang terakhir kemarin juga nadanya begitu. Liora jadi tidak mempercayai pilihan Tante lagi. Hasil akhirnya akan selalu sama.

“Atau, kalaupun nggak menikah, setidaknya carilah pekerjaan.” Kalimat itu diucapkan sambil lalu, tapi berhasil membuat Liora mematung di tempat.

“Selama ini Tante capek menanggapi omongan para tetangga tentangmu. Enggak menikah, nggak bekerja, apalagi kuliah. Setidaknya carilah kesibukan, jangan hanya diam sambil melukis-lukis gambar nggak jelas,” ucap Tante culas.

Bukan mau Liora jadi orang menyedihkan yang hanya jadi beban Paman maupun Tante.

Setahun terakhir ini Liora sudah berusaha melamar ke banyak lowongan pekerjaan, tapi tidak ada satu pun panggilan masuk kepadanya.

Bila menyangkat pernikahan, Liora bisa saja mengelak. Tapi tentang tak punya kerja, entah kenapa itu mengusik hati terdalamnya.

Saat itu, pembicaraan mereka di dapur kedengaran Paman hingga membuatnya datang ke tempat itu. Dari gelagat Paman, nampaknya ia menyimak pembicaraan mereka dari awal. Sampai Liora kehilangan kata-kata dan menunduk menyembunyikan wajahnya.

“Jangan pikirkan omongan tetangga. Paman nggak keberatan tentang kamu nggak punya pekerjaan ataupun belum menikah.”

Di rumah ini, Paman selalu jadi pendukung Liora. Seorang yang bertindak jadi pengganti almarhum Papa.

“Huh, kamu selalu memanjakan Liora. Makanya dia bisa bersantai begitu, padahal umurnya sudah nggak muda lagi,” protes Tante dengan pipi menggembung menahan amarah.

“Pelan-pelan, Sayang. Jangan memaksa Liora begitu. Oke?”

Tante nampak tidak sependapat. Ia menghentakkan kaki dan meninggalkan dua orang itu di dapur. Tante tahu, ia tidak pernah bisa menang melawan Paman.

Hening sesaat. Membiarkan Liora menata hati dan mulai mengangkat lagi wajahnya.

Paman tersenyum pada Liora yang mencari kedalaman mata yang damai miliknya.

“Tantemu nggak bermaksud buruk,” ujarnya tenang. “Enggak ada salahnya berkenalan dulu dengan lelaki ini,” lanjut Paman lagi.

Liora terdiam. Jika Paman sudah bicara, ia hampir tak pernah membantah.

“Kalau kamu setuju, Paman akan atur pertemuan kalian.”

Liora merasa terpojok. Entah seberapa besar pesona lelaki bisu itu hingga bisa membuat Paman dan Tante begini kompaknya ingin menjodohkan dengan Liora.

“Tolong beri aku waktu untuk berpikir,” pinta Liora akhirnya.

Ia butuh waktu. Ia tidak bisa berpikir jernih sekarang. Ia masih trauma dengan lelaki yang dikenalkan Tante tempo hari. Dia berjanji dengan dirinya, tidak akan mau dipaksa berkenalan seperti itu lagi. Dia berhak memiliki lelaki idaman.

Bicara soal idaman, Liora tentu sudah menyukai seorang lelaki yang menjadi barista di salah satu cafe tak jauh dari rumahnya.

Namanya Niro.

Dia lelaki innocent yang terbilang ramah. Hampir setiap Liora melihatnya, lelaki itu selalu tersenyum dengan garis tawa yang melengkung ke atas. Setiap kata yang keluar darinya terasa tertata, menenangkan.

Selama ini ia memendam perasaannya pada Niro. Apa mungkin kalau ia menyatakan perasaannya dan bersambut, Paman dan Tante akan berhenti menjodohkan dengan Lelaki Bisu itu?

Sepertinya hal itu layak dicoba.

Tinggal memikirkan bagaimana caranya menyatakan perasaan pada Niro.

BERSAMBUNG

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
tri anna saleha
bagus thor bikin penasaran
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Suamiku Duda Bisu   Bonus Part : Kinara dan Niro

    Bonus Part : Kinara dan NiroKinara sedang memeriksa seorang ibu hamil yang datang sendirian sore itu. Mereka duduk saling berhadapan di ruang praktik yang mulai lengang, sebab pasiennya memang sudah hampir habis.Kinara menuliskan resep obat dengan rapi di atas meja, lalu bertanya sekadar basa-basi, seperti yang biasa ia lakukan untuk mencairkan suasana.“Bunda datang sendiri? Suaminya enggak ikut?”Wanita berambut kepang itu tersipu. Bukannya menjawab biasa, ia malah terkikik pelan seolah menyimpan sesuatu yang lucu.Kinara mengangkat alis, heran.“Kenapa?”Wanita itu mendekat sedikit, lalu berbisik seperti sedang membagikan rahasia.“Suamiku malu datang ke sini, Bu Dokter.”“Malu?” Kinara tertawa kecil. “Memangnya kenapa?”Wanita itu melirik ke kiri dan kanan, memastikan tak ada orang lain, lalu mengeluarkan ponselnya. Ia menggeser-g

  • Suamiku Duda Bisu   Bonus Part : Harra dan Harri

    Bonus Part : Harra dan HarriHarra dan Harri kini sudah berusia tujuh tahun. Usia di mana energi mereka seolah tidak pernah habis.Rumah yang dulu terasa luas kini sering terasa sempit oleh tawa, langkah kaki kecil, dan suara pertengkaran sepele yang cepat datang, cepat pula pergi.Sejak kecil, Liora menyadari keduanya mewarisi bakat menggambar darinya. Terutama Harri, yang bisa duduk lama hanya untuk menorehkan garis-garis kecil di kertas. Harra tak kalah berbakat, meski ia lebih suka menggambar bunga, rumah, dan wajah orang-orang yang ia cintai.Liora senang melihat bakat itu tumbuh. Ia bahkan menyediakan meja khusus, kotak alat gambar, dan dinding papan tulis kecil di ruang bermain mereka.Sayangnya, dua anak itu tetap menganggap tembok rumah sebagai kanvas paling menarik.Baru minggu lalu Liora mengecat ulang salah satu dinding ruang keluarga yang dipenuhi cor

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 159. Hanya Tahu Mencintai

    Kairan sedang berada di ruang kerjanya ketika ponselnya bergetar. Nama Hilda muncul di layer. Nomor pribadi yang jarang sekali digunakan kecuali dalam keadaan mendesak.Begitu ia mengangkat, suara panik langsung menyambutnya.“Pak, ketuban Ibu pecah!”Kairan seketika berdiri. Kursinya terdorong ke belakang tanpa ia pedulikan.“Bagaimana keadaan Liora sekarang?”“Ibu sudah dibawa Maya ke rumah sakit, Pak. Sepertinya Ibu mau melahirkan hari ini!”Kairan tidak menunggu lebih lama. Ia meraih kunci mobil di meja, lalu berjalan cepat keluar ruangan.Selama berbulan-bulan terakhir ia sudah mempersiapkan segalanya untuk kelahiran kedua bayi kembar mereka. Ia bahkan jarang datang ke kantor. Hari ini saja ia memaksa datang untuk menyelesaikan satu urusan penting. Dan justru hari ini pula kedua bayi itu memilih lahir.“Aku langsung ke rumah sakit,” katanya cepat melalui telepon. “Tolong siapkan tas bayi dan baju Liora. Semua yang sudah ki

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 158. Mengerti

    Sudah lama Kinara tidak menginjakkan kaki di kafe tempat Niro dulu bekerja. Tempat itu menyimpan terlalu banyak kenangan, dan selama ini ia tak merasa perlu kembali. Namun siang tadi, sebuah telepon dari salah satu pelayan lama di sana membuatnya berubah pikiran.Pria itu mengatakan Niro ada di kafe itu.Kinara yang beberapa hari terakhir kesulitan menghubungi Niro langsung memutuskan datang. Ada kecemasan yang sejak kemarin menempel di dadanya, dan ia tahu ia tidak akan tenang sebelum melihat sendiri keadaan lelaki itu.Begitu mendorong pintu kafe, aroma kopi dan musik pelan langsung menyambutnya. Kinara berdiri sejenak di ambang pintu, matanya berkeliling mencari sosok yang ia tuju. Tidak sulit menemukannya.Niro duduk di kursi bar, menghadap ke meja bartender. Bahunya sedikit membungkuk, kepalanya tertunduk. Di depannya berdiri pria yang tadi menelepon Kinara.Kinara melangkah mendekat.Ia duduk di kursi kosong di samping Niro tanpa berka

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 157. Menyayangi

    Kairan memberi kabar bahwa pesawat pribadi yang ia tumpangi akan segera mendarat.Ia datang bersama Yann, dan Niro ikut dalam penerbangan itu. Dari udara, Niro sempat menghubungi Oma, memberi tahu bahwa mereka hanya tinggal beberapa menit lagi sebelum tiba.Di bandara, Liora sudah menunggu sejak lama.Ia tidak sanggup menunggu di rumah. Duduk diam hanya membuat pikirannya berlari ke mana-mana. Maka ia memilih berdiri di dekat pintu kedatangan, mondar-mandir kecil sambil terus menatap pintu otomatis yang belum juga terbuka.Keluarga Kairan ikut berkumpul di sana. Namun Liora nyaris tidak mendengar percakapan mereka. Fokusnya hanya satu, Kairan.Rasa cemas bercampur harap membuat napasnya pendek-pendek.Rupanya mereka bukan satu-satunya yang menunggu.Beberapa paparazi sudah berjajar, kamera siap mengarah ke pintu kedatangan. Kisah Kairan yang disebut selamat dari tragedi pesawat membuat namanya kembali menjadi sorotan. Publik ingin tah

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 156. Liora Harus Tahu

    Kairan sudah berada di jalanan.Dengan kedua kaki yang mulai gemetar, ia berjalan menyusuri jalan luas yang gelap dan sepi. Tidak ada lampu, tidak ada suara kendaraan, hanya angin malam yang menggesek tanah tandus.Langkah demi langkah ia paksa.Ia tidak tahu ke mana harus pergi. Ia hanya tahu ia harus terus berjalan sampai menemukan seseorang. Apa saja. Siapa saja.Namun jalan itu seperti tidak berujung.Kairan semakin limbung. Tenggorokannya kering, perutnya kosong, kepalanya berdenyut hebat karena luka yang belum tertangani. Dunia terasa berputar.Akhirnya, tubuhnya menyerah.Ia ambruk di tengah jalan, terlentang di atas aspal yang masih menyimpan sisa panas siang tadi.Napasnya berat.Matanya menatap langit yang luas, dipenuhi bintang yang berhamburan seperti taburan cahaya kecil.Seandainya keadaan berbeda, ia mungkin akan menikmati pemandangan itu. Mungkin ia akan mengingat malam ketika ia dan Liora berdiri

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 149. Kejutan

    “Liora, aku lelah dengan Niro. Menurutmu, apa aku sebaiknya putus saja?”Pertanyaan itu membuat Liora menatap sahabatnya dalam-dalam. Ia tidak langsung menjawab. Ia ingin memastikan kata-katanya nanti tidak sekadar terdengar, tetapi benar-benar sampai ke hati Kinara.“Aku yakin,” uc

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 147. Hadiahi Aku Ciuman

    Usia kehamilan Liora kini memasuki bulan ketujuh.Tidak ada masalah berarti sejauh ini. Semua berjalan baik, jauh lebih tenang dibanding pengalaman pahit yang pernah mereka lalui sebelumnya. Justru karena pengalaman itulah, Liora kini jauh lebih berhati-hati. Ia menjaga tubuhnya, pikiranny

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 146. Cantik dan Baik

    Kairan memeluk Liora dari belakang, keduanya berdiri di balkon rumah dengan udara sore yang mulai dingin menyusup ke sela pakaian.Langit sedang menampilkan warna oranye keemasan. Sore tadi Liora bilang ia ingin melihat matahari terbenam dari balkon, dan Kairan langsung menuruti. Kini Lior

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 145. Kue dan Kado

    Waktu bergerak maju tanpa terasa.Seperti halnya Kairan yang semakin tenggelam dalam kesibukan KALA, Liora pun mulai menemukan ritmenya sendiri setelah studio gambarnya resmi dibuka.Awalnya ia tidak menyangka, tempat kecil yang ia bangun dari luka dan kesepian itu ternyata mampu me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status