แชร์

43. Pemburu

ผู้เขียน: Nona Muda
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-14 23:55:03

Evelyn menatap dokumen di tangannya selama beberapa detik, memaksa otaknya yang genius untuk bekerja di bawah tekanan ekstrem. Dinding esnya yang sempat retak kini harus mengeras kembali secara instan. Dia menolak membiarkan Arthur melihat kepanikan di matanya. Dengan gerakan tenang, Evelyn melangkah maju, meletakkan dokumen-dokumen itu kembali ke atas meja marmer dengan ketukan yang lambat.

"Jika detektif hebatmu ini benar-benar teliti, Arthur," ujar Evelyn, suaranya mengalun datar, jernih, d
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   44. Nenek Jauh Lebih Menakutkan

    Sementara itu, di kamar VIP 502 Rumah Sakit Pusat Kota Manhattan, keheningan malam kembali menguasai ruangan setelah kepergian Evelyn. Hiro masih menyandarkan tubuh jangkungnya di bantal kemewahan dengan ponsel enkripsi yang menyala di tangan kirinya. Jemarinya baru saja selesai mengetik pesan teks yang berhasil mengobrak-abrik ketenangan sang dewi bedah di rumahnya.Seringai serigala yang sempat terukir di bibir tegas Hiro mendadak pudar ketika ponsel di genggamannya bergetar panjang. Kali ini, layar ponselnya tidak menampilkan kode enkripsi rahasia dari Marco atau Madam Chloe. Sebuah nama dengan ikon khusus berkedip di sana: Nonna Francesca.Melihat nama itu, nyali sang pewaris tunggal dinasti Rossi yang biasanya tak kenal takut mendadak menyusut. Jika Don Rossi adalah hukum yang absolut di dunia bawah, maka wanita tua ini adalah satu-satunya penguasa mutlak di atas segalanya. Neneknya adalah sosok yang membesarkan dan mengurus Hiro dengan tangan besi berbalut kasih sayang sejak ibu

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   43. Pemburu

    Evelyn menatap dokumen di tangannya selama beberapa detik, memaksa otaknya yang genius untuk bekerja di bawah tekanan ekstrem. Dinding esnya yang sempat retak kini harus mengeras kembali secara instan. Dia menolak membiarkan Arthur melihat kepanikan di matanya. Dengan gerakan tenang, Evelyn melangkah maju, meletakkan dokumen-dokumen itu kembali ke atas meja marmer dengan ketukan yang lambat. "Jika detektif hebatmu ini benar-benar teliti, Arthur," ujar Evelyn, suaranya mengalun datar, jernih, dan sedingin es, "dia seharusnya juga tahu bahwa keluarga Rossi adalah salah satu donatur terbesar bagi yayasan riset kardiovaskular di rumah sakit ini sejak lima tahun lalu." Arthur Sterling tersentak kaku, sementara sang detektif swasta di sampingnya hanya menundukkan kepala samar. Evelyn menatap suaminya lurus-lurus dari balik lensa kacamata peraknya, memancarkan aura superioritas yang mutlak. "Bunga lili itu bukan kiriman romantis, melainkan bentuk intimidasi protokol. Tuan Rossi terluka d

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   42. Hiro Sebenarnya Adalah....

    Hiro berjalan kembali ke arah ranjang kemewahan VIP 502 dengan langkah yang sedikit tertahan. Rasa nyeri di rusuk kirinya berdenyut pelan, sisa dari hantaman punggung Evelyn yang mendesak dadanya tadi. Namun, senyuman puas di wajah tampannya tidak pudar sama sekali. Dia merogoh tas jinjing premium pemberian Madam Chloe di atas nakas, mengambil sebuah ponsel cadangan yang baru, lalu mengaktifkannya.Layar ponsel menyala tipis, langsung menampilkan pemberitahuan sinkronisasi data dari Marco. Informasi mengenai kehancuran bisnis Sterling Group terus bergulir masuk seperti air bah. Aliansi pelabuhan hancur, saham mereka anjlok, dan Arthur Sterling kini sedang dikejar oleh para investor yang murka."Dua minggu," gumam Hiro sembari melemparkan tubuh jangkungnya ke atas ranjang, menatap langit-langit kamar rawat yang sunyi. "Waktu yang lebih dari cukup untuk membuat Arthur Sterling kehilangan segalanya, termasuk istrinya."... Sementara itu, di luar gedung rumah sakit, Dr. Evelyn Crawford

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   41. Hiro Memang Kurang Ajar

    "Kau terlalu percaya diri, Bocah," sahut Evelyn, menolak untuk kalah di hadapan Hiro.Meskipun punggungnya terhimpit pilar beton dan seluruh ruang geraknya dikunci oleh postur tegap setinggi 189 sentimeter milik Hiro, Evelyn tetap menatap lurus ke sepasang mata elang di hadapannya. Napasnya memburu pendek, beradu langsung dengan embusan napas hangat beraroma mint milik pemuda sembilan belas tahun itu. Dinding esnya mungkin berguncang hebat, tetapi sisa keangkuhannya sebagai seorang Kepala Departemen Bedah menolak untuk tunduk begitu saja pada pesona seorang predator malam.Hiro tidak membalas dengan kemarahan. Seringai serigala di bibirnya yang pecah justru semakin melebar, memancarkan kepuasan karena berhasil memicu riak emosi yang begitu pekat dari wanita sedingin Evelyn."Percaya diri adalah bagian dari instingku, Evelyn," bisik Hiro, suara baritonnya merayap rendah, begitu dekat hingga bibirnya nyaris menyentuh permukaan bibir ranum sang dokter bedah. "Dan insting seorang predator

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   40. Kau Terlalu Percaya Diri

    Evelyn mengencangkan cengkeraman tangannya pada tas jinjingnya, mencoba mengusir getaran aneh yang mendadak menyerang dadanya akibat atmosfer intim ruangan ini. Dia melangkah kaku hingga berhenti tepat dua langkah di depan Hiro, menatap pemuda itu dengan pandangan sedingin es."Aku datang ke sini bukan untuk menjengukmu, bocah sialan!" desis Evelyn, suaranya merayap rendah penuh dengan ancaman."Aku datang untuk menegaskan bahwa kelancanganmu sudah berakhir hari ini. Berhenti meneror telepon pribadiku, stop mengirimkan benda-benda konyol ke ruang kerjaku, dan lenyapkan imajinasi gilamu tentang kencan satu malam itu! Jika kau berani mengusik ketenangan hidupku sekali lagi, aku sendiri yang akan memastikan izin tinggal medismu di rumah sakit ini dicabut malam ini juga!"Hiro tidak langsung mendebat atau memasang wajah memelas seperti tadi pagi. Dia justru mengulas seringai serigala yang paling menawan di bibirnya yang pecah.Dengan gerakan lambat dan mantap, Hiro menegakkan tubuh jangku

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   39. Suapi Aku, Dok

    "Bocah sialan itu benar-benar tidak tahu malu," desis Evelyn sekali lagi saat melangkah membelah koridor lantai tiga yang sepi. Langkah kakinya yang dibungkus sepatu stiletto mengetuk lantai marmer rumah sakit dengan irama cepat, menggaungkan seluruh sisa emosi yang bergolak di dadanya.Di sepanjang koridor menuju ruang kerja pribadinya, beberapa dokter residen dan staf administrasi yang berpapasan dengannya refleks menepi. Mereka menundukkan kepala kaku, tidak berani menyapa ketika melihat rahang tegas sang Kepala Departemen Bedah Jantung mengeras sempurna dengan tatapan mata di balik kacamata perak yang sedingin es. Aura intimidasi Evelyn pagi ini benar-benar berada di titik paling membekukan.Evelyn mendorong pintu ruang kerjanya dengan satu sentakan kaku. Aroma wangi dari puluhan karangan bunga lili putih kiriman anak buah Hiro kembali menyergap indra penciumannya, seolah mengejek kekacauan mental yang baru saja dia lalui di ruang operasi. Kehadiran bunga-bunga segar itu sepert

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status