로그인Cahaya hijau kebiruan langsung menyembur dari permukaan batu, membentuk semacam perisai tipis yang menahan seluruh kekuatan petir itu sebelum lenyap begitu saja. Jantung Qin Luxi masih berdegup kencang, tapi kali ini bukan cuma karena takut, ada rasa penasaran yang mulai menggeser rasa ngerinya.Qin Luxi berkedip beberapa kali. Dia bahkan lupa menutup mulutnya. Apa yang selama ini dianggap cerita kosong baru saja terjadi kurang dari sepuluh langkah di depannya."Rambutku... kau bilang itu bahan formasi tadi." Dia menyentuh rambutnya sendiri, masih setengah tidak percaya. "Kenapa harus rambutku?""Karena kau gadis spiritual bawaan," jawab Li Mingzi santai. "Energimu murni, cocok jadi sumber tenaga formasi. Cuma kau yang bisa.""Jadi kau memang sudah merencanakan ini dari awal?""Kau memang ditakdirkan jadi wanitaku," katanya begitu saja, tanpa beban, tangannya terangkat memegang dagu Qin Luxi.Tepat saat itu, sambaran ketiga menyambar, lebih keras dari dua sebelumnya, membuat tanah di
Li Mingzi melepas kemejanya, melipatnya asal, lalu menjejalkannya ke dalam peti mati bersama sehelai rambut Qin Luxi. Tutup peti ditutup dengan bunyi berat, lalu didorongnya masuk ke liang yang sudah digali. Tanah ditimbun kembali, gundukan segar menutupi kayu hitam legam itu.Dia mendirikan batu nisan sederhana, menggores tulisan "Makam Li Mingzi" dengan jarinya sendiri di permukaan batu. Setelah itu digigitnya ujung jari, meneteskan darah merah pekat yang meresap ke dalam ukiran huruf."Nah, selesai." Dia menepuk-nepuk tangan, lalu menoleh dengan wajah polos. "Mau sujud dulu di depan makamku?""Kamu mati saja sana!" semprot Qin Luxi, wajahnya merah padam antara jijik dan geram. Laki-laki ini benar-benar tidak tahu malu, bikin makam sendiri lalu minta disembah seolah itu hal wajar.Li Mingzi tidak marah, malah tertawa kecil. Dia mulai berjalan mengelilingi makam kosong itu, satu putaran, dua putaran, terus sampai sembilan kali. Langkahnya pelan dan teratur, seperti sedang mengikuti p
Qin Luxi menyipitkan mata, menatap Li Mingzi curiga. "Kau sengaja panggil mereka, kan? Biar bisa jual gaya jadi pahlawan?""Buat apa? Aku tidak sempat main drama begitu." Li Mingzi mendengus, tangan tetap di saku celana, santai seolah tidak ada tujuh preman berdiri di depan mereka.Si rambut merah yang jadi pemimpin geram melihat keduanya malah asyik berdebat sendiri, seolah dia tidak ada. Dia membungkuk mengambil batu sebesar kepalan tangan dari tanah, mengangkatnya tinggi."Berani sekali kalian cuekin aku!" Dia mengarahkan batu itu ke Qin Luxi, wajahnya merah padam."Aku tidak percaya kau berani," kata Li Mingzi datar, tanpa ekspresi."Coba saja lihat!""Aku tetap tidak percaya," ulangnya lagi, kali ini sambil menguap kecil.Ucapan itu seperti sulut api ke bensin. Si rambut merah mengalihkan lemparan, membidik Li Mingzi langsung. Batu melesat cepat."Awas!" Qin Luxi refleks mengulurkan tangan hendak menahan, tapi jaraknya terlalu jauh, tubuhnya kaku di tempat.Li Mingzi hanya membuk
Li Mingzi buru-buru menangkap tubuh Kepala Kuil sebelum benar-benar ambruk ke tanah. Berat badan seratus kilo itu nyaris membuatnya goyah."Loh, kok malah sujud? Bangun, bangun." Dia menariknya berdiri, agak kewalahan.Kepala Kuil masih gemetar, tidak berani mengangkat wajah. "Pelindung... hamba tidak tahu ada tamu agung datang. Mohon maafkan kelancangan hamba."Qin Luxi berdiri di belakang, memperhatikannya lutut kepala kuil yang gemetar dan dua penjaga yang kabur lari. "Kenapa mereka kabur? Kau kenal kepala kuil ini?" "Barusan," jawab Li Mingzi kalem."Terus kenapa dia sampai segitu takutnya?"Li Mingzi pura-pura batuk sekali. "Mungkin osteoporosis. Orang tua kalau lututnya lemah gampang jatuh begitu. Perlu tandu, biar aman jalan-jalan di kuil." Kepala Kuil yang masih dipegangi malah tambah gemetar mendengar alasan itu, tapi tidak berani membantah sepatah kata pun."Hamba baik-baik saja, Pelindung. Hamba hanya... terkejut." Dia akhirnya berani menegakkan badan sedikit, keringat din
Pukul delapan pagi, Li Mingzi sudah nongkrong di lobi hotel. Kemeja putih, celana panjang, sepatu kulit mengilap, dandanan paling rapi yang pernah dia pakai seumur hidup. Beberapa tamu hotel yang lewat sempat menoleh dua kali, entah karena wajahnya atau karena dia berdiri di situ seperti orang nunggu bus.Tuan Ji muncul dari lift, tampang datar seperti biasa."Mana Qin Luxi?" Li Mingzi celingukan. "Katanya jam segini ketemu.""Nona masih tidur. Baru bangun jam sembilan biasanya." Tuan Ji menjawab cepat, hampir ketus. "Pulang saja dulu sana."Li Mingzi sudah mengeluarkan ponsel, hendak telepon langsung, tapi tangan Tuan Ji lebih cepat mencekal lengannya."Tidak sopan," katanya. "Kau cuma pengawal. Jangan sok akrab sama nona kami.""Ya sudah, aku nyanyi saja sampai dia turun."Belum sempat Tuan Ji nyambung, Li Mingzi sudah berdeham keras-keras di depan pintu masuk hotel yang ramai. Beberapa orang berhenti jalan, ada yang malah nunggu, penasaran mau nyanyi apa pemuda tampan ini."Woi, he
Satu jam kemudian, mobil Qin Luxi berhenti di depan Villa Bukit Kuning. Telinganya masih merah, sisa rasa malu yang belum sepenuhnya hilang. Dia turun sambil menenteng gulungan lukisan, langkahnya cepat menuju ruang tengah tempat Mo Yan biasa berlatih."Dengar-dengar Putra Mahkota Aula Bintang jago kaligrafi," katanya begitu masuk, suaranya dibuat seceria mungkin. "Boleh minta tanda tangan?"Mo Yan mengangkat alis, curiga ini cuma modus untuk mendekatinya. Tapi melihat wajah Qin Luxi yang serius, dia justru merasa lega. Selama ini gadis itu selalu dingin, jadi permintaan seperti ini terasa seperti angin segar. Dia mengambil kuas dengan gaya yang aneh, dipegang seperti pulpen, lalu menggores tulisan di atas kertas."Putra Mahkota Aula Bintang."Qin Luxi mengerjapkan mata, mencoba mencari sisi bagus dari coretan itu. Tidak ada. Garis-garisnya naik turun tidak karuan, beberapa bahkan tembus ke kertas di bawahnya. Ini jelas bukan tulisan orang yang biasa memegang kuas.Dalam sepersekian d
"Kondisi Tuan Besar Ruan memburuk karena sumbatan di meridian Yin," jawab Tabib Su ketus. "Kelembabannya sudah merusak organ dalam. Jarum Pemanggil Jiwa adalah satu-satunya jalan."Li Mingzi menggeleng pelan. "Itu bukan kelembaban biasa."Ruan Yin merasakan jemari Li Mingzi menggenggam tangannya le
Ruan Yin menatap pamannya tak percaya. "Paman! Zhang Wu yang membuat surat utang palsu untuk menipu perusahaan kita!""Akan kuurus nanti," potong Ruan An lagi. "Mulai sekarang urusan grup aku yang ambil alih. Kau masih terlalu muda, terlalu emosional untuk memimpin."Li Mingzi yang sejak tadi diam,
Zhang Wu terjatuh ke samping, kepalanya membentur lantai dengan keras."Kakak masih belum minta maaf," kata Li Mingzi dengan nada polos. Zhang Wu berusaha bangkit, tapi kakinya tidak kuat menopang. Dia meraih meja terdekat untuk berpegangan.Krek!Li Mingzi menginjak kaki Zhang Wu dengan enteng hi
Ruan Yin menghentakkan meja dengan keras, suaranya bergema memenuhi ruangan. "Cukup!"Semua orang terdiam seketika.Anak buah Zhang Wu berhenti di tengah langkah.Ruan Yin berdiri tegak, dadanya naik turun menahan amarah yang meluap. Matanya menatap tajam ke arah Zhang Wu dengan sorot penuh peringa







