تسجيل الدخول"Mas..." Mila masuk dengan Bejo yang melangkah di belakang wanita itu. Di sana sudah ada Saka yang menunggu. Saka berdiri dengan kedua tangan menyilang di dada. Tatapan mata Saka pun terlihat tajam memperhatikan. Bejo pun tak bersuara. Dia hanya memperhatikan kedua majikannya yang bertemu setelah ada hubungan mereka yang tak wajar. Bejo melirik Mila melangkah mendekati Saka. "Katamu malam ini tidak pulang, Mas?" tanya Mila dengan suara yang lembut. "Kenapa memangnya kalau aku pulang?" tanya Saka terlihat tak senang dengan pertanyaan Mila. Bejo pun memilih untuk masuk kamar saja. Dia ingin berganti pakaian tetapi barang belanjaan milik Mila masih ada di tangannya. Terpaksa menunggu sampai ada waktu untuk bicara dengan Mila. "Nggak apa-apa, Mas. Aku senang, hanya saja aku pikir kamu menginap lagi. Tadi kamu bilang begitu Mas." "Aku ingin pulang cepat dan...." Saka meliriknya dan dia tertegun memperhatikan. Tatapan mata mereka bertemu dan Bejo tidak sama sekali men
"Anjiiiiirlah! Tengsin gue. Untungnya nggak ada Edo sama Didi. Kalau ada mereka, mau taro dimana muka gue. Abis kena bully mereka." Bejo menggaruk kepalanya. Dia bingung saat semua karyawan malah melihat ke arahnya. Belum lagi ada beberapa contoh yang benar-benar disodorkan kehadapannya. "Ada yang best sellernya dan ada yang model barunya, Mas. Silahkan mau yang mana. Ini sudah berikut dengan lingerie yang ada di sana!" tunjuk karyawan tersebut dan Bejo mengangguk setelah mengikuti arahan dari wanita itu. "Hah? Oh i... Iya." Bejo seperti terjebak dalam situasi yang sangat tidak dia inginkan. Bejo melirik Mila yang ada di sebelahnya, diam, menunggunya dengan kedua tangan bersilang di dada. Bejo berdecak melihat Mila yang malah santai. Ini sengaja membuat malu dirinya atau gimana? Kenapa malah jadi dia yang kena? Apa bersama dengan Saka, Mila pun seperti ini? Bisa jadi semua pakaian dalam Mila, Saka yang memilihnya. "Yang ini aja!" tunjuk Bejo asal. Jawaban yang ngaw
"Saya anak yatim piatu, Nyonya." Deg Bejo melirik Mila yang duduk di belakang sana mendadak linglung mendengar jawabannya. Sementara Bejo sendiri sudah terbiasa dengan pertanyaan itu. Hanya saja memang Bejo tidak menunjukkan kesendirian dan kesedihannya. "Tidak usah merasa nggak enak, Nyonya. Aman aja!" kata Bejo lebih dulu mendahului ucapan Mila berikutnya. Bejo sudah tau apa yang akan Mila katakan setelah ini. Sudah banyak pengalaman begitu jadi Bejo seolah hafal dengan tanggapan orang-orang setelah tau dia tidak lagi memiliki keluarga. "Maaf ya, Jo." "Santai! Namanya manusia, ada matinya. Kalau hidup terus barang antik namanya," jawab Bejo santai dan fokus pada jalan sedangkan Mila meringis mendengar jawaban dari Bejo. "Kamu nggak sedih, Jo?" "Hidup terus berputar, Nyonya." Singkat saja jawaban Bejo yang membuat Mila mengangguk membenarkan. Ya memang benar, hidup terus berputar. Kalau sedih terus, gimana cara Bejo melanjutkan hidup? Namun jawaban Bejo se
"Pelan, Bejo!" Baru saja membuka kaki, tubuh Mila menegang dan wajah pun sedikit memucat. Sepertinya Mila masih merasakan ketakutan. Bisa jadi sakitnya masih terasa. Tangan Mila sudah sedikit gemetar dan Bejo merasakannya. Satu gerakan Bejo lakukan. Satu hisapan Bejo berikan hingga membuat Mila mendesis menarik nafas. Mila membusungkan dada, sedikit menahan nafas saat mendapatkan serangan darinya. "Bejo kamu keterlaluan!" kata Mila dengan suara lemah mendesis dan terdengar menggoda. Mila kewalahan dengan apa yang ia lakukan dan Bejo semakin tidak memberikan celah untuk Mila. Bejo terus memancing meningkatkankan gairah di tubuh Mila hingga wanita itu semakin gelisah. "Eeuuughhhh...." Mila mengerang kala dua jari Bejo masuk ke dalam lubang senggama yang mulai terbuka, basah, dan lancar dimasukkan. Gerakan jari Bejo bergerak pelan keluar masuk menyentuh G-spot yang membuat tubuh Mila meremang. Bejo pun merinding sebadan-badan. Jarinya merasakan kelembutan dan daging-
"Mas hallo! Mas! Mas tunggu jangan dimatikan dulu!" Mila mendesak kasar kemudian menarik ponselnya kala tak lagi ada jawaban dari Saka. Pria itu mematikan dengan sepihak yang membuat Mila semakin kesal. "Aaagghhhhhhh!" Kedua alis Bejo menukik mendengar suara Mila yang terdengar berisik. Bejo ingin membuka mata tetapi rasanya berat sekali hingga membuat Bejo menikmati lelapnya lagi. BRUGH "Eugh!" Kedua mata Bejo terbelalak kala merasakan perutnya teras engap dan berat seperti tertimpa beras sekarung. Namun setelah diperhatikan, bukan beras yang jatuh ke atas tubuhnya melainkan Mila yang kini sudah duduk di atas perutnya. "Nyonya! Apa yang anda lakukan?" tanya Bejo dengan menatap bingung. Kedua tangan Bejo pun terbuka pasrah memperhatikan. "Pusing, Jo." Kedua alis Bejo terangkat mendengar itu kemudian berusaha untuk membenarkan posisinya agar lebih nyaman tanpa menurunkan tubuh Mila darinya. Gila! Mimpi apa coba? Bangun tidur langsung didudukin sama majikan c
"Puyeng pala gue. Nyoto dulu sama minum es jeruk." "Tumben loe! Biasanya otak loe paling gacor," sahut Edo setelah mendengar keluhan dari Bejo. Baru saja Bejo keluar dari kelasnya. Langkah agak oleng setelah memaksakan untuk tetap berpikir sedangkan raga meminta untuk istirahat setelah semalam lembur. "Bukan apa, ngantuk banget. Gue kurang tidur kayaknya." "Repot! Biasanya juga tidur tinggal tidur. Kita ke basecamp aja yok! Udah lama nggak ngegame. Sibuk banget loe!" sahut Didi dan Bejo menggelengkan kepalanya seraya melangkah menuju kantin. "Nggak bisa, abis makan gue lanjut gawe. Majikan gue nungguin. Loe aja berdua dah! Gue masih banyak tugas tambahan," tolak Bejo. Ingat! Ada yang minta lagi nanti malam. Bejo harus memulihkan staminanya lagi agar bisa lebih perkasa melebihi semalam. Mereka pun mengambil tempat duduk di salah satu meja yang kosong. Bejo melirik banyaknya gorengan dan mengambil salah satu di antaranya. Bejo makan saja seraya memesan soto. "Bu,
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan







