LOGIN"Saya tunggu kamu di halaman belakang sekarang juga, Jo!" Mendapati itu, Bejo pun segera melajukan motornya dengan cepat untuk segera pulang ke rumah. Sampai di rumah pun, segera dia melepas helm tanpa memperdulikan jaketnya. Bejo segera berlari masuk ke dalam rumah dan menemui Mila yang sudah ada di pinggir kolam. Kedua alisnya menukik saat melihat keberadaan Mila di sana. Baru juga Mila sembuh, tapi sudah main air lagi. Apa tidak kapok kemarin sakit sampai panas tinggi? "Nyonya ngapain malam-malam duduk di situ? Lagi belajar jadi duyung?" tanya Bejo yang kini sudah berdiri di belakang Mila. Namun wanita itu tidak sama sekali menoleh kepadanya dan hanya diam memperhatikan air. "Nya, Nyonya kenapa? Kok Nyonya diam aja? Ini Nyonya 'kan?" tanya Bejo sampai terdengar decakan lembut dari Mila. " Kamu kemana saja jam segini baru pulang? Pacaran?" tanya Mila yang kini menoleh memperhatikannya. Alis Bejo terangkat menangkap wajah Mila yang terlihat masih sedikit pucat tapi
Bejo belum membuka pesan dari Mila. Kesibukannya membuat Bejo tidak banyak memiliki waktu untuk itu. Sampai siang dan jam ngampus selesai, masih ada kegiatan lainnya yang kebetulan sekali bisa dia ikuti karena masih free dari pekerjaannya. Keluar ruangan langit sudah mendung. Bejo tentu saja tidak sendiri saat ini. Dia bersama dengan kedua temannya mau mampir dulu di warung soto untuk makan siang yang sudah kesorean. "Begini kalau sok sibuk. Waktunya pulang malah masih banyak banget kegiatan. BTW lo makan dua mangkok, Jo?" tanya Didi dengan wajah yang begitu sangat terkejut sekali setelah melihat Ibu yang punya warung memberikan empat mangkok soto dan yang dua langsung diambil alih oleh Bejo. "Laper gue dari kemarin sore nggak makan. Sekarang udah ketemu sore lagi. Masih bisa berdiri juga udah bagus." "Apanya yang berdiri, Jo?" sahut Edo bercanda. "Leher loe yang berdiri, Do!" celetuk Bejo dan Edo terkekeh mendengar itu. Mereka pun lanjut makan. Bejo hampir lupa kalau
Bejo menarik napas panjang kala merasakan tangan Mila melingkar di tubuhnya. Bejo pun kembali mendengar napas teratur Mila yang menunjukkan bahwa wanita ini sudah kembali nyenyak. Dia sama sekali tidak mengganggu, tidak bertanya dan membiarkan Mila tidur dengan nyenyak. Hanya satu yang menjadi PR untuknya. Jangan sampai dia ikut tertidur dan tidak tau kalau Bibi atau Saka tiba-tiba datang. "Duh mana ngantuk banget lagi gue. Kalau merem alamat ketahuan. Nggak merem, mata gue sepet banget." Bejo berdecak lirih setelah mengatakan itu dan mengusap tangan Mila. Posisinya saat ini terlentang melihat langit-langit kamar. Bejo sama sekali tidak bergerak sampai waktu sudah menunjukan pukul tiga. "Gue pindah kali ya. Ini bentar lagi pagi. Bisa-bisa ketahuan sama Bibi kalau disini terus. Iya lah gue turun aja," gumamnya. Lagian mata sudah sangat berat. Berjam-jam dia menunggu Mila pindah posisi tetapi masih saja dengan posisi yang sama. Alhasil dia malah tidak kuat disuguhkan de
"Apa yang jatuh? Nggak mungkin pesawat yang jatuh dari atas langit 'kan, Bi?" gumam Bejo dan pelan-pelan beranjak dari sana menahan kesakitan di kakinya yang menjalar ke lutut juga pinggul. Namun sepertinya bukan hanya disitu saja melainkan sampai ke punggung-punggung. Hanya saja dia tidak mungkin diam. Bejo ingin sekali melihat kondisi Mila saat ini. Bejo mengetuk pintu kamar yang tertutup. Tidak ada yang membuka karena memang penghuninya sedang sakit, perlahan Bejo pun membuka pintu kamar tersebut kemudian melihat wanita cantik yang terlihat pucat dengan rambut berantakan. Selebihnya tubuh Mila tertutup oleh selimut tebal yang membalut rapi wanita itu. Perlahan dia menutup pintu kemudian melangkah mendekati Mila. Langkahnya tidak terdengar agar tidak mengganggu Mila. Dia sama sekali tidak ingin membuat wanita itu keluar dari mimpi indah. Entah mimpi yang sangat membahagiakan atau mimpi yang membuat Mila gelisah. Nyatanya saat dia semakin mendekat, bukan ketenangan yang
"Jo aku pulang sama kamu ya." "Nggak kapok juga lo?" tanya Bejo setelah menggunakan helm. Di menoleh menatap Caca yang tadi sudah menjawab pertanyaan darinya tetapi masih janggal bagi Bejo. "Aku ke sana karena ada teman Papah. Papah minta aku buat antar berkas." Itulah jawaban dari Caca. Berkas apa? Berkas tak berwujud? Berkas jadi-jadian atau berkas yang hanya sebesar gulungan permen? Bawa tas aja yang kecil dan hanya cukup untuk masuk ponsel dan juga uang. Caca melirik motornya hingga dia bisa melihat tatapan ragu dari Caca yang membuatnya berdecak. "Nggak usah! Pulang naik taksi aja! Nggak cocok lo naik beginian. Besok kalau gue ganti odong-odong, lo orang pertama yang gue angkut." NGEEEENNNGGG Bejo langsung pergi dari sana dan kejadiannya begitu cepat sampai Caca yang hendak bicara saja tertahan dengan pergerakannya. "Bejo susah banget sich ditaklukkinnya? Benar-benar cowok mahal." Bukan menjauh atau kapok mendekati Bejo lagi, Caca malah semakin penasaran
"Ya ampun, Jo! Jangan ngebut! Rambut aku berantakan, Jo! Bibir aku..... Aaaaa eeeee mmmmm..." Bejo benar-benar tidak memikirkan siapa yang dia bawa. Bahkan Bejo tidak perduli bibir Caca sampai komat kamit karena angin yang terlalu kencang. Di panas matahari yang terik begini pun, Bejo sama sekali tidak memberikan helm untuk Caca. Padahal ada helm yang dia beli untuk Mila waktu itu tetapi tidak dia pinjamkan pada Caca. Bejo iseng mengarahkan kaca spionnya pada Caca. Dia penasaran juga bagaimana kondisi Caca saat ini sampai dimana Bejo menahan tawa melihat Caca yang sudah sangat berantakan. Tak lama lampu rambu kalau lintas berubah menjadi merah dan dia segera menghentikan motornya. "Muka loe Caca udah kayak boneka Chucky," ujar Bejo dalam hati. Rasanya dia ingin melepaskan tawanya tetapi tidak mungkin. Bejo melihat ke sekitar, dia melihat pengendara lain yang tengah memperhatikan Caca dengan ekspresi yang sama, sama-sama menahan tawa. "Jo aku malu. Jangan kenceng-kenc
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t