เข้าสู่ระบบKedua mata Bimo ditutup dengan menggunakan kain berwarna hitam. Mayang menuntunnya masuk ke dalam sebuah kamar lalu menutup rapat pintunya.Ceklek! Kain hitam yang menutup matanya perlahan dibuka oleh Mayang.Sret! Terlihat Sella, Tiara, Kak Rosa, Cindy sedang duduk bersimpuh di bawah karpet tanpa mengenakan pakaian sehelai benangpun.“Selamat datang master,”sambut mereka.Milik Bimo semakin membesar dan menegang saat melihat pemandangan indah di depannya. Mayang tersenyum penuh arti saat melihat batang berurat Bimo yang tegak dan mengeras. “Stttt…Ma…” desis Bimo saat merasakan kelembutan tangan Mayang memijat miliknya pelan dengan gerakan naik turun.“Keras sekali Nak, Mama sudah lama tidak merasakan kekuatan keperkasaanmu mengobok-obok liang kenikmatannya Mama,” bisik Mayang tepat di samping telinganya.Sella, Kak Rosa, Tiara dan Cindy merangkak maju ke depan mendekati Bimo. Mata mereka berbinar cerah saat melihat sosis besar yang sudah lama mereka rindukan.Mereka berebutan menj
Bimo kembali ke rumah sambil membawa Juno yang sudah berubah sepenuhnya menjadi manusia.Mayang dan yang lainnya langsung menyambut mereka dengan sukacita begitu melihat wajahnya.“Bimo!! Mama sangat merindukanmu, Nak!!” Mayang berhambur memeluk tubuhnya dengan erat, menangis haru dan bahagia di dalam dekapannya.Bimo membalas pelukan Mayang seraya mencium puncak kepala wanita itu dengan sayang. “ Aku juga sangat merindukan Mama, terutama empot-empot ayamnya Mama.” Mayang sedikit mendongak dengan mata berkaca-kaca dan memberikan hadiah cubitan manja di perut sixpack-nya. “Bisa-bisanya kamu bercanda di seperti itu. Mama beneran kangen banget sama kamu hiks…hiks…hiks…kami pikir kamu udah gak ada lagi di dunia ini.” “Sttt…aku disini Ma. Aku gak pernah pergi kemana-mana. Aku selalu ada di hatimu sampai kapanpun,” Bimo perlahan memajukan wajahnya dan memberikan kecupan basah tepat di atas bibirnya Mayang.Mayang reflek memejamkan matanya dan ikut larut dalam lumatan bibirnya Bimo sambil
Teriakan Bimo membahana di seluruh ruangan kamar itu. Tanpa memperdulikan suhu tubuh Juno yang masih terasa panas dan menyengat, Bimo menerjang maju dan mengguncang-guncang bahu putranya.“Juno! Bangun, Nak! Jangan tinggalkan Papa! Juno!!” pekik Bimo dengan air mata yang menetes deras membasahi pipinya."Dokter! Lakukan sesuatu, Dok! Beri dia CPR atau defibrilator, cepat!” teriak Baskoro seraya mendorong bahu Dokter Hendra yang sempat mematung.Dokter Hendra tersentak dari syoknya. Dengan cepat, pria itu menyambar pompa adrenalin dari koper medisnya dan menyuntikkannya langsung ke dada Juno, lalu melakukan penekanan jantung darurat.“Satu... dua... tiga... Ayo, Nak, bertahanlah!” gumam Dokter Hendra dengan peluh dingin yang membasahi dahinya.Angel memalingkan wajahnya karena tak sanggup melihat pemandangan memilukan di depannya, sementara Baskoro meremas pinggiran ranjang dengan wajah panik dan gelisah. Bimo terus menggenggam erat tangan Juno sambil merapatkan doa di dalam hatinya
Dokter Hendra tertegun sejenak dengan tubuh mematung saat menatap Juno yang terbaring kaku di atas ranjang.Otot-otot tubuh Juno membengkak secara abnormal, membelit kulitnya dengan urat-urat kehitaman yang menonjol dan mengerikan. Helaan nafas Juno juga terdengar begitu berat.“Aktivitas mutasi RNA-nya jauh lebih agresif dari perkiraan saya…” ucap Dokter Hendra seraya melangkah mendekat dengan tangan gemetar. Pria itu meletakkan koper hardcase-nya di atas meja, lalu bergegas mengeluarkan alat pemindai genetik portabel dan peralatan analisis darah.“Bagaimana kondisinya, Dok? Apa anak saya masih bisa diselamatkan?” tanya Bimo cemas dengan nada suara bergetar.Dokter Hendra tidak langsung menjawab. Pria itu mengambil sampel darah Juno, menyuntikkannya ke dalam tabung pemindai, lalu menyambungkannya ke laptop milik Baskoro untuk menyelaraskan data Vigor-X.BIP! BIP! BIP! Layar monitor seketika berkedip-kedip mengeluarkan cahaya merah. Grafik genetik Juno tampak saling bertabrakan denga
Tubuh Bimo mendadak tegang. Matanya terbelalak menatap Angel yang kini merapatkan kedua tangannya seraya berkata maaf lewat gerakan mulutnya saja. Bimo berdehem keras, berusaha menetralkan getaran pada suaranya.“I-itu suara perawat di klinik, Ma…” kilah Bimo dengan cepat dengan memutar otak untuk mencari alasan yang masuk akal. “Pagi tadi aku kurang enak badan, jadi sempat mampir ke klinik terdekat untuk berobat. Kebetulan susternya lagi flu.” Mayang menghela nafas panjang di ujung telepon. “Ya ampun, Bimo... Kamu jangan terlalu memaksakan diri, Nak. Kamu ada di mana sekarang? Mama, Sella, Tiara, Dian, Rosa, dan anak-anak sudah berkumpul di rumah. Kami ingin sekali bertemu denganmu.”Mendengar hal itu, dada Bimo terasa makin sesak oleh rasa rindu yang tak tertahan. Dia melirik sejenak ke arah pintu kamar tempat Juno terbaring lemah tak berdaya. Saat ini dia tidak dapat meninggalkan Juno dalam keadaan seperti ini.“Ma... aku sangat bersyukur Mama dan yang lain sudah ingat semuanya.
Bimo sontak menghentikan kunyahan di dalam mulutnya dengan jantung berdebar kencang. “Bas, siapa yang datang?” “Sepertinya warga disini, aku buka pintunya sebentar,” jawab Baskoro tanpa menoleh.Sahabatnya itu membuka pintu rumah dan terlihatlah seorang pria paruh baya berpakaian biasa berdiri di depan mereka. Di belakangnya ada beberapa warga kampung sekitar. “Maaf, permisi. Apa kalian penghuni baru rumah ini?” tanya pria paruh baya itu.“Bukan, rumah ini adalah rumah istri saya,” jawab Baskoro tenang.“Kamu suaminya Angel ya? Maaf bukan maksud kami untuk mengganggu. Tapi rumah ini sudah bertahun-tahun tidak ditempati. Kami hanya khawatir kalau yang masuk adalah maling. Perkenalkan saya Yudi, Ketua RT di wilayah ini,” ucap Pak Yudi memperkenalkan diri sambil menyodorkan tangan kepada Baskoro.Baskoro menjabat tangan Pak Yudi dan sedikit mengguncangnya pelan. “Iya, saya adalah suaminya Angel. Nama saya Baskoro dan yang dibelakang sana adalah teman kami namanya Bimo.” Di waktu yang







