เข้าสู่ระบบSejak malam itu, sikap Linira terhadap Tuan Ken semakin berubah. Dia menjadi jauh lebih sering berada di dekat pria itu. Ketika Tuan Ken sedang sarapan, Linira akan datang lebih dahulu dan duduk di meja yang sama. Ketika Tuan Ken pulang dari pekerjaannya, Linira selalu menjadi orang yang menyambutnya. Bahkan hal-hal kecil pun tidak luput dari perhatiannya. “Tuan Ken, kau terlihat lelah.” Linira berdiri di sampingnya sambil tersenyum. “Aku bisa meminta pelayan menyiapkan teh.” “Tidak perlu. Kau sendiri harus beristirahat.” “Tidak apa-apa.” Linira mengambil cangkir dan menyerahkannya kepadanya. “Kalau Tuan Ken sakit, siapa yang akan mengurus semua pekerjaan di rumah ini?” Tuan Ken menatapnya. “Kau terlalu banyak memikirkan orang lain, Linira.” Linira tersenyum. “Mungkin karena selama ini tidak banyak orang yang memikirkan ku seperti yang kau lakukan.” Kalimat sederhana itu membuat Tuan Ken terdiam. Linira menyadarinya. Dia tahu kalimat seperti itu selalu membuat pr
Ailin pergi untuk menemui beberapa tamu yang datang ke kediaman Tuan Ken. Sementara itu, Tuan Ken masih sibuk menyelesaikan pekerjaannya. Karena itulah dia terpaksa datang belakangan. Begitu pekerjaannya selesai, dia langsung bergegas menuju ruang tamu. Namun di tengah perjalanan, langkahnya terhenti. Di salah satu kursi dekat taman dalam, Linira duduk seorang diri. Perempuan itu terlihat sedang merenung dengan tatapan kosong. Tuan Ken memperhatikannya beberapa saat. Sejak Linira tinggal di kediamannya, dia memang jarang memperhatikannya. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena pekerjaannya membuat sebagian besar waktunya tersita. Dia akhirnya menghampiri. “Linira.” Linira perlahan mengangkat wajah. “Tuan Ken.” “Kenapa duduk di sini sendirian?” “Aku hanya ingin mencari udara segar.” Tuan Ken melihat wajahnya yang masih terlihat pucat. “Kalau tubuhmu belum sepenuhnya pulih, sebaiknya kau beristirahat saja di kamar.” “Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.”
Dia kemudian berkata dengan suara tenang, “Saya akan menikah dengan pangeran ke enam.” Mendengar itu, raja pun menatap Suran dengan tatapan terkejut. Bagaimanapun, Suran sudah tahu kalau pangeran ke enam memiliki sikap yang tidak baik, tapi ini benar-benar aneh. “Suran... kau...” Suran menghela napas, ia tersenyum sopan sebelum kembali bicara. “Anda bisa menyampaikan kepada Pangeran ke-6 bahwa saya memang bersedia untuk menikah dengannya. Tapi, ada dua syarat yang harus Pangeran ke-6 penuhi sebelum itu.” Raja terdiam sejenak, sekarang dia tahu kenapa suran mengajukan syarat setelah memberikan persetujuan. “Katakan,” ucap sang raja. “Pertama, jika Pangeran ke-6 ingin menjadi suamiku, dia harus mengurungkan niatnya untuk mewarisi tahta, keputusan itu harus ada di depan seluruh petinggi istana, sekaligus tertulis secara resmi. Kedua, Saya memiliki prinsip tersendiri soal hubungan pernikahan yang mana tidak boleh ada selir maupun saya sendiri yang tidak akan pernah mungkin
Rey tengah mengelap pedangnya. Selama di kediaman Hideria, dia tidak pernah menggunakan pedang itu, padahal sebelumnya dia hampir setiap hari membasahi pedang tajam itu dengan darah. “Obat-obatan dari dokter terbaik benar-benar memberikan kesembuhan yang cepat. Sedikit lagi, aku hanya perlu bersabar sebentar. Setelah semua ini selesai... akan kupastikan semua berjalan sesuai dengan jalan yang sudah ditentukan.” Tiba-tiba saja pintu kamarnya ada yang mengetuk. Tok tok tok. Rey langsung menyimpan pedangnya, meletakkan di atas meja. Pintu terbuka, Suran berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang sedikit terkejut. “Apa yang baru saja kau lakukan?” tanya Suran. Greyson tersenyum sambil terus menatap Suran yang berjalan masuk untuk dekat dengannya. “Hanya memastikan pedangku tidak berkarat,” jawabnya jujur. Meski jawaban itu terdengar masuk akal, namun Suran langsung paham apa yang sebenarnya dipikirkan Greyson. “Rey, berapa lama kaya berencana tinggal di kedia
Beberapa saat setelah Pangeran Keenam pergi, pintu ruang kerja Suran kembali terbuka. Suran yang sedang memandangi dokumen di atas meja langsung mengangkat wajah. Greyson masuk setelah memastikan lorong di luar benar-benar sepi. Begitu melihatnya, Suran langsung mengerutkan kening. “Kenapa kau datang ke sini?” Greyson menutup pintu perlahan. “Kondisimu belum benar-benar pulih,” timpal Suran. Greyson justru tersenyum. “Aku sudah jauh lebih baik sekarang.” “Itu bukan berarti kau sudah sembuh.” Suran menatapnya dengan kesal. “Dokter bahkan masih melarang mu terlalu banyak bergerak.” “Aku hanya berjalan dari kamarku ke sini.” “Itu tetap saja terlalu banyak untuk orang yang baru beberapa hari lalu hampir mati.” Greyson terkekeh pelan. Namun senyum itu tidak bertahan lama. Tatapan matanya berubah serius, ia berjalan mendekati meja Suran. “Dia sudah pergi?” Suran tahu siapa yang dimaksud. “Pangeran Keenam?” Greyson mengangguk. “Sudah.” “Dia datang untuk apa?”
“Apa?!” Rey atau Greyson tersenyum, namun senyum itu justru terasa begitu pahit. “Begitulah. Takhta diperebutkan tanpa peduli darah, tanpa peduli saudara. Aku tidak mau seperti ini, tapi masalahnya pangeran yang menginginkan takhta begitu menyeramkan.” “Aku pernah mengatakan kalau aku mundur saja, Aku menyerahkan kemungkinan ku untuk meneruskan tahta kepada pangeran yang lain, tetapi Yang Mulia menolak keras.” Suran benar-benar tidak habis pikir. “Kenapa kau tidak memiliki kesempatan itu? Kalaupun kau satu-satunya Pengaran yang dianggap memiliki kemampuan, tapi kau juga berhak mengambil keputusan, kan?” Greyson menghela napasnya. “Begitulah. Aku sudah dibiasakan sejak kecil untuk bertahan dari berbagai macam masalah. Ibarat jatuh terperosok sampai ke dasar jurang, aku hanya harus merangkak naik.” Suran pun menggelengkan kepalanya. “Aku benar-benar tidak mengerti kenapa kehidupan istana begitu rumit.” Mendengar itu, Greyson pun terdiam untuk beberapa saat. “Suran... apa per







