Home / Zaman Kuno / Tawanan Hasrat Raja Lingga / Ketertarikan yang nyata

Share

Ketertarikan yang nyata

Author: QuinzeeQ
last update publish date: 2025-11-10 12:50:18

Arga pun semakin khawatir saat melihat keringat dingin mulai membasahi pelipis Zhiya. Pria itu kemudian menyentuh tubuh Zhiya, dan menuntun Zhiya meninggalkan pameran itu.

“Kita istirahat dulu,” ucap Arga.

Aetheria City tampak seperti kota kaca yang terus menumbuhkan dirinya sendiri.
Gedung–gedung menjulang, dipantulkan berlapis oleh permukaan fasad transparan yang memantulkan neon biru, warna yang sama dengan kegelapan air yang selalu menarik Zhiya tiap malam.

Ia berjalan pelan bersama Arga, keluar dari museum, sebelum akhirnya memilih duduk sebentar di sebuah kafe mini di pinggir distrik pusat seni kota.

Di sana, suasana sunyi. Padahal ramai. Musik elektronik low ambient terdengar samar. Lampu neon biru redup memantul di permukaan meja kaca mereka. Zhiya memandang cangkir kopinya yang dingin seperti permukaan air.

“Zhiya…” suara Arga pelan, lembut, sangat hati–hati.


“Aku bilang dari awal ada sesuatu yang narik kamu. Aku bisa rasakan. sejak 2 minggu lalu.”

Zhiya tidak menjawab. Ia tidak bisa.

Setiap kali ia memaksa logikanya bekerja , fragmen museum tadi muncul lagi. Lukisan raja itu. Senyum tipisnya yang dingin tapi tenang. Sorot mata gelapnya. Seolah ia benar–benar tahu Zhiya dari jauh sebelum Zhiya pernah dilahirkan di dunia ini.

“Arga,” suara Zhiya pelan. Nyaris kehilangan bobotnya.


“Aku tidak lagi yakin apa yang nyata.”

Arga menghela napas, memegang tangan Zhiya dengan cemas.

“Pulang saja dulu malam ini. Jangan tidur dulu. Jangan sendirian-“ Perkataan Arga terputus.

“Aku harus pulang.” Sela Zhiya.

Mereka beranjak pergi menuju mobil milik Arga. Kota futuristik Aetheria berlari cepat di luar kaca. Billboard hologram. Interlaced digital fibers di sepanjang fasad gedung. Tapi Zhiya hanya melihat satu hal, pantulan neon biru yang mulai berubah, perlahan jadi pattern air obsidian. Lingga mulai menampakkan dirinya.

Zhiya tersentak. Matanya terbelalak. Tubuhnya bergetar hebat. Arga menggenggam stirnya kuat–kuat, ia melihat juga perubahan kecil itu, meski ia tidak dapat menjelaskan kenapa.

“Zhiya. Ada apa?” tanya Arga.

“Zhiya!”

Gadis itu tersentak dan menoleh kearah Arga yang tengah menyetir.

“A-aku, aku-“

“Kalau kamu rasa ada yang tidak beres, atau kamu takut, telepon aku. Tolong.”

Zhiya mengangguk. Tapi ia tahu dalam batinnya, telepon manusia tidak lagi bisa menyelamatkannya. Mereka pun tiba di Apartemen Zhiya. Zhiya kemudian berpamitan dan segera masuk meninggalkan Arga yag masih menatap khawatir punggung Zhiya yang mulai menjauh.

Begitu pintu apartemen menutup di belakang punggungnya sunyi terasa jauh lebih padat. Seperti seluruh ruang tinggalnya terisi oleh sesuatu yang tak terlihat. Ia berjalan pelan ke dalam. Lampu LED putih lembut menyala otomatis. Buku–buku arsip, alat scanner dokumen, katalog pameran terbuka di meja kerja. Semua tampak normal.

Zhiya menarik napas. Ini bukan hanya mimpi. Bukan imajinasi.
Dunia itu mulai menembus dinding dunia ini.

Ia menyentuh layar tablet-nya refleks. Tapi kemudian menyadari pantulan dirinya di layar mulai seperti tercampur dengan pola air obsidian biru. Elemen visual itu bergerak, slow, seperti mengundang.

“L-ingga,” ia berbisik tanpa sadar.

Getaran halus muncul di bagian dasar tengkuknya. Suara itu tidak terdengar seperti manusia yang bicara di ruangan.
Ia terdengar seperti suara yang muncul dari dalam tubuhnya sendiri.

“Kau harus kembali.”

Zhiya memejam mata. tubuhnya perlahan kehilangan beratnya. Ia tahu jika ia menolak, ia akan tetap datang. seperti biasa. Tapi kali ini, ia mulai tidak punya alasan menolak. Ia berjalan pelan ke ranjang. Duduk di pinggir kasur. Sunyi menjadi terlalu pekat. Nafasnya menenangkan dirinya sendiri.

Ia rebah. Menutup mata.

Tubuhnya seakan jatuh melewati ruang kosong, dan permukaan air tidak butuh batas. Sungai Bayangan terbuka seperti mulut dunia yang sangat ia kenal tapi juga selalu asing. Saat kakinya menyentuh permukaan air dingin itu ia tahu ia sudah tiba.

“Zhiya. Akhirnya kau kembali,”

Sosok itu berdiri di permukaan air gelap itu seolah air bukanlah cairan, melainkan dataran padat setipis bayangan. Ia tidak berubah. Seperti lukisan di museum itu baru saja terlepas dari bingkainya dan bernafas kembali.

Lingga.

Raja Qingzhou yang seharusnya telah mati ratusan tahun lalu. Namun di hadapan Zhiya, ia tampak lebih nyata dari manusia manapun di dunia fisik.

“Tidak ada batas lagi antara tidur dan sadar bagimu,” suaranya rendah, dalam seperti gema yang lahir dari kedalaman dasar air.

“Karena kau sudah menjadi bagian dari gerbang itu.”

Zhiya menatapnya — dan untuk pertama kalinya ia merasa takut bukan kepada dia. Tapi kepada kenyataan bahwa ia mungkin sudah tidak punya tempat pulang selain lelaki ini.

“Kau muncul… bahkan di dunia nyata,” bisik Zhiya nyaris pecah.

Lingga berjalan perlahan mendekat. Setiap langkahnya menimbulkan riak air hitam yang menyala samar biru neon — warna yang sama dengan refleksi kaca kota Aetheria.

“Aku tidak pernah hilang, Zhiya,” jawab Lingga.

“Hanya terkunci.”

Tatapan matanya dalam. Tidak meminta. Tidak memaksa. Namun menarik… seperti gravitasi spiritual.

“Kau yang membuka kembali simpul yang disegel waktu itu.”

Zhiya menggeleng. Nafasnya pendek.

“Ini bukan normal. Dunia mulai berubah… air itu mengikuti aku.”

Linhga mengangkat tangan perlahan, menyentuh sisi wajah Zhiya dengan ujung jemarinya. Sentuhan itu tidak panas. Tidak dingin. Tapi menghasilkan sesuatu yang seperti resonansi dalam tubuhnya.

“Kau bukan terjerat,” ucap Lingga pelan, “kau dipilih.”

Zhiya menutup mata. Di balik kelopak matanya — museum, lukisan, pantulan neon, suara Arga yang memanggil namanya — semuanya terasa semakin jauh. seperti dunia lain yang mulai mengecil dan memudar.

“Katakan padaku,” bisik Zhiya nyaris tanpa suara.

“Kenapa aku? Kenapa dunia menahanmu? Kenapa kau belum kembali?”

Lingga menunduk sedikit, seperti menatap permukaan air di antara mereka.

“Ada sesuatu yang manusia modern tidak pernah sanggup pahami,” jawab Axel pelan.

“Jika aku kembali penuh… dunia kalian akan pecah menjadi dua.”

Zhiya menatapnya.

Dalam.

Pernyataan itu bukan ancaman.

Itu fakta.

“Dan kau tahu itu sejak awal?” tanya Zhiya, suara bergetar.

Axel mengangguk pelan.

Ia mendekat sedikit lagi — jarak dua nafas.

“Namun tetap… kau kembali datang kepadaku.”

Zhiya merasa seluruh batas logika mulai retak. Ia tidak tahu kapan cinta dan ketergantungan dan tarik roh ini berubah menjadi satu. Ia hanya tahu — bagian dari dirinya memilih.

Tanpa alasan rasional.

Tanpa penjelasan teoritis.

“Zhiya,” ucap Lingga perlahan.

“Jika kau berjalan terus ke arahku malam ini… kau tidak bisa kembali menjadi manusia biasa lagi.”

Air di sekitar mereka mulai bergerak. Seolah sungai ini bukan sungai — melainkan simpul antara dua realitas.

Zhiya berdiri diam.

Tidak mundur.

Tidak maju.

“Apa ini adalah pilihan?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tawanan Hasrat Raja Lingga   Era kejayaan Qingzhou

    Di Paviliun Anggrek Giok, Zhiya masih duduk diam ketika pintu tiba-tiba terbuka. Lingga masuk. Biasanya para penjaga akan mengumumkan kedatangan kaisar, tetapi kali ini ia datang terlalu cepat. Zhiya menatapnya sedikit terkejut. “Lingga—” Namun sebelum ia sempat berkata lebih jauh, Lingga sudah berdiri di depannya. Tatapannya jatuh pada wajah Zhiya… lalu perlahan pada perutnya. “Apakah itu benar?” Suaranya lebih pelan dari biasanya. Zhiya tersenyum lembut. “Tabib Qin sudah memastikannya.” Untuk pertama kalinya sejak kabar itu keluar, Lingga benar-benar terlihat kehilangan kata-kata. Tangannya perlahan menyentuh tangan Zhiya. Hati-hati. Seolah ia takut menyentuh sesuatu yang terlalu berharga. “Zhiya…” Ia jarang memanggil namanya dengan suara selembut itu. Zhiya memandangnya dengan hangat. “Kau akan menjadi ayah.” Lingga menatapnya lama. Kemudian sesuatu yang sangat jarang terlihat di wajah Kaisar Qingzhou muncul— Senyum kecil. Ia menarik Zhiya ke dalam pel

  • Tawanan Hasrat Raja Lingga   Kehamilan Pertama

    Perjamuan dimulai. Pelayan istana membawa hidangan satu demi satu: bebek panggang madu, ikan sungai giok kukus, sup ginseng kekaisaran, dan anggur bunga plum yang harum. Para penari istana memasuki aula, pakaian sutra mereka berputar seperti kelopak bunga di udara. Musik menjadi lebih hidup. Namun perhatian terbesar tetap tertuju pada meja utama. Seorang pejabat tua akhirnya bangkit dari kursinya. Itu adalah Menteri Agung Han, penasihat senior kerajaan sekaligus mertua dari kakaknya, Yu Lian. Ia mengangkat cawan anggurnya dan membungkuk hormat. “Hari ini Qingzhou mendapatkan seorang permaisuri yang berbudi luhur dan berjasa besar bagi negeri. Kami, para pejabat kerajaan, mengucapkan selamat kepada Yang Mulia Raja dan Ratu.” Seluruh aula mengikuti. Cawan-cawan terangkat. “Untuk Ratu Qingzhou!” Zhiya mengangkat cawannya dengan tenang. Tatapannya menyapu aula sebelum ia berkata lembut namun jelas, “Aku hanyalah seorang wanita yang kebetulan diberi kesempatan melindungi

  • Tawanan Hasrat Raja Lingga   Penobatan Zhiya

    Langit Qingzhou pagi itu tampak lebih jernih dari biasanya, seolah seluruh alam ikut menyaksikan perubahan besar yang akan tercatat dalam sejarah istana. Genderang upacara ditabuh bertalu-talu dari Gerbang Naga Emas hingga ke Aula Kemuliaan Agung. Para pejabat tinggi berdiri berjajar dalam balutan jubah resmi mereka, kepala tertunduk khidmat, sementara para pelayan istana bergerak cepat namun nyaris tanpa suara. Hari itu, nama Zhiya akan diukir selamanya dalam silsilah kekaisaran Qingzhou. Di Paviliun Anggrek Giok, Zhiya duduk tenang di depan cermin perunggu. Gaun permaisuri berwarna merah kekaisaran membalut tubuhnya—sutra halus bersulam burung phoenix emas yang tampak hidup ketika tersentuh cahaya pagi. Mahkota phoenix bertatah mutiara dan giok hijau terpasang anggun di kepalanya. Namun di balik kemegahan itu, mata Zhiya tetap jernih… dan berat. Yu Lian berdiri di belakangnya, membantu merapikan lipatan lengan. “Yang Mulia,” bisik Yu Lian pelan, suaranya bergetar haru, “hari

  • Tawanan Hasrat Raja Lingga   Pengakuan Zhiya

    Sore merambat pelan di Paviliun Teratai Putih. Cahaya keemasan menembus tirai tipis, jatuh lembut di lantai marmer. Kolam teratai di luar jendela tenang—terlalu tenang, seolah ikut menahan napas. Pintu paviliun tertutup. Hanya ada dua orang di dalam. Zhiya berdiri beberapa langkah dari ambang pintu. Tubuhnya kaku. Jantungnya berdetak terlalu keras. Di seberang ruangan— Yu Lian berdiri membelakanginya. Anggun. Tenang. Namun bahunya sedikit gemetar. Seolah ia juga menahan sesuatu yang sudah terlalu lama dipendam. “Kak….” Suara Zhiya pecah lebih pelan dari yang ia kira. Yu Lian membeku. Perlahan… ia berbalik. Mata mereka bertemu. Waktu seakan berhenti. Tidak ada istana. Tidak ada Qingzhou. Tidak ada kutukan. Hanya dua saudari yang akhirnya saling menemukan lagi. Mata Yu Lian langsung memerah. “Zhiya…” Langkahnya goyah. Satu langkah. Dua langkah. Lalu—ia memeluk Zhiya erat. Zhiya sempat kaku. Sepersekian detik. Lalu lengannya balas memeluk. Kuat. Sangat kuat. Seolah

  • Tawanan Hasrat Raja Lingga   Mengobati Lingga

    “Kalau suatu hari aku kembali ke Aetheria…” lirih Zhiya “Apakah kau akan mencariku?” lanjutnya. “Aku akan menyeberangi dunia.” ucap Lingga. “Seribu kali.” Zhiya tersenyum, “Aku berharap… kita tidak perlu dan jangan sampai berpisah.” Kereta berguncang lembut. Di luar, suara burung pagi terdengar. Lingga mulai terlelap. Kepalanya miring. Tanpa sadar, bersandar di bahu Zhiya. Zhiya kaku sesaat. Lalu membiarkannya. Ia menyelimuti Lingga dengan mantel. Menatap wajahnya lama. “Raja yang keras kepala…” bisiknya. “…tapi paling baik.” Beberapa jam kemudian—menara istana terlihat. Berkilau di bawah matahari pagi. Zhiya menarik napas panjang, “Sudah sampai…” Lingga membuka mata dan Menatapnya, “Terima kasih… sudah pulang bersamaku.” Zhiya menggenggam tangannya dan mengangguk. “Zhong Li, bantu Yang Mulia kembali ke kamar,” ujar Zhiya dari dalam kereta. “Baik Nona,” ucap Zhong Li. Setelah Zhong Li memapah Lingga, Zhiya berbalik badan dan berbicara dengan Han Yu. “Beri

  • Tawanan Hasrat Raja Lingga   Peperangan Melawan Wu Shen

    Tiba-tiba— tepuk tangan pelan terdengar. “Kalian cepat juga.” Dari balik tirai batu, seorang pria muncul. Berusia sekitar empat puluh. Berjubah kelabu. Mata dingin. Lingga mengenalnya. “Wu Shen…” Mantan penasehat Dewan Lama. Yang seharusnya sudah mati. Wu Shen tersenyum tipis. “Raja muda… dan gadis dua dunia.” “Pasangan yang menarik.” Zhiya melangkah maju. “Semua ini ulahmu.” Wu Shen mengangguk santai. “Tentu.” “Qingzhou terlalu bersih sekarang.” “Perlu sedikit… kekacauan.” Lingga mengangkat pedang. “Kau akan menjawab di hadapan hukum.” Wu Shen tertawa. “Hukum siapa?” Ia menjentikkan jari. Dari lorong-lorong— puluhan bandit muncul. Mengurung mereka. Pedang terhunus. Busur diarahkan. Zhiya berbisik “Kita terjebak.” Lingga menggenggam tangannya “Belum.” Matanya menyala “Selama kita bersama.” Api biru di tengah Kuil Angin Retak berdenyut semakin cepat. Seolah merasakan darah yang akan tumpah. Angin malam menerobos celah dinding, membawa suara log

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status