แชร์

79. Mengobati Rindu Di Ranjang

ผู้เขียน: Phoenixclaa
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-31 18:17:01

Felix langsung mendongak.

Senyum nakal perlahan terukir di sudut bibirnya ketika ia melihat Reya yang sejak tadi berusaha menyembunyikan kegugupannya.

“Apalagi?” tanyanya lirih.

Jemari Felix kembali bergerak perlahan di sepanjang betis Reya, memijatnya dengan gerakan lembut dan meraba liar.

“Apa enak?”

Reya seketika tersentak dengan tatapan tajam, lalu menyambar rambut Felix dan menariknya keras...

“Tidak perlu.” Ucapnya cepat sambil menghempaskan tipis tarikan di tangannya.

Hanya saja, bukanny
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Terpaksa Jadi Dokter Pribadi Tuan Mafia   90. Butterfly

    Felix kembali mencium Reya cukup lama, desahan pelan memenuhi ruangan itu, tetapi kali ini ciuman itu perlahan berubah menjadi lebih lembut ketika ia menyadari kedua tangan Reya masih gemetar di antara mereka.Felix akhirnya melepaskan bibirnya dan menatap wajah Reya yang memerah, kemudian tersenyum kecil seolah sengaja menyembunyikan kegelisahan yang sebenarnya muncul di dalam dirinya.“Aku akan menahan diri untuk malam ini saja,” bisiknya dengan nada menggoda, lalu mengangkat alis. “Padahal kau yang memancingku lebih dulu.”Reya langsung tertawa kecil dan mendorong dada Felix pelan.“Sudah, keluar sana. Aku akan mandi sendiri.”Felix terkekeh, kemudian mundur beberapa langkah sambil tetap menatapnya.“Baiklah. Aku tunggu di bawah.”Ia berhenti di ambang pintu.“Dan kau harus makan. Tadi kau sendiri yang bilang tubuhmu tidak nyaman.”Reya mengangguk pelan sambil menatap lekat wajah Felix yang biasanya sangar begitu lembut.“Iya.”Felix tersenyum puas sebelum akhirnya meninggalkan kam

  • Terpaksa Jadi Dokter Pribadi Tuan Mafia   89. Mandi Bersama

    Dihyas langsung tersenyum kecil mendengar pertanyaan itu, lalu tanpa banyak bicara ia mendorong bahu pria itu pelan ke arah mobil yang dibawa Pak Bram.“Ayo, masuk.”Garvan sempat mengangkat alis, seolah tidak menyangka Dihyas justru akan bersikap sesantai itu setelah semua kejadian malam ini.“Kau menyuruhku masuk?”“Iya. Atau kau mau di bakar dengan mayat-mayat itu?”Garvan terkekeh kecil, kemudian mengikuti Dihyas masuk ke dalam mobil. Sedangkan mobil Dihyas di bawa oleh Reon yang sangat ingin mencobanya dan beberapa pengawal lainnya.Pak Bram yang sejak tadi menunggu di kursi depan bahkan belum sempat bertanya apa pun ketika kedua orang itu duduk di belakang.Namun beberapa detik kemudian, ia mendengar suara tawa kecil dari belakang.Pak Bram mengerutkan kening dan menoleh pelan melalui kaca spion, saat itu juga...matanya langsung membesar.“Lho...?”Garvan yang selama bertahun-tahun dikenalnya sebagai pria yang sangat sulit didekati, bahkan nyaris tidak pernah menunjukkan ketert

  • Terpaksa Jadi Dokter Pribadi Tuan Mafia   88. Dua Pemain Bertemu

    Dihyas yang sejak tadi berdiri di ambang pintu akhirnya mengerahkan sisa tenaganya untuk mendekati Reya.“Reya, kemari.” Suaranya terdengar berat.Reya yang memahami maksud tatapan Dihyas segera mendekat dan merangkul bahu sahabatnya itu untuk membantu menopang tubuhnya yang kesulitan berjalan.“Kakimu bagaimana?”“Masih bisa dipakai,” jawab Dihyas singkat, lalu melirik Felix sekali lagi.Tatapan mereka bertemu dan hanya beberapa detik saja sudah cukup untuk membuat Dihyas memahami semuanya.Ia kembali menatap Reya, lalu memberikan satu kode kecil melalui sorot matanya.Reya terdiam.Ia tahu Dihyas sedang bertanya tanpa suara.'Dia pria yang sering kau ceritakan?'Reya tidak langsung menjawab. Tapi ekspresi wajahnya berubah gugup dan matanya tanpa sadar kembali melirik pria di belakangnya.Itu sudah cukup.Dihyas menghela napas panjang.“Jadi... benar.”Reya menunduk dengan tangan masih gemetar pelan.“Dihyas, aku bisa menjelaskan.”“Tidak perlu sekarang.” Potong Dihyas pelan.Dihyas

  • Terpaksa Jadi Dokter Pribadi Tuan Mafia   87. Dekapan Kokoh Menenangkan

    “Ayo bu, jangan sampai menganggu kehangatan mereka di dalam...” Ajak Luna provokatif.Arga juga mengangguk dan merangkul bahu kekasihnya itu dan mencium bibirnya singkat dan memuji pintarnya dia, karena ini sejak awal ide dari Luna.Mereka bertiga pun segera keluar dengan wajah sumbringah…Namun beberapa menit kemudian dalam perjalanan pulang, suasana di desa itu berubah total.Felix kini sudah berdiri di halaman rumah yang tidak jauh dari gudang tempat Reya di sekap dan Dihyas, dengan rokok masih terselip di antara jarinya.Di bawah kakinya, ia sedang menginjak wajah seorang pria yang tadi menembak menyerang dan menembak Dihyas.Juga beberapa orang suruhan Jono dan sejumlah warga yang tadi menghalangi telah dilumpuhkan dan diamankan oleh para pengawalnya.Garvan sendiri berdiri di samping Felix dengan wajah kasarnya yang menakutkan.Pak Bram datang tergesa.“Tuan, kami menemukan jejak.”Felix langsung menoleh.“Di mana?”“Bangunan di ujung kampung. Ada beberapa kendaraan keluar-masuk

  • Terpaksa Jadi Dokter Pribadi Tuan Mafia   86. Tua Bangka Nafsuan

    Mobil Felix melaju membelah jalanan malam dengan kecepatan tinggi, sementara lampu-lampu kota berkelebat seperti garis-garis cahaya di sepanjang kaca jendela.Garvan memegang kemudi dengan kedua tangan, fokusnya tidak pernah lepas dari jalan, sedangkan Reon terus memperhatikan layar perangkat di tangannya sambil memberikan arahan setiap beberapa detik.“Belok kiri di depan.”Garvan langsung membanting setir dengan terukur.“Lima kilometer lagi, lalu masuk jalan provinsi Janikur.”Felix duduk diam di kursi belakang, satu tangannya masih menggenggam ponsel yang menampilkan titik lokasi terakhir Reya. Wajahnya tenang, tetapi rahangnya mengeras setiap kali titik itu bergerak semakin jauh dari posisi mereka.“Berapa jauh lagi?” tanyanya dingin.“Sekitar dua puluh menit, Tuan.”“Lima belas.”Garvan mengangguk.“Saya usahakan.”Tidak lama kemudian, lampu-lampu kota mulai menghilang dan berganti dengan deretan rumah penduduk yang cukup maju di sebuah kabupaten lain. Jalanannya lebih sempit, t

  • Terpaksa Jadi Dokter Pribadi Tuan Mafia   85. Pesona Agen Dihyas

    Darah langsung mengalir dari dahi Dihyas setelah hantaman keras dari belakang tadi, menuruni pelipisnya hingga membasahi sebagian pipinya, tetapi bukannya mundur atau menunjukkan rasa takut, perempuan itu justru mengangkat wajah dengan tatapan tajam yang membuat Luna seketika kehilangan keberaniannya.Dalam satu gerakan cepat, Dihyas menerjang Luna dan mencengkeram kerah bajunya, lalu mendorong tubuh perempuan itu hingga punggungnya terbentur tembok.“Berani sekali kau menyentuhku,” Bentak Dihyas dengan wajah sangar.Luna mencoba melepaskan tangan yang mencengkeramnya, tetapi Dihyas justru menahan tubuhnya lebih kuat beberapa detik sebelum akhirnya melepaskannya dengan kasar.“Dasar perempuan gila!”PLAK!Satu tamparan keras mendarat di pipi Luna hingga kepalanya terlempar ke samping.Reya yang kini ditahan oleh Arga juga ibunya langsung berteriak.“Dihyas!”Dihyas mengusap darah yang mengalir dari dahinya dengan punggung tangan, kemudian menoleh kepada Reya.“Kita harus pergi sekaran

  • Terpaksa Jadi Dokter Pribadi Tuan Mafia   2. Ciuman Paksa

    Pintu kamar tiba-tiba terbuka pelan. Reya yang masih sibuk menarik ujung gaun hitam sepaha itu langsung menoleh tajam. Napasnya memburu penuh emosi saat melihat Felix berdiri santai di ambang pintu.Pria itu bersandar malas di sana dengan kedua tangan di saku celana. Kemeja hitamnya terbuka sedikit

  • Terpaksa Jadi Dokter Pribadi Tuan Mafia   1. Tingkah Gila Felix

    Reya langsung panik menghampiri pria itu, tetapi Felix sudah keluar lebih dulu dari mobil dengan gerakan tenang yang justru terasa menakutkan. Wajah pria itu datar tanpa rasa bersalah sedikit pun. Lampu jalan memantulkan sorot dingin di matanya yang gelap.Pria pejalan kaki tadi masih terduduk geme

  • Terpaksa Jadi Dokter Pribadi Tuan Mafia   Cupang Hangat Tuan Felix

    Ternyata yang masuk adalah Direktur rumah sakit yang kini berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat. Seketika cengkeraman Felix mengendur. Reya memanfaatkan celah itu untuk berdiri cepat sambil menarik napas tajam. Dadanya naik turun menahan emosi, sementara pipinya masih terasa panas karena kedek

  • Terpaksa Jadi Dokter Pribadi Tuan Mafia   Pertemuan Pertama

    “Siapa yang harus ku obati?” tanya Reya datar.Ia lalu melihat seorang pria yang berdiri membelakang di sebuah ruangan. Tubuhnya tinggi dengan bahu lebar dan otot padat. Kulitnya sawo matang, rahangnya tegas, hidungnya lurus, dan mata gelapnya tajam seperti binatang pemangsa.“Felix?” gumamnya memb

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status