LOGINPercintaan semalam yang membawa pada pernikahan yang manis. Seorang CEO kejam, dingin dan tampan yang tak tersentuh. Namun hubungan satu malam dengan seorang Gadis merubah segalanya.
View MoreRain fell in relentless sheets against the towering windows of the Blackwood estate, smearing the manicured gardens into a blur of gray and green. Inside the bridal suite, Lydia stood in front of the full-length mirror, her reflection pale in the soft light. The gown she wore was exquisite—ivory lace hugging her figure, delicate embroidery tracing her collarbones—but it felt like armor, a costume in a play she had never chosen to be part of.
Today, she was marrying Ethan Blackwood. The thought twisted in her chest. Ethan—cold, untouchable, and devastatingly handsome—was a man who had made it abundantly clear he did not want her. Their engagement was not about love. It was a transaction, orchestrated by his grandfather, Harrison Blackwood, who insisted on securing the family’s legacy before his health failed. To Harrison, Lydia was perfect: quiet, refined, and respectable. To Ethan, she was a stranger thrust into a life he had no desire to lead. A soft knock on the door pulled her from her thoughts. “Miss Lydia, it’s time,” a maid said gently. Taking a deep breath, Lydia lifted her bouquet and walked down the long corridor. Her heels clicked softly against the marble floors, echoing in the empty halls. She was alone—no father to guide her, no family to steady her. The world was watching, yet she felt invisible. The chapel was grand, every detail polished and flawless. Guests whispered behind polite smiles, eager to witness the union of power and wealth. And there he stood—Ethan Blackwood. Tall, immaculately dressed, his posture rigid, expression unreadable. His eyes met hers for the briefest moment, cold and assessing, before looking away. When the officiant began the vows, Lydia’s voice trembled as she repeated the words she had memorized, words she barely felt. “I do.” Ethan’s voice followed—steady, emotionless, cutting through the quiet like steel. “I do.” The ring slid onto her finger, heavy and unyielding. And when he leaned in, she dared to hope—but his lips only brushed her cheek in a perfunctory, detached gesture. Polite. Distant. The reception passed in a blur. Lydia smiled, posed for photographs, and accepted congratulations, all while Ethan remained distant, answering questions curtly and offering no warmth. To the outside world, they appeared flawless. Behind the smiles and glittering chandeliers, the chasm between them grew wider by the hour. Finally, the last guest departed, and the mansion fell silent. Lydia waited, her heart pounding with both fear and anticipation. Ethan entered, removing his jacket, his movements precise and measured. “This marriage changes nothing,” he said bluntly, his eyes avoiding hers. “You will have comfort, money, protection—but do not expect affection.” Her throat tightened, but she nodded, swallowing back the sting of his words. “There is someone else,” he added, voice flat, almost bored. “And there always will be.” Lydia’s chest tightened, but she lifted her chin. She had expected this, and she would endure it. Without another word, Ethan walked toward the opposite wing, the bedroom door clicking shut behind him. Alone in the vast, empty room, Lydia sank onto the couch, clutching her bouquet as tears fell silently. This was her wedding night. And she was utterly, completely alone. Yet, beneath the ache, a fragile determination sparked. If he did not want her… if he refused to see her worth… one day, he would regret it. And she would not be the woman left waiting.Setelah Vio sadar, beberapa saat kemudian, bayi-bayi vio dibawa keruangan an vip. sang dokter juga mengarahkan bagaimana cara menyusui bayi kembar juga berlatih duduk dan bergerak pasca oprasi caesar."Sayang! Lihat! Doble J lucu sekali." Ucap Vio sambil menyusui keduanya.Bastian menelan ludahnya. Didalam ruangan itu hanya ada Bastian dan Vio dan satu dokter wanita satu perawat wanita. Tentu saja Fang dan laki laki tak di ijinkan melihat Vio menyusui. Mau mati apa mereka?Setelah beberapa hari dirumah sakit, Vio pun di ijinkan pulang. Di vila pribadi Bastian, mobil yang membawa Vio dan dan doble J berhenti dihalaman. Bastian dengan sigap memapah istrinya. menuntun wanita itu untuk masuk kediamannya.Didepan pintu, keluarga kecil itu disambut oleh bibi Ana dan para pelayan. Vio tersenyum haru. Mungkin, inilah keluarga yang selama ini dia impikan. Yang tidak dia dapatkan dari keluarga Tan.Vio mwnatap satu persatu wajah-wajah yang menyambu
"Bagaimana dokter?" Bastian sangat tak sabar dan cemas.Sang dokter tersenyum maklum."Semuanya selamat dan berjalan dengan lancar. Selama beberapa jam kedepan pasien akan ditempatkan diruang isolasi dulu. Mohon bersabar."Bastian bernafas lega, tubuhnya lemas dan merosot kebawah, seolah dia sudah tak punya tulang lagi."Ba-bagaimana dengan bayi nya?""Sangat sehat dan sempurna. Sementara kami akan menempatkannya di ruang khusus. Anda bisa melihatnya nanti.""Fang! Apa yang harus aku lakukan? Aku sangat bahagia, juga bersyukur.""Lakukan seperti biasanya tuan. Saya bisa menyiapkan segalanya."Fang ikut berjongkok disamping tuannya yang terduduk lemas dilantai."Tapi aku, seperti tak bertulang.""Apa anda mau saya menggantikannya untuk anda tuan?"Bastian tersentak menatap Fang."kau mau?""Tidak!" jawab Fang yakin dengan gelengan kepala mantap."Sialan kau!""
Davi meniup luka di wajah Jil. Dia mengobati bekas pukulan Andi. Davi menatap pria yang terus memperhatikannya itu."Kenapa?" tanya Davi masih mengolesi luka di wajah Jil."Seorang dokter tidak boleh terlihat memiliki memar seperti ini." ucap Davi lagi."Aku sangat bersyukur pria itu memukulku sampai seperti ini."Davi menghentikan pergerakan tangannya,"Dengan begitu aku bisa sedekat ini denganmu."Davi terkekeh kecil."Jangan menggombal." cibir Davi masih terkekeh."Harusnya kau yang menghajar dia. bukan bersikap sok gagah seperti tadi, tapi justru kena pukul lebih banyak." Ejek Davi dengan senyum geli."Sudah kubilang aku ini dokter. Mana boleh dokter menambah jumlah pasien rumah sakit dengan tangannya yang berharga ini."Davi tergelak."Jangan kau samakan dokter dengan ganster macam duo macan FB."Davi terdiam sejenak mendengar duo macan FB."Siapa duo macan FB?""
Fang berjalan dalam gang sempit di sekitar kosan Davi. Pria itu mengenakan jaket dan sepatu boot kulit. Fang berhenti tepat di ujung gang, di mana dari sana dia dapat melihat kosan Davi dengan lebih penuh dan leluasa.Fang menggigit batang rokok di mulutnya, menyalakan memantik dan menyulut rokok. Api telah padam. Bara tembakau dari rokok menyala-nyala oleh kuatnya isapan dari mulut Fang. Dia menjepit batang rokok dengan jarinya, dan menyemburkan asap ke udara.Mata elangnya tak lepas menatap bangunan tua itu dalam pekatnya malam.***Pagi yang cerah, menggantikan malam yang dingin dan gelap. Membawa hari baru yang lebih ceria, suara riang burung gereja yang hinggap di dahan pohon di samping Vila Bastian membangunkan Vio yang masih terlelap dalam pelukan hangat suaminya.Vio mengangkat lengan Bastian dari atas perutnya dengan hati-hati. Vio perlahan turun dari ranjangnya, berjinjit menuju kamar mandi, guna membersihkan diri.Pagi






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.