Se connecterIndira sakit hati, saat satu persatu kebiasaan buruk suaminya terungkap. Selain harus rela menerima Zahra sebagai madunya, lelaki yang bergelar suaminya itu juga mempunyai segala sifat dan keburukan di belakangnya. Tekad Indira hanya satu, membalaskan sakit hatinya, sebelum akhirnya pergi jauh bersama dengan anak semata wayangnya. Sanggupkah Indira menerima semuanya dan hidup bahagia dengan kebahagiaan yang baru. Baca Sekarang!
Voir plusJam 5 pagi Neta sudah bangun. Tubuhnya direnggangkan. Rasa pegal terasa dibadannya. Tadi malam Neta habis menangani pasien caecar Golden retriever. Pagi ini dia ingin melihat kondisi dari pasien berkaki empatnya apakah audah sadar atau belum.
Dilihatnya kandang dimana makhluk cantik itu berada. Infus masih terpasang tapi anjing itu sudah bangun. Tubuhnya masih lemah akibat pengaruh obat bius yang belum hilang.
Waniita cantik ini adalah Neta seorang dokter hewan pemilik klinik bernama " " Pet Animal " . Sebuah klinik peninggalan ayahnya. Ayah Neta
adalah dokter hewan sekaligus dosen Fakulltas Kedokteran Hewan di Universitas terkenal disalah satu kota besar. Ibunya dosen Farmasi di universitas yang sama.2 tahun sejak orang tuanya meninggal otomatis pengelolaan klinik hewan tersebut dia yang harus mengambil alih. Neta adalah anak tunggal. Untungnya sejak mahasiswa Neta sering membantu ayahnya di klinik sehingga dia sudah terbiasa dengan pengobatan hewan lagi pula juga membantu perkuliahannya.
Ayahnya membeli sebidang tanah disamping rumah yang kebetulan pemiliknya butuh uang dan pindah keluar kota. Awal mulanya klinik itu kecil saja. Ayahnya mendirikan klinik untuk mengisi waktu luang setelah mengajar disamping itu juga membantu orang orang yang membutuhkan tenaganya untuk mengobati hewan peliharaan saat sakit dan sadar akan kesehatan hewan.
Saat itu tidak banyak dokter hewan yang praktek dikota Surabaya.
Setelah Neta lulus kuliah dan menyelesaikan profesi dokter hewan dia membantu ayahnya sebagai asisten. Kecintaan Neta terhadap hewan tumbuh sejak kecil.Ayahnya memberi dia anjing chocho dan seekor kucing Persian. Dia memberi nama anjingnya Cleo sedang kucingnya diberi nama Wimpi. Kedua hewan itu seolah tidak bisa dipisahkan satu sama lain maklum mereka dipelihara sejak berumur kisaran 2 bulan. Sampai saat ini Cleo dan Wimpi menemani Neta dirumah.
Sesudah mandi Neta cepat cepat menyambar roti yang sudah disediakan Bik Inah dimeja makan dengan segelas kopi susu kesukaannya.
"Pagi Dok" sapa Ferdy asistennya, dokter magang yang membantu Neta diklinik.
'Pagi juga Fer, tumben ko pagi sudah datangnya "
"iya nih Dok, mau cek si Miko sekalian bawain pesanan dokter kemarin, obat cacing sama dog food " jawab Ferdy
"Tolong kamu cek suhu Si Miko, tadi malam sempat naik sih tapi aku rasa pagi ini harusnya sudah normal "
"Siap Dok " .
"Sini sarapan kue dulu, kalau mau kopi buat sendiri ya atau minta tolong Bik Nah buatkan"
"Ma kasih Dok, kopi saja tadi sudah sarapan dirumah"
Neta mempunyai 2 asisten magang yang bernama Ferdy dan Santi serta1 dokter hewan sebagai stafnya. Sedangkan karyawan yang menangani grooming ada 6 orang.
Stafnya bernama Erika. Dia adalah teman satu angkatan sekaligus sahabatnya difakultas. Setelah lulus kuliah Erika diterima dipabrik pakan ternak sedang Neta membantu ayahnya di klinik. 3 tahun bekerja dipabrik Erika rupanya tidak tahan. Dia memilih memgundurkan diri saat pabriknya membuka kantor cabang diluar pulau karena dia ditugaskan sebagai kepala cabang disana.
Erika tidak sanggup meninggalkan ibunya yang janda dan 1 orang adik perempuannya yang masih duduk dibangku SMA kelas 2. Erika memang menjadi tulang punggung keluarganya sejak ditinggal pergi sang ayah karena sakit jantung. Kematian ayahnya yang mendadak membuat Erika menjadi tulang punggung ibu dan adiknya.
Untungnya saat Erika menolak dipindah diluar pulau dan lebih memilih mengundurkan diri saat itu Neta butuh dokter hewan yang bisa menggantikan dirinya diklinik saat Neta visite pasien luar dan Erika menerima tawaran itu.
Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Neta berganti baju. Dia memilih memakai celana jins 7/8 dipadu dengan kaos polos warna ungu.
Wajahnya yang cantik dengan hidung macung , alis sedikit lebat, kulit putih membuat Neta hanya menggunakan sedikit riasan saat bekerja.
Rambutnya lurus, panjang dibawah telinga model bob dengan bagian belakang ditrap sehingga tampak menggembung dan sangat cocok dengan penampilannya yang lincah dan selalu bergerak aktif.
Selesai berdandan Neta masuk keklinik lewat pintu samping yang menghubungkan rumah induk dengan klinik. Saatnya bekerja.
Bab 101Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, keadaanku mulai sedikit membaik. Rasa nyeri di punggung tidak terlalu terasa sekarang. Meskipun masih tidak bisa bergerak bebas. Tapi karena perawatan yang maksimal, aku pun cepat pulih.Yuda juga semakin perhatian padaku. Pria itu setiap waktu selalu datang dan menjalankan kewajibannya. Pagi-pagi Yuda akan pulang ke rumah untuk mengurus anakku, siangnya mengurus pekerjaan hingga sore, dan malamnya dia akan menemani sambil bercerita tentang kesehariannya dalam mengurus bisnis kuliner miliknya, serta mengecek toko kue milikku. Sikapnya yang periang dan suka bercanda mampu membuatku tersenyum tiap waktu. Yuda juga kerap kali menceritakan apa saja kejadian yang lucu. Aku selalu tersenyum saat melihat kebahagiaan terpancar dari matanya. Rasa benci dan sakit hati yang sebelumnya hadir, sirna begitu saja, setelah mendengar pengakuan dan penjelasannya. Pria itu, benar-benar tidak bersalah dan dia sudah mengatakan semuanya. Dan aku per
Bab 100Mini POV YudaKutatap layar ponsel yang terus-terusan menyala. Panggilan dan pesan terus masuk beruntun dari orang yang sama. Yanti.Entah harus dengan cara apalagi aku menghindari dan menjauhkan dia dari kehidupan kami. Langkahnya yang bersih tanpa jejak membuat pihak kepolisian kesulitan untuk menangkapnya. Kalaupun dia berhasil ditangkap, entah bagaimana caranya hingga wanita itu bisa berkeliaran dengan bebas di luar sana. Meski kuduga ada pihak dalam yang ikut serta membantunya kepergiannya. Bukan hanya saat di lapas, bahkan saat di rumah sakit saja dia bisa melarikan diri entah bagaimana caranya.Saat itu memang kebodohanku, yang mau saja bicara berdua dengannya. Setelah ayah dan ibunya terus meminta untuk datang ke rumah sakit. "Lepaskan Indira, Yuda. Ayo kita menikah. Aku akan menjadi wanita yang baik, dan akan kupastikan kamu lebih bahagia bersamaku.""Kau sudah gila. Sekian lama aku menunggunya dan sekarang hampir kudapatkan, jadi mana mungkin aku akan melepaskannya
Bab 99Aku tertegun di tempatku. Tak menyangka dengan pesan yang kubaca barusan. Apakah Yanti sengaja melakukannya atau dia hanya menakut-nakutiku, karena dia masih belum rela jika Yuda sudah menikah denganku. Tapi jika dipikir-pikir, bukankah beberapa saat lalu pria yang sudah menjadi suamiku itu juga tengah berkirim pesan dengannya. Aneh."Apa yang kamu lihat?" Yuda mendekat dan mengambil alih ponselku. Keningnya langsung berkerut dan terlihat kesal setelah ikut membaca pesan yang masuk dari Yanti. Dari sini saja bisa kulihat jika pria itu ikut marah padanya."Kamu tidak mungkin percaya dengan apa yang dikatakan wanita itu, bukan?" ujarnya dengan wajah sendu. Sepasang manik coklat gelap itu memindai wajahku dengan seksama. Aku memilih duduk menyamping di tempat tidur sambil menunduk."Ayolah, Mbak. Jangan pernah percaya pada kata-kata yang belum jelas kebenarannya!" "Hari ini aku lelah sekali. Bisa tolong matikan lampunya?" ujarku sambil membelakanginya dan menutupi seluruh tubuhk
Bab 98Akhirnya resepsi itu selesai juga, ketika waktu menunjukkan hampir tengah malam. Para undangan yang datang paling akhir didominasi oleh rekan satu profesi dan juga teman-teman Yuda. Dan mereka tampak mengobrol lama sekali.Adi, ibu dan keluarga yang lainnya sudah pulang tepat pukul sembilan malam tadi, mengingat putraku itu sudah merasa mengantuk dan tidak mau tinggal, meskipun Yuda mengatakan tidak masalah jika Adi ingin menginap di kamar yang sama dengan kami. Tapi tentu saja ibu dan yang lainnya melarang. Bahkan sebelumnya mereka semua menggodaku, dengan alasan tidak ingin diganggu, padahal itu tidak benar sama sekali. Lagipula pernikahan ini bukan karena mengejar nafsu yang itu.Aku terlebih dahulu masuk ke dalam kamar yang telah disiapkan sebelumnya. Ruangan ini sudah dipenuhi dengan hiasan serta taburan bunga mawar merah di atas tempat tidur juga dua handuk yang dibentuk seperti angsa dengan posisi saling menghadap. Aku menghela nafas berat, membayangkan apa yang terja
Bab 8Pagi ini aku sudah bersiap bersama Mas Agung untuk menemui Zahra. Setelah semalam menyuruhnya menunggu sampai esok hari, lelaki itu menurut juga, meski tak dapat disembunyikan jika dia terlihat gelisah dan cemas."Kamu sudah siap, Indi?" Mas Agung memindai penampilanku saat aku baru saja kelu
Bab 7"Kenapa kamu memberi pilihan sulit, Indira?" Mas Agung bertanya dengan mimik muka yang terlihat kaget yang justru membuatku sedikit tersenyum. Lelaki itu mengacak rambutnya kasar, sepertinya dia bingung harus memilih.Kamu harus diberi sedikit pelajaran Mas, sebelum aku menyelidiki perbuatan
Bab 6Jam satu siang, Mas Agung dan Adi tiba di rumah. Entah kebetulan atau tidak, mereka datang bersamaan, yang jelas seperti biasa muka Adi terlihat kesal saat bersama ayahnya. Ini bukan kebetulan, Adi seperti tidak menyukai Mas Agung."Kok bisa barengan pulangnya?" Begitu berucap salam, segera
Bab 5Makanan yang tersaji tidak lagi memberikan selera. Ternyata memang percuma aku menyiapkan makan siang untuk Mas Agung, nyatanya dia sama sekali tidak menghargai usahaku. Sia-sia saja. Padahal aku ten












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentaires