LOGINTamara dijadikan sebagai penjamin hutang kekasihnya dan bahkan dipecat dari pekerjaannya karena difitnah oleh rekan kerja. Tak berhenti sampai di situ, Tamara juga membutuhkan uang untuk biaya operasi adiknya. Namun, kehidupan Tamara seketika berubah setelah dirinya dipertemukan kembali dengan Davis— pria yang sempat menghabiskan cinta satu malam dengannya. Tamara tak menyangka bahwa Davis adalah CEO di perusahaan tempat dia melamar pekerjaan, dan yang lebih mencengangkan lagi, Davis memintanya untuk menangani proyek membuat bayi dengannya!
View MoreThe rain was so heavy. It poured from the night sky, soaking Aria Whitmore to the bone as she stood frozen on the marble steps of the Blackwood Estate.
Her fingers trembled around the divorce papers, their edges now soft and ruined from the downpour. Yet, the storm outside was nothing compared to the one tearing through her chest. Inside the gala, it blazed with life, crystal chandeliers casting golden light on women in silk gowns and men in tailored suits. And at the centre of it all stood her husband, Ethan Blackwood. Her heart tightened as she watched him slip his arm around Selena Hart, the woman everyone knew as his mistress but no one dared to confront. The cameras loved them. The society elites toasted to them. And Ethan? Ethan smiled for them. He smiled for her. “Ethan,” Aria’s voice cracked as she stepped into the hall, ignoring the looks that followed her soaked figure. Her eyes met with his. His smile didn’t fade. “Aria,” he greeted, as if she were nothing more than just a friend. “You should’ve stayed home.” Her throat burnt, but she swallowed the lump forming there. “You brought her here? To our anniversary gala?” Selena’s maroon lips curved in triumph. “Why not? I mean… you’re practically invisible to him these days.” Aria looked back at Ethan, desperately searching for a flash of remorse. “I gave you six years of my life. I stood by you when you had nothing. When your company was collapsing, when no one else believed in you. I was there!” A whisper echoed through the crowd. But Ethan simply adjusted his cufflinks. “You were useful, Aria. I won’t deny that.” Useful. The word sliced through her like broken glass. Selena laughed softly, curling her fingers around Ethan’s arm muscle. “It’s time to stop living in the past.” Aria could feel the sound of her heart beating in her ears. She brought out the squeezed divorce papers from her purse and placed them against his chest. “Sign them. I’m done.” Ethan’s brows lifted slightly, as if the sight amused him. He didn’t reach for the papers. Instead, he leaned in, his voice low but sharp as a blade. “You can leave… but only when I stop loving you.” Her breath stopped a bit. “I won’t keep you in chains, Aria,” he whispered, his gaze cold and unreadable. “But don’t expect me to let you go.” Her eyes were filled with tears, but she wouldn’t give him the satisfaction. Not here, not tonight. Without another word, she spun on her heel and walked out of the hall, ignoring the look and the whispers popping at her back. She aimlessly drove past the city with blurry eyes, hands tight on the steering wheel. How did it come to this? Six years. She sacrificed six years building his empire, standing in his shadows, and enduring his cold distance while he lavished another woman with the warmth she once knew. Her mind flashed back to their early days. The nights they stayed up building business proposals in their congested apartment. The meals she skipped to help him pay for office space. The dreams they shared when all they had was each other. And now? Now she was nothing but a discarded accessory in his perfect life. A tear slipped down her cheek. “Enough,” she whispered, her grip tightening. “You’ve broken me for the last time, Ethan Blackwood.” The traffic light turned green. “I’ll start over. I’ll build my life again. Without you.” But just as she crossed the intersection, a flash of blinding headlights screamed from her right. A truck, coming too fast and too close. Time slowed. Ethan’s last words echoed in her mind. “You can leave… but only when I stop loving you.” Bang! The impact shattered the world around her. Glass, metal, screams—everything spun, everything faded. Silence. When Aria opened her eyes, the rain was gone. The scent of lavender drifted through the air, strangely familiar. Her head ached as she pushed herself up, finding herself wrapped in soft, lilac sheets. Her old sheets. Confused, she swung her legs off the bed and staggered to the mirror. The girl staring back at her wasn’t the woman who had just faced her husband at a gala. Her hair was longer, darker, and untouched by the expensive dyes she’d grown used to. Her face, softer, rounder, still bearing the innocence she’d lost. The silver wedding band? Gone. Her eyes went to the calendar on her desk. March 18th. Her heart pounded against her ribs. This was… This was three years ago. Before the marriage. Before the betrayal. Before it all. Her knees collapsed, and she gripped the edge of the desk to steady herself. “This… This isn’t possible,” she whispered, breathless. A loud knock at her door, followed by a familiar voice, one she hadn’t heard in years. “Aria! We’re going to be late for the Whitmore Corporation interview! Hurry up!” Her blood ran cold. That voice. It belonged to Mia, her best friend who’d cut ties with her after the divorce. Mia, who hadn’t spoken to her in years. Aria staggered to the door and flung it open. There stood Mia, young and smiling, just as she had before everything went wrong. “What’s with you? You look like you’ve seen a ghost,” Mia laughed, tilting her head. Aria couldn’t breathe. Couldn’t think. “I… I…” She reached out and hugged Mia tightly, tears streaming down her cheeks. Mia stood in surprise. “Whoa, okay! What’s this about?” Aria pulled back, her mind racing. “Nothing. I just… I’m glad you’re here.” Mia gave her a strange look but grinned. “Come on, drama queen. If we don’t leave now, you’ll miss the interview with Ethan Blackwood’s company.” The name hit Aria like a punch. Ethan. This was the day she first met him. Her heart was beating fast. This was her chance to rewrite everything, to choose differently, and to never let him in. Aria’s lips parted as the realisation set in. She had been reborn.Bellatrix menghela napas dalam-dalam. Udara malam yang begitu dingin terasa begitu menusuk hingga membuatnya tidak tahan berlama-lama di luar. Wanita paruh baya itu langsung melangkah masuk ke dalam gedung tempat dimana biasa anak-anak buahnya berkumpul. Tiba di sana, kedatangannya langsung disambut oleh Ollie yang sudah menunggunya sejak tadi.“Selamat malam, nyonya.”“Tidak perlu basa-basi. Aku tidak ingin membuang-buang waktu. Langsung antarkan saja aku pada mereka!” ucap Bellatrix tanpa menoleh sama sekali. Wanita berpakaian serba hitam itu kini berjalan dengan tergesa-gesa dengan Ollie yang mencoba mengimbangi langkahnya.“Mereka sudah menunggu di ruang biasa, nyonya. Begitu tiba, aku langsung meminta mereka berkumpul di sana sesuai dengan permintaan anda.”“Bagus! Lalu bagaimana dengan tugas lain yang aku berikan padamu?”“Saya sudah berhasil mendapatkan informasi yang anda minta. Hanya saja…, ada beberapa hal, nyonya,” gumam Ollie dengan kepala tertunduk. Bellatrix yang mendeng
“Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan denganku, sayang?” Bellatrix menatap wanita di hadapannya dengan raut wajah bingung. Tidak biasanya wanita di hadapannya ini memasang ekspresi serius seperti ini.“Kau sudah tahu kalau dia kembali, kan?” Hailey melontarkan pertanyaan retoris. Bellatrix sama sekali tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya. Akan tetapi, walau terlihat begitu jelas, dia masih tetap berusaha untuk tenang seolah tidak mengerti dengan maksud dari perkataannya.“Apa maksudmu?”“Kau tahu apa maksudku. Orang yang selama ini menjadi penghalang! Kau sudah tahu dia kembali, kan? Maka dari itu, kau meneleponku kemarin, ya kan?” Hailey menatap wajah Bellatrix intens. Dugaannya tidak akan mungkin salah. Bellatrix pasti sudah bertemu dengan Serena. Itulah kenapa dia meneleponnya kemarin.“I-Itu…, darimana kau tahu? Apakah jangan-jangan kau…”“Tidak ada yang perlu ditutup-tutupi lagi. Sekarang aku mengerti alasan kenapa kau menghubungiku kemarin. Itu pasti karena kau suda
Hugh terdiam memandang Serena yang kini duduk di hadapannya sambil melahap makanan yang baru saja di sajikan di hadapan mereka. “Bagaimana? Kau menyukainya?” tanya Hugh, sambil menunggu respon darinya.Serena mengunyah makanan di mulutnya sebelum mengutarakan pendapatnya. “Ini enak. Aku menyukainya.” Serena tersenyum simpul.“Sudah aku duga kau pasti akan menyukainya!”“Darimana kau tahu ada restoran seenak ini?”“Aku tidak sengaja menemukannya ketika aku dan Shawn pergi ke taman hiburan beberapa waktu lalu. Tempat ini sangat ramai, jadi aku pikir tidak ada salahnya untuk berkunjung ke sini. Selain itu, aku juga sempat melihat review di internet tentang restoran ini, dan ternyata memang bagus.”“Oh, begitu… tapi ini sungguh enak!” Serena kembali melahap makanannya. Sekarang ini, Serena dan Hugh sedang berada di restoran. Mereka sedang menikmati waktu makan siang bersama. Saat di rumah, Hugh melihat Serena sangat kelelahan dengan pekerjaannya, dan karena sudah saatnya jam makan siang,
“Kalau begitu, saya permisi.” Aiden tersenyum lantas berlalu meninggalkan ruangan tersebut. Dia berniat untuk menemui putrinya sebelum meninggalkannya, dan membiarkan dia belajar bersama teman-teman barunya.Langkah Aiden mendadak terhenti saat dia melihat Rhys yang berdiri di koridor dengan wajah panik. Pria itu tampak kebingungan mencari sesuatu. Karena tidak melihat Loui bersamanya, Aiden bergegas menghampiri pria itu. “Rhys!”“Aiden, gawat!” Rhys mendekat dengan wajah cemas. “Loui hilang.”“Apa?” Aiden membelalakan mata begitu mendengar penuturannya barusan. “Tadi aku meninggalkan barangku di mobil, dan aku berniat untuk mengambilnya. Tapi Loui tidak mau dan bersikeras ingin menunggu di sini, jadi aku memintanya untuk duduk di sini sebentar sementara aku pergi. Begitu aku kembali, dia sudah tidak ada.”“Astaga, kau seharusnya tidak boleh lengah. Loui itu anak yang tidak bisa diam. Sekarang ayo cari dia sebelum dia melakukan sesuatu yang bisa membahayakannya!” Aiden dan Rhys lantas
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.