LOGINBintang Sabda Alam, gadis remaja bertubuh tambun, dekil dan jerawatan akibat masa pubertasnya, tergila-gila pada Christian Diwangkara Junior. Anak sahabat orang tuanya yang dewasa, canggih dan sudah memiliki pacar seorang model professional. Hingga suatu hari, secara tidak sengaja, ia mendengar kalau laki-laki pujaannya itu menghinanya dengan sebutan buntelan jerawatan pada pacarnya. Sejak hari itu Bintang bersumpah bahwa tidak akan pernah lagi menampakkan dirinya di hadapan Tian sebelum ia kurus dan tidak kalah cantik dari pacarnya. Enam tahun kemudian mereka bertemu kembali dalam keadaan Bintang yang sudah berubah 180 derajat dari masa remaja culunnya. "Kamu yang sesempuna ini, mana mungkin dibandingkan dengan buntelan jerawatan seperti bocah halu itu? Kayak bumi dan langit tahu?" -Christian Diwangkara Junior. "Kalau mau ngejelek-jelekin orang, ngomong di depannya dong. Suka banget sih main belakang! Situ banci atau gay?" -Bintang Sabda Alam
View MoreAmelia's POV:
"Hello, Amelia," the smooth baritone says over the phone, and my eyes go wide immediately. My pulse quickens as my brain produces a face to match the voice almost instantly. It is the one face I had tried so much to get over - the one face that makes my heart beat erratically and my thighs tingle shamelessly. My treacherous body and heart cloud my common sense when it comes to this one man. "Who is this?" I say, unable to keep the trembling out of my voice as I woefully pretend not to recognize his voice. I clear my throat, but my heart is still beating like a wild, untamed animal trying to break free in my chest. "Tsk tsk tsk. You don't recognize my voice? That's too bad, Amelia," he says. I can hear the disappointment and slight amusement in his low, smooth baritone. It makes my pulse jump. It makes my mouth dry, even as I moisten my lips with my tongue. Ashley, my roommate and best friend, is watching me with her brows furrowed into a question mark across the room. I look away from her, cupping the phone closer to my ear. "What do you want, Mr. Tanner?" I whisper harshly. What could he be calling me about at this time of the night? It is 10 p.m. on a random Tuesday. We haven't spoken in three years since the funeral of my mom. I wanted nothing to do with him. I have successfully run away, hiding from him, hoping he would not be able to reach me. "I thought we agreed on you addressing me by just Linc." His voice cuts into me, but I can't pull the phone away from my ear. I am drawn, and yet my brain yells at me to just drop the call and block this new number. But I don't listen because he will just call me again. He will always find me, or I always allow myself to be found. Ashley, having sensed my need for privacy, stepped out of the room already. "Mr. Tanner," I take a deep, shaky breath to steady my nerves so I don't sound like a scared, squeaky mouse over the phone, "Why are you calling me at this time of the night with a strange number?" I fail; I bite down on my lower lip in muffled anger. It's been so long since I heard his voice, his deep baritone voice that sends swarms of butterflies in my lower belly, my nipples hard as nuts, pressed tightly to my crop top. "Because you blocked all my other numbers and cut everyone else off," he snaps. Though there is still that hint of amusement in his voice, like he is enjoying toying with my emotions like this. He knows what he's doing; he always does, and I swear on my life he could literally picture me shaking for him. "Yes, and?" I say with a brow raise like he can see me, hoping I'm doing a good work at acting unaffected and unbothered as though I hadn't masturbated an hour ago with his halfnaked picture I saved on my phone from social media account. Hell yes! You can say I'm stalking him, too. God! Seeing him shirtless, his shorts hanging lower beneath his hip brought waves of forbidden feelings I never knew existed within me. My pussy watered at the sight of him, throbbing and clenching like a wanton slut. "Ames, darling, you worry me," Linc Tanner, my stepfather breathes into the phone, and heat rises to my face at that damn nickname. That nickname coming out from his forbidden lips, capable of making my toes curl, my knees bend before him, taking all of him deep into my throat. "Don't call me that!" I yell, cutting him short. My face is going red. I hate the way my body reacts to him. Every part of me awakens at the sound of his voice. It terrifies me; it excites me. "I will call you what I want," he replies calmly and dangerously low and then continues in the same calm tone like I am not huffing and puffing over the phone at him, "It has been three years, and I needed to know how you were doing. I haven't been able to stop thinking about you," He pauses like he is rethinking his choice of words, and I hold my breath, refusing to think too much about the fact that he just said he hasn't been able to stop thinking about me, "Wondering how you were coping," he adds finally. I exhale. The sudden vulnerability in his voice drives a sharp sting directly to my heart. It hurts for a second, and then I pull my defensive walls up again, guarding that traitorous organ called the heart. "It is not in your place to worry about me. I am not your responsibility. I am doing perfectly fine on my own," I bite back, but deep down a surge of joy was gradually brimming. He had not been able to stop thinking about me. That last word got stuck in my head, deeply imprinted in my brain. I pressed my thighs together, hoping to calm the aching feeling in between. I could feel it throbbing, tbrobbing for him. He obviously has not called me to talk about my shortcomings in the way I handled the aftermath of my mother's funeral three years ago. That is why I had his numbers blocked. I know Linc Tanner is rich enough to find me within days, but I hoped that common sense would tell him not to bother me regardless, and he didn't. "You know that is not true. I am your guardian; of course, it is in my place to worry about you," Linc says, his smooth baritone pierces me like a lash. I imagine him pulling his hand through his thick wavy jet-black hair in quiet frustration. It is one of the things I noticed about him immediately when I was first introduced to him four years ago. That thick midnight dark hair. For his age, it was ridiculous for his hair to still be that youthful looking, that mouthwatering, the sexiest man I have ever set my eyes on. But that was Linc Tanner. A walking contradiction of a man.Bila esok kau tertawa lepasEntah dengan siapa,Ketahuilah aku orang pertamaYang paling merasa lega. Bila esok kau digenggam eratEntah oleh siapa,Ketahuilah tanganku akan ikhlas melepaskan genggamannya. Dan bila esok kau berbahagiaIngatlah,Hatiku adalah tempat pertamaYang diguyur hujan tak henti-hentinya. ================================== Kamu yakin tidak ingin Kakak temani, Bintang." Tian menahan langkah Bintang yang akan memasuki cafe tempatnya dulu biasa bertemu dengan Bumi. Bintang melihat kecemburuan, kecemasan dan rasa khawatir yang kental dari air muka suaminya. Wajar saja kalau Tian merasa gelisah. Suami mana yang bisa tenang-tenang saja saat mengetahui istrinya akan bertemu dengan mantannya di tempat yang penuh dengan kenangan lama mereka berdua. Tetapi tadi ia telah meyakinkan suaminya bahwa ia
"Anda salah paham, Pak. Saya sama sekali tidak bermaksud untuk melakukan tindak pelecehan terhadap putri Bapak. Saya hanya bermaksud untuk menolong putri Bapak yang hampir saja jatuh terjerembab dari atas motor saya. Perlu Bapak ketahui, sebelumnya putri Bapak ini baru saja terjatuh dari sepedanya. Putri Bapak belajar naik sepeda di tengah jalan raya."Galih memberi hormat ala militer pada seorang pria setengah baya yang mengaku-ngaku sebagai ayah dari gadis aneh ini. Pipinya berdenyut dan sudut bibirnya sedikit mencecap rasa asin akibat di hajar oleh bapak-bapak galak ini. Ternyata walau pun sudah tua tenaga bapak-bapak ini masih ampuh juga."Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Anda karena telah menolong anak saya. Tapi kalau memang Anda niatnya hanya ingin menolong putri saya, kan tidak perlu seerat itu juga cara memeluknya. Lama lagi. Itu sudah modus namanya." Chris walau pun mengucapkan terima kasih, tapi tamp
"Ayo silahkan dicicipi semuanya. Ini ada makanan kecil sebagai teman minum kopi. Ini teh namanya lekker khas Bandung, pisang goreng dan martabak manis. Ayo silahkan di cobain, Bapak-Ba--"Jika tadi Bintang yang muntah-muntah, maka, kali ini Tian lah yang mengeluarkan isi perutnya di dalam closet kamar mandi. Tian memang akhir-akhir ini tidak bisa mencium aroma tajam makanan atau minuman yang berempah. Perutnya akan langsung berontak seketika."Lho Kak Tian kenapa sih? Kok muntah-muntah begitu? Padahal enak banget ini kue lekkernya. Harum semerbak menggoda rasa. Eh ini juga ada martabak manis." Bintang malah kesenangan dan melahap dengan semangat aneka jajajan pasar yang disajikan oleh Pak Harjo. Beda dengan suaminya yang terus saja hoek hoek di kamar mandi."Kak Tian sakit ya? Apa perlu kita ke rumah sakit sekarang?" Bintang mengurut-urut punggung Tian yang terkadang masih tersentak-sent
Huekkk... huekkk... huekkk...Bintang tidak sanggup lagi menonton sisa adegan-adegan dalam video itu. Benaknya mendadak dipenuhi kejadian sesaat sebelum video itu direkam. Ingatnya tentang kejadian ini yang dulu hanya berupa beberapa lintasan samar, kita telah tersingkap sedikit demi sedikit. Setelah meminum segelas tequila Reno ditambah lagi dengan segelas margarita Fanny, Bintang mulai merasa kepalanya menjadi ringan dan langkahnya juga bagai melayang-layang. Kakinya bahkan seolah-olah tidak lagi menapak di bumi. Benaknya kosong dan hanya dipenuhi oleh percikan warna warni indahnya kembang api. Ia pun menjadi gembira luar biasa dan tertawa-tawa tanpa sebab yang jelas. Dia bahkan melihat wajah Bumi seperti ada dua orang. Tubuhnya bergerak sendiri dan terus saja bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan. Anehnya lagi semua orang yang dilihatnya mendadak menjadi kembar dan berbayang-bayang. Samar-samar ia merasa tubuhnya seperti digen












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore