Mag-log inDiam-diam Adelaide mendatangkan seseorang tanpa sepengatahuan Alexander. Pria itu pasti sudah sibuk bersama Serafina.
Sir Vance—seorang advokat hukum kerajaan yang cukup kondang, pria itu datang ke kastil utara—tempat yang ditinggali oleh Duchess. Perbincangan empat mata terjadi di ruangan pribadi Duchess. Suasana yang dingin dan senyap menyelimuti. “Kira-kira butuh waktu berapa lama untuk menyelesaikan surat gugatan itu, Sir Vance?” Adelaide menatap tanpa riak pada seorang pria setengah usia yang duduk di hadapannya di dalam kastil utara tempat tinggalnya. Pria tua itu sedikit canggung. “Bisa sekitar satu hingga dua bulan, Duchess. Tapi Anda jangan khawatir, Anda bisa menyerahkan draf perjanjian pemisah sukarela dalam minggu-minggu ini pada Tuan Duke.” “Baiklah. Tolong selesaikan dengan cepat...” Adelaide menjeda ucapannya, lalu beralih menatap jendela yang terbuka. “Karena, kurasa pernikahanku dan beliau sudah tidak bisa dipertahankan lagi.” “Hal ini akan memicu perdebatan warga bila sampai banyak orang yang mendengarnya, Duchess.” Sir Vance menuturkan. “Aku tahu. Tapi... inilah keputusanku.” Ucapan Adelaide singkat dan tidak bisa dibantah. Tekad api terpancar dari matanya. Bahwa Duchess muda itu tidak main-main dengan rencananya. Akhirnya, Sir Vance pun berpamitan pergi. Adelaide berdiri dari duduknya. Wanita itu menatap kosong ke arah jendela kastil yang terbuka. Di jauh mata memandang, Adelaide tidak sabar ingin membawa putri kecilnya pergi dari tempat ini, lalu memulai kehidupan yang lebih baik bersama Ivony, hanya berdua saja. Adelaide mengembuskan napasnya sebelum ia memutuskan untuk keluar dan menemui Ivony. “Ini sudah waktunya Ivony minum ASI,” gumam Adelaide berjalan membuka pintu ruangannya. Ia berjalan tergesa ke arah kamar. Tapi saat Adelaide membuka pintu, ia tidak menemukan bayinya di dalam kamar. Tubuh Adelaide membeku seakan aliran darahnya terhenti dan napasnya tercekat mencekik kerongkongan. “Ivony!” Adelaide menoleh ke arah pintu penghubung dengan kastil Duke. Tanpa membuang waktu, Adelaide langsung berjalan cepat ke tempat itu. Kejadian ini tidak terjadi di masa lalu karena sejak dulu Adelaide cukup mempercayai Serafina. Tetapi sekarang semua itu berbeda. Bayangan kematian Ivony yang tragis masih tersimpan jelas di kepala Adelaide. Begitu sampai di ruang tamu kediaman Duke, Adelaide melihat Serafina menggendong Ivony. Pelayan Mica yang berada di sana tampak was-was menatap Adelaide yang terlihat marah. Wanita itu terkejut melihat kemunculan ibu sang bayi. “...Duchess,” lirih Serafina. Tanpa dosa dia tersenyum. “Maaf, saya membawa Ivony tanpa berpamitan pada Anda.” Adelaide mendekat dan langsung merebut bayinya dari Serafina. Ia melayangkan tatapan tajam. “Bukankah sudah aku peringatkan pada siapapun di rumah ini untuk tidak menyentuh putriku tanpa seizinku!” Adelaide menatap pelayannya dan juga Serafina yang terkejut dengan kata-kata dinginnya. Serafina tertunduk. “Duchess, saya minta maaf. Duke Alexander tadi sudah mengizinkanku, jadi—” “Izin darinya tidak sah dan tidak berlaku untukku, Lady Serafina.” Adelaide menyela ucapannya. “Ma-maaf...” Serafina tertunduk. Adelaide menatap bayinya yang menggeliat dalam pelukannya. Jantung Adelaide seperti hampir lepas saat melihat Ivony dalam pelukan Serafina—dalam pelukan orang yang membunuhnya di kehidupan pertama. Suara gema derap langkah kaki terdengar di depan sana. Alexander berdiri menatap Adelaide dan Serafina yang tertunduk sedih. “Ada keributan apa ini?” Alexander berjalan mendekat. Serafina mengangkat wajahnya mendekati pria itu. “Yang Mulia, tadi Anda sudah memberikan saya izin untuk melihat Ivony, tapi saat saya menggendongnya, Duchess Adelaide sangat marah pada saya.” Wanita itu berkaca-kaca. ”Demi Tuhan, saya tidak macam-macam dengan Ivony.” Alexander menatap sinis pada Adelaide yang juga melakukan hal yang sama padanya. Setelah berbulan-bulan ia pergi ke medan perang dan menjemput Serafina, meninggalkan Adelaide dalam keadaan hamil. Begitu ia kembali, Adelaide yang biasanya patuh dan diam takut padanya, kini berubah drastis dan berani menatapnya dengan tatapan seperti musuh yang siap menikam. Alexander tidak tahu sejak kapan wanita itu berubah. “Pinjamkan bayimu pada Serafina. Akulah yang memberikan izin padanya untuk bermain dengan Ivony,” ujar Alexander. “Ivony adalah bayi, dia bukan barang yang bisa aku pinjamkan pada siapapun,” tekan Adelaide dengan tatapan datar dingin. “Dan aku adalah ibunya, Tuan Duke!” Serafina mendekati Alexander dan meraih lengan pria itu. Mendongak menatapnya dengan kepala menggeleng. “Maafkan aku, Alex,” lirihnya. Serafina tertunduk dan mengusap air matanya. “Aku baru beberapa hari di sini, tapi sudah membuatmu dan istrimu terus bertengkar. Jangan-jangan apa yang dikatakan oleh keluargaku benar, bahwa aku memang pembawa sial...” “Apa yang kau katakan, Serafina?” Alexander memutar tubuhnya dan memeluk wanita itu, di hadapan Adelaide. “Maaf, maafkan aku Duchess.” Serafina menangis menatap Adelaide, tapi tubuhnya tetap bersemayam dalam pelukan Alexander yang kini berusaha menenangkannya. “Berhenti meminta maaf padanya. Ini bukan salahmu.” Alexander merangkum pipi Serafina, sebelum ia menoleh pada Adelaide. “Wanita itulah yang sama seperti keluarganya, dia... sangat serakah!” Sekujur tubuh Adelaide seperti tertusuk jarum melihat pemandangan itu. Rumor yang beredar luar di Balford saat pernikahannya dengan Alexander—orang-orang mengatakan: bahwa Adelaide hanya akan menjadi pengantin yang menyedihkan. Kisah cinta Alexander dan Serafina sudah seperti dongeng indah yang tertulis sejak mereka masih kecil. Adelaide yang sudah tahu dengan jelas semua kelicikan Serafina, ia bahkan tidak akan gemetar hanya melihat pemandangan ini. Wanita itu membalikkan badannya siap melangkah pergi. “Sekali lagi kau membuat drama murahan seperti ini, kau akan tahu akibatnya, Adelaide!” sinis Alexander membuka ancaman. Adelaide terdiam, wajahnya berubah dingin. Wanita itu menatap bayi kecilnya yang terbangun dari tidurnya. “Aku tidak peduli dengan hal itu dan dengan orang baru yang sengaja kau bawa ke rumah ini....” Adelaide sedikit menoleh tanpa menatap mereka. “Selagi kalian semua menyentuh Ivony, ancamanmu tidak akan berlaku untukku, Tuan Duke!”Ivony terlelap dalam pelukan Alexander. Saat pertemuan penting para strategis perang berkumpul, Ivony yang duduk di atas meja di depan Alexander—anak itu tiba-tiba turun ke pangkuan Alexander dan tidur memeluknya. Alexander tidak pernah melihat Ivony tidur. Terakhir kali melihatnya saat anak itu masih bayi. Kini Alexander bisa melihat Ivony tertidur meringkuk dalam pelukannya. "Anak ini." Alexander berbisik tak terdengar oleh siapapun. "Pertemuan selesai!" putus Alexander tiba-tiba setelah pembahasan selesai. Semua orang pun setuju dan mereka bersiap untuk keluar dari dalam ruangan itu. Alexander menggendong Ivony untuk diajak bersamanya. "Apa Tuan Putri akan ikut dengan Anda?" tanya Eros. "Tentu. Aku akan membawanya pulang bersamaku." "Sebenarnya saya tapi penasaran—bagaimana bisa Tuan Putri keluar malam-malam sendiri tanpa sepengetahuan siapapun." "Ibunya memang ceroboh dan bodoh," balas tuan itu. Setelah mengatakannya, Alexander membawa Ivony pergi bersa
"Tuan Duke, setelah saya berkoodinasi dengan Yang Mulia Raja, beliau meminta saya agar untuk meminta pendapat Anda terkait urusan strategi peperangan." Tuan Seron menunjukkan gulungan peta di tangannya. Dalam selembar kertas itu, ada banyak coretan, nama kawasan, serta banyak lagi tanda-tanda yang memiliki makna tertentu. "Banyak prajurit yang gugur di wilayah selatan. Daerah Elioster bisa jatuh ke tangan musuh dalam waktu dekat bila kita tidak waspada dan mempersiapkan kekuatan baru." Sir Andes pun ikut menjabarkan. Alexander meraih peta di hadapannya dan mempelajari ulang strategi peperangan yang telah dibentuk beberapa bulan lalu. "Kawasan selatan memiliki lokasi yang sangat panas, tidak heran bila banyak pasukan yang gugur karena haus dan kelaparan." Alexander berkata. "Benar, Yang Mulia. Di tenda darurat, pengobatan juga mulai menipis. Para ahli medis juga banyak yang pergi entah ke mana meninggalkan medan perang tanpa rasa tanggung jawab." Alexander memperhatikan Ivony yan
Adelaide menutup pintu kamarnya dengan keras. Ia menyandarkan punggungnya pada pintu dan terdiam dengan rasa marah yang tersisa. Matanya memandang sayu telapak tangan kanannya yang ia gunakan untuk menampar para pelayan-pelayan tadi. Adelaide tidak menyangka ia akan berbuat sejauh ini. Padahal dirinya di kehidupan yang dulu hanya bisa menangis dan bersedih. Tetapi kali di kehidupan yang baru ini, Adelaide mengubah segalanya, termasuk ketegasan dalam dirinya. "Tidak, aku tidak melakukan kesalahan dengan menampar mereka." Suara lirih itu terucap dari bibir Adelaide. "Mereka pantas mendapatkannya." Adelaide mengusap wajahnya kasar. Lalu berjalan menuju ke arah ranjang dan duduk di sana. Adelaide menyadari sesuatu, bahwa sebagian kejadian masa lalu yang menyedihkan sudah ia halau di masa kini. Satu-satunya yang membuat Adelaide ingin berubah adalah demi melindungi Ivony. "Yang Mulia Duchess, bolehkah saya masuk!" Suara keras Pelayan Mica terdengar. Adelaide menoleh ke arah pintu k
Phak! Phak! Nyaring suara tamparan mendarat di pipi kelima pelayan yang sudah berani menghina dan memaki Ivony secara terang-terangan. Para pelayan itu langsung bersimpuh di hadapan Adelaide sambil memegang pipinya yang panas akibat tamparan keras dari tangan Adelaide. "Berani kalian menghina putriku seperti itu, huh?" ucapan Adelaide bercampur kemarahan. "Kalian adalah pelayan di rumah ini. Kalian tidak ditugaskan untuk mencaci maki putriku!" Tangan Adelaide sampai gemetar. Nyalang pandangan matanya seperti singa betina liar yang mengamuk. "Tidak sekali dua kali kalian menghina Ivony tapi aku diam. Kalian selalu mengatakan anakku menjijikkan, anakku adalah kutukan, lalu apa lagi?!" bentak Adelaide pada para pelayan-pelayan yang bungkam tidak berani membalasnya. Tak satupun pelayan berani membuka mulut. Semuanya diam, bungkam. Tiba-tiba salah satu dari mereka mendekati Adelaide dan mencekal kakinya. "Nyonya Duchess, maafkan kami. Kami tidak akan lagi-lagi mengatakan hal seper
Alexander meninggalkan tempat pelatihan ksatria setelah ditolak mentah-mentah oleh putrinya. Para ksatria yang berada bersama Ivony hanya bisa bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi pada ayah dan dan anak itu. "Tuan Putri, tidak seharusnya Anda bersikap seperti itu pada Tuan Duke," tutur Ksatria Armon. Pria berambut keriting hitam bertubuh gempal—menekuk lututnya di hadapan Ivony. "Mengapa tidak boleh, Paman? Tuan Duke bersikap seperti itu pada Ibu," jawabnya. "Apakah Ibu Tuan Putri yang meminta Tuan Putri untuk melakukan ini?" Salah satu ksatria bertanya. Ivony menggeleng sambil menggenggam batang ketapel miliknya. "Tidak. Ini kemauan Ivony sendiri." Anak itu tertunduk sedih. "Tuan Duke tidak pernah perhatian pada Ibu. Sekalinya Tuan Duke perhatian pada Ivony, Lady Serafina terlihat tidak suka. Sebenarnya, apakah Paman tahu, siapa Lady Serafina itu? Kenapa terlihat sangat berharga untuk Tuan Duke?" Ketiga ksatria di samping Ivony kini saling tatap. Mereka tampak bingung m
Setelah menemui Adelaide, Alexander menuju ke tempat pelatihan ksatria. Di sana ia menemukan anaknya yang sedang berlatih dengan para ksatria. Ivony menyadari kedatangannya dan anak itu langsung menoleh dan tatakan tajam pada sang ayah. "Sejak kapan Tuan Duke berdiri di situ?" Ivony tidak ada senyawa ataupun tatapan yang bernyawa padanya seperti kemarin. "Ayah hanya ingin menyapa pada ksatria saja," jawab Alexander, dia berbohong. Pria itu mendekat. "Kenapa kau memanggilku Tuan Duke lagi?" tanyanya. "Tidak apa-apa, setelah dipikir-pikir panggilan itu lebih pantas," jawab Ivony. Pria itu menghampiri Ivony Dan kini ia berdiri di sampingnya. Padahal Ivony beberapa detik yang lalu masih asik bermain dengan para ksatria. Alexander menatap sebuah ketapel yang berada di tangan Ivony. Para ksatria di sana juga ikut saat ditata oleh Alexander, mereka langsung gugup. "Ayah lebih pantas, karena kau anakku." "Tapi Ivony tidak suka. Panggilan Ayah itu berguna hanya untuk seseorang yang pe
Dua tahun Kemudian. "Ibu... bolehkah Ivony menemui Tuan Duke dan memarahinya! Beraninya Tuan Duke menolak laporan pekerjaan Ibu yang kelima kalinya!" Anak perempuan bertubuh mungil, rambut cokelatnya yang bergelombang dikuncir dua dengan hiasan pita, berbalut gaun renda merah muda—berdiri berk
Embun pagi yang turun dari langit, tak sedingin ruang tamu di kastil utara. Dua orang yang tengah berhadapan di sana. Tiada hujan, tiada angin, pagi-pagi buta Alexander memasuki kastil utara hanya untuk bertemu dengannya. Adelaide tidak tahu, apalagi rencananya? Hal ini ia tidak mengingatnya di ma
[Berita panas di Balford! Setelah Duchess Adelaide melahirkan, belum genap bayi perempuannya berusia sepuluh hari, Duke Alexander sudah mengangkat sahabat masa kecilnya untuk menjadi selirnya ] [Kisah cinta Duke dan sahabatnya yang tak terpisahkan, hubungan mereka yang dulunya pupus karena Duke ha
Setelah pertengkarannya dengan Alexander tentang draf perjanjian pemisah sukarela yang hancur menjadi serpihan. Sejak saat itu, Adelaide tidak pernah menunjukkan dirinya lagi di kastil tengah. Bahkan saat acara makan pagi hingga malam, Adelaide tidak datang. Hari-harinya Adelaide habiskan bersama







