로그인Setelah suaminya membawa perempuan lain ke rumah, emosi Shanaz menjadi tak terkendali. Ia pun terlibat kecelakaan mobil dan masuk ke jurang. Anehnya, Shanaz justru terbangun di tubuh wanita muda bernama Nabila. Berbekal wajah dan tubuh barunya, Shanaz pun memutuskan balas dendam pada suaminya yang telah tega mengkhianatinya. Dia akan menghancurkan rumah tangga suaminya dengan istri barunya itu dengan menjadi kepala pelayan di tempat mereka. Lantas, apakah dendam Shanaz akan berhasil terbalaskan? Selain itu, siapkah Shanaz menerima konsekuensi karena menggunakan tubuh wanita lain untuk menghancurkan suaminya?
더 보기I.V
Chapter One: A Blind Date?
Pov: Sarah
The shrill sound of my 6:00 a.m. alarm drilled into my skull like an angry mosquito on steroids. I groaned, burying my face deeper into the lumpy pillow for one last rebellious second before dragging my exhausted body out of bed.In the bathroom, the mirror didn’t lie. Dark circles hung under my eyes like heavy luggage. At twenty-two, I looked closer to twenty-seven on a bad week. I let out a bitter laugh that echoed off the cracked tiles.
“What a pathetic life,” I muttered.After a rushed shower and brushing my teeth so hard my gums stung, I stood in front of my tiny wardrobe. Faded black T-shirt. The only pair of jeans without holes. Same old Sarah. Same tired eyes. Same empty future staring back.
I was about to boil water for my daily punishment of instant noodles when the doorbell rang—sharp, impatient.
Frowning, I opened the door.
Claire stood there looking completely wrecked. Eyes swollen and red, mascara streaked down her cheeks like war paint after a lost battle. The usual bubbly, sunshine energy that followed her everywhere had been switched off.
Without a word, she pushed past me and marched straight into my tiny apartment like she owned it.
I quickly glanced down the hallway to make sure she wasn’t being followed, then locked the door and hurried after her.
“Claire, what’s wrong? Why are you here this early?” I asked, concern cutting through my sleep fog.
She spun around, fresh tears already brimming. “Why weren’t you answering my calls?! I thought something bad happened to you!”
I raised my hands in surrender, offering a small laugh. “Relax, I was just getting ready for work. Phone’s on the shelf. Sorry.” I studied her face. “But you didn’t drag yourself here at dawn just because I missed a few calls. Spill it.”
Claire wiped her tears with the back of her hand, smearing more mascara. “Sarah… My dad arranged another blind date for me. Tonight.”
Her voice cracked. “But I already promised Rand I wouldn’t go on any more dates. I love him, Sarah. I can’t lose him.”
I frowned. “What about your mom? I thought she was on your side.”
She groaned and collapsed dramatically onto my unmade bed. “Mom agrees with everything Dad says. I’m trapped in this rich-girl-prison nightmare.”
I watched her pace my small room like a caged animal, ranting about her controlling father, her mother’s blind loyalty, and how Rand was the one. When she finally stopped to catch her breath, I asked the obvious.
“So… what’s the plan? You know you have to show up, right? Unless you want Daddy to cut off your allowance again.”
That was when Claire’s entire expression changed.
She grabbed both my hands, eyes suddenly wide with desperate hope. The pity in her gaze hit me like a truck, pity mixed with guilt and calculation.
“Actually… I do have a plan,” she said softly. “But it’s not for free. I’ll pay you.”
I narrowed my eyes. “Pay me for what?”
She bit her lip, reading my face carefully before dropping the bomb. “I want you to go on the blind date in my place. I’ll pay you a thousand dollars. Please, Sarah.”
I stared at her as if she had completely lost her mind. I snatched my hands away. “What? That’s ridiculous!”
Claire stepped closer, her eyes shimmering with fresh tears—real ones this time, full of pity and pleading. “Sarah, please… I know how crazy this sounds. But you’re my only hope. Rand would be heartbroken if he found out. I can’t do this to him.”
I started pacing the tiny room, hands raking through my messy hair. I stopped, turned to her, mouth open to refuse again—then paced even faster, my bare feet slapping against the cold floor.
“I can’t pretend to be you, Claire. This is insane. What if he recognizes I’m not you? What if—”
“I’m going to pay you,” she cut in, voice steady and tempting.
I froze mid-step.
“What?” I asked, barely above a whisper.
Claire pulled out her phone, waved it at me, and tapped the screen. My own phone vibrated on the shelf almost instantly. I picked it up with shaky fingers.$1,000.00 has been transferred to your account.
My eyes widened. One thousand dollars. That was five months of rent. Groceries. Electricity that didn’t get cut off. Maybe even new jeans that weren’t from 2019.
I turned to her slowly. “All I have to do is show up… and politely reject him, right?”
She shrugged, a small, relieved smile breaking through her tear-stained face. “Of course. All I want is Rand. No one else.”
Before I could even form another protest, my phone vibrated again, confirmation of the transfer. Claire winced at my stunned expression, then pulled me into a tight hug.
“Thank you, Sarah. I love you.” She kissed my cheek, the scent of her expensive perfume wrapping around me like guilt. “You’re a lifesaver.”
She grabbed her bag from my desk, suddenly looking like the bright, confident Claire again, not the broken girl who had shown up twenty minutes ago.
“Ah, yes,” she added casually as she reached the door, “if you find him hot and actually appealing… you know you can keep the guy.”
With a wink and a click, she was gone.
I just stood there in the middle of my tiny apartment, heart hammering.
What the hell have I just done?
My fingers raked through my hair again as the full weight of the decision hit me. My knees felt weak. I was a second away from collapsing onto the bed when my phone started ringing.
I snatched it up. My boss’s name flashed on the screen.
Oh shit.
I answered with a trembling voice.
“You either get here in the next fifteen minutes,” he snarled, “or you can kiss your job goodbye!”He hung up before I could say a word.
I stared at the phone, heart sinking into my stomach.Another day in paradise.
"Apa kamu pikir aku adalah barang. Yang seenaknya sendiri bisa dipindah tangankan seperti ini?!" Nabila tersulut emosi mendengar pernyataan dari Fernando. Kini dia percaya dengan ucapan dari Lorenzo dan Shanaz yang mengatakan hal-hal buruk mengenai lelaki itu. Dia sekarang mengerti mengapa akhirnya Lorenzo dan Shanaz nekat menikah saat wanita itu terjebak di tubuhnya. Karena selain saling mencintai. Lorenzo pasti ingin menyelamatkan Shanaz. "Bukan seperti tapi–" Fernando mau berkilah. Namun Lita memukul lengannya dengan kencang sambil menangis. Dia tak menyangka kalau ternyata kelakuan suaminya masih tak berubah. Laki-laki yang hanya mengedepankan hawa nafsunya saja. "Keterlaluan! Kamu ceraikan saja aku kalau mau menikahi wanita lain," amuk Lita."Aku juga tidak mau menikah dengan suamimu. Jadi kamu tenang saja," sambar Nabila. Ia kemudian pergi meninggalkan tempat itu. "Permisi!" Lorenzo dan Shanaz sebenarnya kasihan. Mereka berniat mengejar Nabila. Namun terlebih dahulu berpamita
Berbagai pengobatan telah dilakukan oleh Shanaz demi bisa sembuh. Dan setelah 3 tahun usahanya membuahkan hasil. Kini dia sudah cukup sehat untuk kembali ke rumah keluarga besar Lorenzo. Keluarga Lorenzo tak pernah mengetahui cerita mengenai jiwa Shanaz yang selama ini terperangkap di dalam tubuh Nabila. Dan saat tiba-tiba Shanaz muncul di keluarga mereka, Lorenzo hanya berkata kebetulan menemukan Shanaz. "Bagaimana bisa tiba-tiba kamu bertemu dengan Shanaz? Dia kan sudah–" tanya Santi yang tak bisa melanjutkan kalimatnya. Entah mengapa perasaannya campur aduk. Ayahnya juga mempunyai pertanyaan yang sama. Namun memilih diam.Sementara Fernando dan Lita di dalam hatinya merasa cemas. Apalagi kalau bukan masalah uang asuransi jiwa yang dimiliki oleh Shanaz. Mereka takut Shanaz akan mempertanyakannya. Padahal tidak. Shanaz dan Lorenzo tak peduli mengenai masalah itu."Belum Ibu. Shanaz belum meninggal," jawab Lorenzo dengan sopan.Di sana juga ada Nabila. Dia duduk di samping Lorenzo.
Karena kesal Santi mengakhiri sambungan teleponnya secara sepihak. Nabila menjauhkan ponselnya dari telinganya. Lalu meminta penjelasan dari Lorenzo."Siapa itu Edward?" tanya Nabila dengan raut wajah yang serius."Edward adalah kami. Maksudku anakku dengan Shanaz," jawab Lorenzo.Nabila mematung. Kini tak tahu harus berbuat apa. Lorenzo memohon agar Nabila mau pulang dengannya. Ini semua dia lakukan demi anaknya."Anakku membutuhkanmu. Setidaknya pulanglah demi Edward," pinta Lorenzo."Okey. Aku mau mengurus Edward. Tapi di rumah ibuku," sahut Nabila. "Dan 1 lagi. Aku tak mau kamu ikut denganku," lanjutnya memberi syarat. Padahal Lorenzo belum menjawabnya.Lorenzo terdiam. Dia tak bisa menyalahkan Nabila dalam hal ini. Seorang gadis yang tak tahu apa-apa. Tiba-tiba bangun dengan status baru sebagai seorang istri dan anak. Dia berhak marah. Meskipun sebenarnya Lorenzo terlanjur nyaman karena terlalu lama bersama dengan Nabila. "Bagaimana?" tanya Nabila ingin memastikan.Lorenzo tak b
Lorenzo menghargai keputusan Shanaz. Hanya saja dia tak menyangka, bahwa istri yang dia nikahi. Istri yang sanggup membuatnya merasa nyaman setelah kepergian Shanaz adalah mantan adik iparnya sendiri. Yang tak lain adalah Shanaz. "Lalu bagaimana cara agar mereka bisa kembali ke tubuh mereka masing-masing?" tanya Lorenzo."Pejamkan mata. Lalu genggam erat tangannya dan katakan mari bertukar posisi lagi sebanyak 3 kali. Maka kalian akan bertukar posisi seperti semula," jawab orang misterius tadi.Shanaz yang awalnya menunduk lesu karena bimbang, menjadi menoleh ke arahnya. "Kamu mau aku kembali ke badanku?" Shanaz bertanya balik."Semua keputusan ada di tanganmu," jawab Lorenzo. Shanaz dan Lorenzo bersitatap. Lorenzo kemudian menoleh ke arah orang misterius tadi. "Apa konsekuensi jika Shanaz memilih kembali ke tubuhnya?" tanyanya."Seperti yang kamu lihat. Dia akan koma. Jika kamu mau kamu harus menunggu sampai dia sembuh," jawab orang misterius tadi. "Jika tidak kembali ke tubuh masi
Seperti yang sudah Yuni katakan tadi. Ia saat ini tengah sibuk dengan urusan yang berkaitan dengan pakaian Felicia. Sementara Shanaz bermain dengan Felicia. Shanaz sebenarnya kasihan melihat wajah bayi tersebut. Terdapat luka yang dibalut perban. Tapi mau bagaimana lagi. Kenny hanyalah bayi yang bel
Selepas mengurus administrasi, Shanaz pergi ke apotik yang ada di rumah sakit. Dia tidak menunggu sampai nomor antriannya dipanggil. Shanaz meninggalkannya sementara waktu untuk pergi ke kamar perawatan seorang pasien. Seorang wanita paruh baya bangkit dari tempat duduknya. Saat Shanaz membuka pintu
Tak hanya bentakan yang Kenny terima. Yuni bahkan merasakan sakit luar biasa hingga menusuk ke dalam hatinya. Saat Lita menatap wajah Kenny dengan kilatan tajam dan penuh kebencian.Dia membawa Kenny dalam pelukannya untuk menyelamatkan anak itu. Sebelum Lita berbuat lebih jauh kepada bocah malang te
Lita ingin membantah perintah ibu mertuanya. Akan tetapi Fernando mencegahnya. Menepuk pahanya pelan. Lita kaget dan langsung menoleh ke arah Fernando.Fernando memberinya kode agar Lita mau menurut. Lelaki itu berpikir hal ini bagus karena Lita sementara waktu bisa lebih dekat dengan anaknya sendiri
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.