LOGINتزوجت باتريسيا من أوغوستو أفيلار بينما كان في غيبوبة، دون أن تتخيل أن استيقاظه سيغيّر حياتها إلى الأبد. ومع مرور الوقت، استسلم قلبها لهذا الرجل القوي والغامض، لكن الماضي لم يكن ينوي أن يتركهما ينعمان بالسلام. فإستيلا، حبيبته السابقة، مصممة على استعادته، وستفعل كل ما بوسعها لتفريقهما. وبين التحديات والمؤامرات وحبٍ وُلد بطريقة غير متوقعة، سيضطر باتريسيا وأوغوستو إلى الكفاح لاكتشاف ما إذا كان زواجهما يملك مستقبلًا، أم أنه كان محكومًا عليه بالفشل منذ البداية.
View More"Ma, Papa gancet! Tolong!"
"Astaga, Papa jahat! Papa tega!"Aku meraung dengan sekuat tenaga seraya meremas stetoskop yang teronggok di atas meja.Kulihat Maya, asistenku sampai terkejut dan membeku di sudut ruang periksa."Tolong tinggalkan saya sendiri!" jeritku pada Maya, gadis itu tampak ketakutan."I-iya Dokter. Saya permisi dulu."Maya segera keluar dari ruang praktekku dan menutup pintu, meninggalkan ku sendiri yang tengah duduk sambil menerima telepon dari lelaki lakn*t yang harus kusebut dia suami."Pa, kenapa tega membohongi Mama? Papa bilang Papa ke luar kota untuk tinjauan wilayah. Apa yang terjadi?""Maafkan Papa, Ma. Papa khilaf.""Lalu, Papa melakukan hal itu dengan siapa?" tanyaku parau."Dengan ...."Mendadak suami ku mematikan ponselnya. Aku segera melakukan video call dengan suamiku sambil menahan amarah yang bergejolak di dalam dada."Astaga, Lidia dan Papa?"Secara refleks aku membekap mulut karena tidak percaya bahwa suamiku sedang main gila dengan anak angkat kami, Lidia.Sementara itu Lidia sedang ketakutan setengah mati dan berusaha menutup wajahnya dengan telapak tangan."Kalian tega sekali dengan ku. Papa, dulu kamu bilang kita mengambil Lidia untuk memancing agar aku bisa hamil. Sekarang, saat kita bisa punya anak, kamu justru meniduri anak angkat kita? Kamu gil* Mas! Tega kamu!" semburku dengan air mata yang berjatuhan di pipi.Merasa sakit sekali melihat dua orang yang paling kupercayai ternyata berhati busuk dan menusuk dari belakang."Maafkan aku, Hesti! Aku khilaf.""Dan kamu Lidia, sekian lama saya sekolahkan kamu, sekarang kamu justru menjadi pelakor dalam rumah tangga saya!"Kulihat gadis itu menahan sakit seraya menangis sesenggukan. Posisi nya yang di bawah pasti menahan beban yang berat. Seberat rasa malu yang akan dia terima jika pihak sekolah dan orang tua kandungnya sampai tahu tentang hal ini."Maafkan saya, Ma. Papa yang merayu saya dulu.""Kamu jangan memfitnah saya, Lidia! Kamu dulu yang merayu saya dengan memakai lingerie milik Mama dan memamerkannya pada Papa saat Mama sedang dinas malam!""Astaga, kalian semua bej*t! Tega sekali kalian!""Maaf Ma. Sekarang tolong kami. Kamu kan Dokter. Tolong obati kami, sehingga kami bisa terlepas."Aku berpikir sejenak. Segera kuusap air mata yang berlelehan di pipi. Mereka tidak pantas kutangisi. Air mataku lebih berharga daripada menangisi kedua makhluk itu."Sebutkan alasan aku harus menolong kalian! Kalian telah menusuk dan menyakitiku. Seharusnya aku tidak perlu menolong kalian. Biar saja kubiarkan kalian agar gancet sampai mati!" seruku lantang. Sakit hatiku masih terasa saat melihat mereka seperti pepes pidang yang bertumpukan."Ma, maafkan Papa! Apa Mama tidak kasihan kalau ingat Verico? Bayangkan reaksi Verico saat tahu Papa dan kakak perempuannya dalam kondisi gancet?" tanya Mas Adi dengan muka memelas.Aku mencebik. "Verico masih berumur lima tahun. Dia tidak akan paham dengan apa yang terjadi pada Papa dan kakak perempuan nya yang bej*t!" sahutku ketus."Ma, ampuni aku. Aku harus lepas. Besok aku ada ujian akhir sekolah. Aku hanya stres sesaat karena terlalu banyak beban belajar, Ma. Jadi aku tidak sadar telah melakukan hal ini. Aku tidak akan mengulangi hal ini lagi." Lidia mengiba dengan sepenuh hati."Enak saja kalian minta maaf padaku setelah melakukan hal memalukan ini. Kalau kalian tidak gancet, mungkin kalian akan terus main di belakangku. Iya kan?""Enggak Ma. Sungguh. Maafkan Papa. Tolong Papa, Ma! Mama kan dokter. Dokter tidak boleh pilih-pilih pasien. Anggap saja Papa adalah salah satu pasien Mama yang sedang sekarat."Sebuah rencana mendadak muncul di kepalaku."Baiklah, aku akan menolong kalian. Sekarang sebutkan dimana hotel kalian saat ini," sahutku."Kami ada di hotel Mawar Melati, kamar 25 Ma. Cepet kemari ya Ma. Seluruh Badan Papa kaku dan kram. Dan tolong rahasiakan hal ini dari siapapun."Aku terdiam lalu segera mengakhiri panggilan telepon.***Adi dan Lidia terkejut saat melihatku yang datang dengan beberapa karyawan hotel dan beberapa orang berbaju rumah sakit masuk ke dalam kamar mereka.Sekarang tak ada rasa kaget dan sedih. Saat ini hanya ada rasa sakit hati dan dendam dalam hati. Tak ada air mata yang keluar karena aku telah menguatkan hati. Emosi telah habis dan air mata telah kering, hanya rencana untuk memberi pelajaran mereka yang kini kurasakan.Beberapa karyawan hotel dan karyawan rumah sakit yang kubawa pun terkejut. Mata mereka membulat melihat pose suamiku dan anak angkat kami."Ma, tolong tutupi kami!" rengek suamiku. Akupun mengambil selimut hotel dan menyelimutinya. Mas Adi bernafas lega."Ma-, Mama, bukankah Papa sudah nitip pesan agar Mama tidak bilang siapa-siapa kan? Kenapa sekarang yang datang justru banyak orang begini?" tanya Mas Adi ketakutan. Punggung nya yang berada di atas memang terekspos secara leluasa.Aku tersenyum dan menyedekapkan kedua dada. "Lalu, kalau aku enggak membawa petugas hotel ke kamar ini, bagaimana mungkin aku bisa masuk kamar? Mereka juga butuh bukti bahwa Papa yang ada di kamar ini membutuhkan pertolongan bukan?Mereka takut kalau nggak ada bukti dan mengijinkan Mama masuk ke dalam kamar, Papa selaku tamu hotel marah kepada mereka karena status Papa di sini ternyata incognito," sindirku membuat wajah mas Adi memerah."Lalu, bagaimana kalau kabar ini sampai di telinga bupati? Bisa dicopot jabatan Papa sebagai Kasubbag, Ma!""Lah, kok tanya saya. Seharusnya kan sebelum memulai harus sudah siap dengan segala konsekuensinya?" tanyaku meledek."Tolong, jangan sindir terus Ma. Sekarang tolong aku. Kasihan Lidia, dia keberatan dan kesemutan."'Astaga, tega sekali dia hanya membicarakan kesulitan Lidia yang ada di bawahnya. Kenapa dia tidak memikirkan perasaanku saat selingkuh dan meminta tolong padaku?'"Oke. Sekarang kita coba suntik pakai pelemas dulu ya, Pa. Kalau tidak mempan, kalian harus dibawa ke rumah sakit. Makanya Mama membawa ambulance."Suamiku terdiam sementara Lidia berusaha menutupi wajahnya dengan tangan.Aku menuju ke boks obat-obatan yang kubawa. Lalu mengeluarkan alat suntik dengan jarum yang paling besar. Yang biasanya untuk menyuntik pantat sapi.Semua orang yang ada di kamar hotel itu bergidik ngeri memandangku yang memegang alat suntik itu."Ma, serius Mama mau menyuntik kita dengan jarum segede itu?" tanya suamiku takut-takut.Aku tersenyum. "UPS, salah ambil. Sori!"Aku meletakkan alat suntik lagi di boksnya dan mengambil alat suntik dengan jarum semestinya.Lalu mengambil ampul baclofen dan mematahkannya lalu menyedotnya menggunakan spuit* 3 cc.Aku mendekat ke arah mereka. "Aku harus menyuntik kalian. Tapi ini harus disuntikkan pada kalian berdua. Aku suntik kamu dulu ya Mas."Aku segera menyuntik mas Adi. Dan aku segera mengambil spuit baru untuk mengambil obat lagi. Lalu menyuntik Lidia.Sesaat setelah obat yang kusuntikkan ke tubuh Lidia, gadis itu berseru keras, "Aaargghh!!!"Catatan kaki 1. Spuit : alat suntik. 2. Ampul : tempat obat seperti botol kecil isi obat dalam bentuk cair. 3. Baclofen : salah satu obat relaxan. Untuk melemaskan ketegangan otot-otot , nyeri dan kram. 4. Incognito : sebuah kata sandi bagi pegawai hotel , bahwa tamu dirahasiakan keberadaannya. 5. Gancet terdiri dari beberapa tingkat keparahan. Pengobatan macam-macam ya. Tergantung tingkat keseriusan gancetnya.الفصل 99خمس سنوات بعد ذلك...بدأت الصباح ببطء على شرفة المنزل الكبير، برائحة القهوة الطازجة تمتزج مع عطر الزهور الناعم في الحديقة. كانت باتريسيا تقطع شرائح الكعكة لوجبة الأطفال، بينما كانت والدتها جالسة على الكرسي الهزاز بجانبها، تراقب الفناء بابتسامة هادئة على وجهها.— هل أخبرتكِ عن أختك؟ — سألت الأم. هزت باتريسيا رأسها نفيًا. — تركت كل شيء وذهبت إلى إيطاليا مع ذلك الثري. لم تودّع حتى بشكل لائق.ضحكت باتريسيا بسخرية خفيفة.— ثري هذا... الذي يتطابق بالصدفة مع والد إستيلا. للحياة طرقها الملتوية، أمي.— لا أزال لا أصدق. تلك الفتاة كانت تقول دائمًا إنها لا تريد رجلًا مع المال، وإنها تريد الحب الحقيقي... يكفي تأشيرة وجواز سفر أوروبي حتى تنسى كل شيء.— ذهبت من أجل الترف، أمي. لكنني لا أعرف إن كانت ستجد السلام. ذلك الرجل... حسنا، إستيلا كانت ما كانت. وهو... يبدو أنه لم يتعلم شيئًا.تنهدت الأم، ناظرة إلى السماء.— حظك يا بنيتي أنك اخترتِ رجلًا حقيقيًا. ليس مجرد رصيد بنكي.ابتسمت باتريسيا، وهي تمسح يديها في المريلة.— اخترت الرجل الذي اختارني أيضًا، أمي. بروحه، بعيوبه، لكنه صادق. ولهذا نحن س
الفصل 98لم يكد السيارة يتوقف أمام مستشفى الولادة حتى نزل أوغوستو يركض، ينادي طالبًا المساعدة. جاء الممرضون بسرير متحرك، ونُقلت باتريسيا بسرعة إلى داخل المستشفى. كانت لا تزال تشعر بتقلصات قوية، لكنها حاولت الحفاظ على الهدوء، ممسكة بيد أوغوستو بقوة.— أنا هنا، لن أغادر جانبك — وعدها، مقبلًا جبهتها.بعد ساعات قليلة، وبعد جهد كبير وعرق وعواطف، ملأت صرخات الرضع الخفيفة مركز الولادة. توأم. ولد قوي وبنت هادئة. بكت باتريسيا من شدة التأثر، وكاد أوغوستو لا يستطيع كبح ابتسامته الفخورة وهو يحمل الطفلين بين ذراعيه، ابنيه، تجديد الأمل.في صباح اليوم التالي، كانت باتريسيا في غرفة المستشفى، والتوأمان نائمان في مهدهما بجانب السرير، عندما فُتح الباب ببطء. دخلت والدتها أولًا، وعيناها مليئتان بالدموع، وخلفها الجد وهو يُدفع على كرسيه المتحرك من قبل ممرض. أشرقت عينا العجوز عندما رأى حفيديه.— يا بنيتي... ما أجمل الهدية التي أعطيتينا إياها — قال الجد بصوت مختنق.— هما مثاليان، جدي — قالت باتريسيا متأثرة، ممدة يدها إليه.كان أوغوستو يراقب كل شيء واقفًا بجانب النافذة، وقد امتلأ صدره بالامتنان. كانت تلك اللحظ
الفصل 97مرت أكثر من شهرين على موت إستيلا المأساوي، وبدأت أخيرًا الجلسة التي تم تأجيلها. كانت قاعة المحكمة مكتظة. على الجانب الواحد، عائلة أفيلار مجتمعة: أوغوستو بتعبير صلب، وباتريسيا جالسة بجانبه تمسك بيده بخفاء، ورافائيل بعينين يقظتين ومتوترتين. وعلى الجانب الآخر، والد إستيلا، بوجه مغلق، مرتديًا بدلة داكنة، يشع منه الحزن والضغينة.دخل القاضي، يتبعه المدعي العام ومحامي الدفاع. بعد الإجراءات الأولية، كان أول من استُدعي للشهادة هو والد إستيلا.مشى نحو المنصة بخطوات بطيئة وثقيلة، وعندما بدأ يتكلم، كان صوته مليئًا بالعاطفة والغضب.— أوغوستو أفيلار قتل ابنتي. دفعها. كان لديه دوافع، كان يكرهها. نعم، كانت مكثفة، لكنها كانت طفلتي. وهذا الرجل دمر عائلتنا!انتشر همهم بين الحاضرين. أغلقت باتريسيا عينيها للحظة، تشعر بثقل الألم والظلم في هذه الشهادة. بقي أوغوستو صلبًا، لكن من يعرفه كان يلاحظ التوتر في عضلات فكه.طلب القاضي الصمت، وقام محامي الدفاع بهدوء.— سعادة القاضي، مع كل احترام لألم السيد أنيبال، والد الراحلة إستيلا، نطلب أن تسود الحقيقة على أي عاطفة. لقد أحضرنا أدلة لا تقبل الجدل توضح ما حد
الفصل 96في صباح اليوم التالي، كان مبنى شركة أفيلار محاطًا بسيارات الشرطة وأشرطة العزل. لم يُسمح لأي موظف بالدخول. جذب تحرك الخبراء والشرطيين في البهو انتباه المارة في الشارع، وبدأ بعض الفضوليين بالتجمع على الرصيف المقابل، يهمسون ويصورون بالهواتف.وصلت باميلا مبكرًا كعادتها، لكنها مُنعت من الدخول فورًا عند البوابة.— آسفة، آنسة — قال الحارس بتعبير جدي. — الشرطة أغلقت المبنى. لا يدخل أحد حتى إشعار آخر.— لكنني أعمل هنا. أنا المديرة الإدارية.— أوامر من المفتشية، آنسة. الفريق الفني يجمع الأدلة والطوابق تخضع للتفتيش.***في الوقت نفسه، في الجهة الأخرى من المدينة، كان رافائيل ووالده في طريقهما إلى الشركة عندما تلقيا اتصالًا من أحد المحامين.— لا يزال الفريق الفني يجمع التسجيلات — أخبرهم المحامي. — عثر الخبراء بالفعل على الرصاصة المستقرة في جدار الغرفة ويحللون زاوية الإطلاق. هذا قد يساعد.— والصور؟ — سأل رافائيل متوترًا وهو يمسك المقود.— التقطت كاميرا أمنية واحدة فقط في مصعد الطابق السفلي جزءًا من الحركة بعد السقوط مباشرة. الباقي كان معطلًا، كما أكدت إستيلا نفسها.أغلق أوغوستو عينيه واستن












reviews