INICIAR SESIÓN‘นัสริน’ ถูกสามีทิ้งให้อยู่อย่างโดดเดี่ยวในทริปฮันนีมูนเพื่อไปเริงร่ากับคนรักที่เป็นผู้ชาย เธอจึงเลือกประชดความเหงาด้วยการทอดกายให้ชายแปลกหน้า คิดว่าเป็นแค่เรื่องชั่วข้ามคืน... ที่ไหนได้ พอกลับเมืองไทย ชายแปลกหน้าคนนั้นกลับกลายมาเป็นอาของสามีที่ย้ายมาอยู่ในรั้วเดียวกัน
Ver más“Tidurlah dengan suami saya. Pinjamkan rahimmu dan lahirkan anaknya.”
Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa beban seolah yang sedang dibicarakan bukanlah sesuatu yang bisa menghancurkan hidup seseorang. Nadira Azzahra membeku di tempatnya, tak bisa menjawab, bahkan mulutnya ternganga mendengar permintaan wanita cantik nan berkelas di depannya. Sinta Larasati. Putri pemilik rumah sakit tempat Nadira bekerja, sekaligus istri dari Arjuna Mahardika, yang dikenal sangat dingin dan mencintai istrinya. Istri dari dokter spesialis bedah terbaik, wanita dari keluarga terpandang, dan seseorang yang hidupnya tampak tanpa cela itu tiba-tiba menghampiri Nadira di kantin dan langsung memberikan penawaran tidak masuk akal pada Nadira yang notabene dokter koas di bawah pimpinan Arjuna. Sendok di tangan Nadira terlepas. Dia tersentak dan langsung menutup mulutnya yang ternganga. Nadira membersihkan tumpahan makanan di mejanya dengan tisu, sambil sesekali melihat ke arah Sinta. Mata Nadira bergetar. “Ma-maaf, Bu Sinta. Sa-saya tidak mengerti maksud ucapan Bu Sinta,” ucap Nadira pelan, penuh dengan ketegangan. Sinta meletakkan tas mahalnya di atas meja. Dia menyandarkan punggungnya lalu melipat kedua tangannya di depan dada. “Tidurlah dengan Mas Juna dan lahirkan anaknya," Sinta mengulang ucapannya. "Tapi, jangan sampai jatuh cinta padanya!” lanjut Sinta, memberi peringatan keras. Sorot matanya terlihat menusuk Nadira. Nadira menundukkan kepalanya, menghindari tatapan Sinta, masih sangat bingung dengan keadaan ini. Selama ini dia tidak pernah berurusan dengan Sinta. Kalaupun mereka bertemu, Nadira hanya menyapa Sinta dan wanita itu akan berlalu begitu saja tanpa membalas sapaannya. "Maaf, Bu, saya tidak bisa—" “Kamu butuh biaya untuk operasi ayahmu, kan?” potong Sinta. Napas Nadira tercekat. Wajahnya yang semua dipenuhi ketakutan mulai berubah serius. Nadira memang butuh biaya untuk operasi ayahnya, tapi dia tidak ingin menanggalkan jas dokternya dan jadi wanita jalang demi itu. Sinta mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, matanya tajam namun bibirnya tetap tersenyum. “Biayanya gak sedikit. Kamu tahu itu, kan? Dan saya bisa menanggung semuanya. Atau kalau perlu, saya akan meminta Mas Juna yang mengoperasi ayahmu.” Sinta mengangkat dagu Nadira. “Kamu tau kan gimana suami saya di ruang operasi?” Jari Nadira mengepal di atas meja. Sudah berhari-hari dia berusaha mencari pinjaman, bantuan, tapi semua jalan terasa buntu. Dan setiap detik yang berlalu, kondisi ayahnya semakin memburuk. Ayah Nadira harus segera mendapatkan operasi jantung. Dia harus berpacu dengan waktu, mencari biaya operasi sambil menjaga kesehatan ayahnya yang setiap saat bisa saja memburuk. Sinta kembali bersandar sambil tersenyum angkuh, mulai menyadari ada keraguan di sorot mata Nadira. “Kalau kamu setuju, saya akan tanggung semua biaya operasi ayahmu, termasuk biaya perawatan pasca operasi. Kamu hanya perlu fokus melayani Mas Arjuna dan memastikan kamu hamil. Itu saja ... gimana, mudah kan?” Seringaian muncul di wajah Sinta yang terkesan seperti sebuah penghinaan bagi Nadira. Jantung Nadira berdetak cepat, mulai goyah. Solusi biaya operasi yang beberapa minggu ini memenuhi kepalanya, kini sudah terpecahkan. Bahkan biaya pasca operasi yang juga akan membutuhkan banyak biaya sudah ikut ditanggung. Tapi haruskah dia menjual dirinya demi semua itu? Bagaimana kalau nanti ayahnya tahu kalau dia melakukan hal hina demi mendapatkan biaya operasi. Apakah jantung ayahnya masih bisa baik-baik saja? "Tapi kenapa saya, Bu?" Sinta mendecak. “Jangan terlalu percaya diri kamu! Jangan berpikir kamu istimewa sampai saya menawarkan ini ke kamu!” kata Sinta, tidak ingin dokter muda di depannya itu terlalu percaya diri pantas naik ke ranjang suaminya. "Saya kasihan sama kamu. Saya tau kondisi ayahmu, dan kamu termasuk dokter yang cakap dalam bekerja. Saya milih kamu, karena kita bisa berbisnis dengan baik. Kamu dapat uangnya dan saya dapat anak suami saya,” lanjut Sinta tidak peduli dengan harga diri Nadira. Napas Nadira tersendat. Wanita itu benar-benar merendahkannya. “Mas Juna butuh anak. Keluarga kami menuntut itu.” Sinta menghela napas ringan, seolah sedikit jengkel. “Dan saya … tidak ingin hamil! Saya tidak mau tubuh saya berubah. Tidak mau karier saya terganggu. Dan jujur saja … saya tidak tertarik jadi ibu,” lanjut Sinta tanpa rasa bersalah sedikit pun. Semua orang tahu kalau Sinta adalah seorang model terkenal. Banyak brand datang padanya dan tentu saja itu semua membutuhkan kesempurnaan fisik yang diagungkan Sinta. Namun, bagaimana mungkin ada wanita yang tidak punya naluri keibuan di dalam hatinya. “Ah iya ... soal karir koas kamu. Kamu gak perlu khawatir, soal itu.” Sinta kembali memberikan penawaran menggiurkan agar Nadira segera setuju. “Setelah kamu hamil dan melahirkan, semuanya selesai. Kamu bisa pergi. Saya tetap istri sahnya dan anak itu akan jadi anak kami. Kamu bisa kembali ke rumah sakit, seperti tidak pernah terjadi apa-apa,” lanjutnya lagi. Sebuah rancangan masa depan yang sangat indah. Ayahnya terselamatkan, dan karier dokternya juga akan tetap baik-baik saja. Nadira menelan ludahnya kasar. “Bu, ini salah,” ucapnya, berusaha mempertahankan harga dirinya. “Saya tidak bisa—” “Kamu bisa, Nadira!” potong Sinta cepat, memaksa Nadira. Nada bicaranya penuh penakanan. "Apa kamu siap, kalau bentar lagi dokter panggil kamu dan bilang kalo ayahmu harus operasi sekarang juga? Jangan sok jual mahal kamu! Gadis miskin yang cuma mengandalkan uang beasiswa seperti kamu bisa apa?!” hardik Sinta yang mulai kehilangan kesabarannya. Kalimat Sinta menusuk hati Nadira. Kenyataan mahasiswa pintar yang bertahan karena beasiswa miskin itu kembali memukulnya. Nadira menunduk, mencoba mengatur napasnya yang mulai tidak stabil. Bayangan ayahnya di ranjang rumah sakit kembali terlintas. Keadaannya yang kian lemah, pucat, dengan selang di mana-mana, membuat Nadira meremas ujung jas dokternya. Dia belum siap. Nadira belum siap kehilangan ayahnya, keluarganya satu-satunya. Sinta mendengus kesal. “Pikirkan baik-baik! Waktumu gak banyak!” Nadira mengusap wajahnya kasar. Pertanyaan Sinta lebih sulit dijawab Nadira daripada soal ujiannya selama ini. Nadira mengangkat wajahnya perlahan. Dengan sisa keberaniannya, dia kembali menatap Sinta. “Lalu bagaimana dengan Dokter Arjuna? Apa beliau tahu tentang ini?” Sinta tersenyum tipis penuh makna. “Belum,” jawabnya. “Tapi saya yakin dia bakal setuju.” “Belum?” ucap Nadira dengan bahu yang merosot. Membayangkan memberikan laporan pada dokter tampan itu saja membuatnya takut, apa lagi kalau sampai dia harus merayunya. Ini sulit. Sangat sulit! Nadira menggigit bibirnya, ragu, takut, dan terjebak dalam pilihan yang terasa tidak adil. “Pikirkan ini baik-baik, Nadira. Nyawa ayahmu taruhannya!” kata Sinta sambil berdiri, merapikan tasnya. “Tapi jangan terlalu lama. Kondisi ayahmu tidak akan menunggu sampai kamu menaklukkan harga dirimu yang ... gak seberapa,” ucap Sinta dengan mudahnya merendahkan Nadira sambil memicingkan matanya. Kemudian dia pergi meninggalkan Nadira. Dia malas melihat wajah naif Nadira yang memuakkan di matanya. Tatapan kosong Nadira menembus dinding kantin, sekosong pikirannya saat ini. Naik ke ranjang suami orang. Mengandung anaknya dan pergi begitu saja dengan jaminan masa depan cerah. Apakah itu harga yang pantas untuk menyelamatkan ayahnya? Nadira menutup matanya perlahan. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia benar-benar tidak tahu keputusan mana yang benar. Di tengah kebimbangannya, tiba-tiba ponsel Nadira berbunyi. Dia merogoh saku jas dokternya, meraih benda pipih yang bergetar di dalamnya. Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Nadira. Dia membaca pesan itu dan tangannya mengepal erat. “Ayah!” ucap Nadira panik lalu segera berlari meninggalkan kantin.ภายในห้องรับแขกของบ้านหลังใหญ่ดูอบอุ่นและผ่อนคลายกว่าที่เคยเป็นมา ณัฐวุฒินั่งเคียงข้างกับหมอสรวิชย์ โดยมีคุณย่าวิไลนั่งอยู่ที่โซฟาตัวยาวฝั่งตรงข้าม ส่วนอัคคีและนัสรินนั่งอยู่ถัดไป ทั้งหมดกำลังพูดคุยถึงแผนการในอนาคตด้วยความเข้าใจอย่างลึกซึ้ง“ผมขอบคุณทุกคนจริง ๆ นะครับ โดยเฉพาะโรส ขอบคุณที่ยอมอดทนและช่วยปิดบังเรื่องของผมมาตลอด หลังจากนี้ผมอยากให้โรสมีความสุขกับชีวิตของตัวเองจริง ๆ เสียที” ณัฐวุฒิพูดขึ้นด้วยน้ำเสียงที่เต็มไปด้วยความจริงใจและสำนึกผิด แววตาของเขาสื่อถึงความรู้สึกผิดที่เคยดึงเธอเข้ามาเกี่ยวพันในวังวนที่ซับซ้อนนี้“โรสก็ต้องขอบคุณพี่ณัฐเหมือนกันค่ะ ที่ช่วยเหลือพ่อของโรส โรสดีใจที่เห็นพี่ณัฐมีความสุขนะคะ”“ผมก็ขอบคุณโรสด้วยนะครับ” หมอสรวิชย์พูดเสริมขึ้น“ย่าเองก็ดีใจที่ทุกอย่างคลี่คลายไปในทางที่ดี เรื่องข่าวคราวข้างนอกไม่ต้องห่วงนะ ณัฐจัดการทุกอย่างไว้ดีแล้ว ต่อไปนี้อัคคีก็ดูแลหนูโรสให้ดี ๆ ล่ะ อย่าให้ย่าต้องผิดหวังในตัวลูกอีกนะ”“ผมสัญญาครับคุณย่า ผมจะดูแลโรสด้วยชีวิตของผม” อัคคีตอบด้วยน้ำเสียงหนักแน่นและจริงจัง พร้อมกับกุมมือนัสรินไว้แน่น แววตาของเขาเต็มไปด้วยความรักที่เอ่
เพราะความลับไม่มีในโลก แม้ว่าจะพยายามปกปิดมันมากแค่ไหนแต่วันหนึ่งความลับมันก็จะต้องเปิดเผยออกมา เหมือนกับเรื่องของณัฐวุฒิและหมอสรวิชย์วันนี้ภายในโรงพยาบาลเอกชนชื่อดังมีข่าวลือที่พูดกันไปทั่วทุกแผนก ภาพถ่ายหลายใบที่ถูกแอบถ่ายในมุมหนึ่งของรีสอร์ตส่วนตัวริมทะเลแห่งหนึ่ง ถูกส่งต่อกันในกลุ่มไลน์อย่างรวดเร็ว ในภาพนั้นคือณัฐวุฒิรองประธานบริหารหนุ่มที่แสดงออกถึงความสนิทสนมเกินกว่าคำว่าเพื่อนกับหมอสรวิชย์ศัลยแพทย์หนุ่มอนาคตไกลของโรงพยาบาล“แกเห็นรูปหรือยัง ไม่น่าเชื่อเลยนะ คุณณัฐวุฒิเพิ่งแต่งงานกับคุณโรสไปไม่กี่เดือนเองไม่ใช่เหรอ”“สงสารคุณโรสแย่เลย ผู้หญิงตัวเล็ก ๆ ต้องมาเจอสามีนอกใจไปหาผู้ชายด้วยกันแบบนี้เป็นฉันคงอกแตกตาย”“นั่นสิ หน้าตาก็ดี โปรไฟล์ก็เลิศ ที่แท้ก็พวกเสือไบคบได้ทั้งผู้ชายผู้หญิง แต่งงานบังหน้าแล้วยังแอบนอกใจภรรยามาเสพสุขกับหมอในโรงพยาบาลตัวเองอีก หน้าเนื้อใจเสือชัด ๆ”คำนินทาที่เผ็ดร้อนและสายตาของหลายคนที่มองมายังณัฐวุฒิและคุณหมอหนุ่มทำให้ทั้งสองรู้อึดอัดมาก ชายหนุ่มนั่งนิ่งอยู่หลังโต๊ะทำงานตัวใหญ่ในห้องผู้บริหาร มือหนากำหมัดแน่นจนเส้นเลือดปูดโปนข้อนิ้วซีดขาว ไม่ใช่เพราะความ
ความลับของอัคคีและนัสรินยังคงเป็นความลับต่อไปแม้ว่าหญิงสาวจะหย่าขาดจากสามีนานมาแล้วหนึ่งเดือนก็ตามอัคคีไม่อยากเร่งรีบและไม่อยากให้นัสรินถูกคนอื่นมองไม่ดีแต่ลึก ๆ ในใจเขากลับรู้สึกอึดอัดกับความลับนี้มากขึ้นทุกวัน พอมาวันนี้เขาก็ตัดสินใจแล้วว่าจะสารภาพเรื่องทุกอย่างกับมารดาเพราะปลายเดือนนี้เขาจะต้องเดินทางไปทำงานที่ประเทศเยอรมันและอยากพานัสรินไปกับเขาด้วยเรื่องนี้อัคคีไม่ได้บอกนัสรินไว้ก่อนเขาคิดว่าถ้าพูดออกไปหญิงสาวก็คงจะห้ามแต่สำหรับเขาแล้วคิดว่ามันถึงเวลาที่ตัวเองจะต้องสภาพความจริงกับมารดา ชายหนุ่มวางแผนเอาไว้แล้วว่า เมื่อบอกความจริงไปแล้วเขาจะคืนหุ้นทั้งหมดให้กับท่านรวมถึงทำเรื่องเปลี่ยนนามสกุลมาใช้นามสกุลของมารดาเพื่อไม่อยากให้นัสรินถูกมองว่าแต่งงานกับหลานแล้วยังมาแต่งงานกับอาอีก เขาพยายามหาทางออกที่ดีที่สุดเพื่อปกป้องคนที่เขารักหลังจากทานอาหารค่ำกับมารดาตามลำพังแล้วอัคคีก็เดินตามท่านมายังห้องนั่งเล่น สีหน้าของชายหนุ่มค่อนข้างเครียดจนทำให้คุณวิไลพอจะมองออกว่าลูกชายคนเล็กของตนเองน่าจะมีเรื่องไม่สบายใจอะไรบางอย่าง“เป็นอะไรหรือเปล่าไฟ” คุณวิไลถามลูกชายคนเล็กถึงแม้เธอจะไม่ได้คลอดเข
ความเงียบปกคลุมไปทั่วห้องรับแขกเมื่อนัสรินพูดถึงเรื่องหย่าออกมาอย่างหน้าตาเฉย“แกพูดอะไรยัยโรส นี่ไม่อยากให้พ่อไปขอเงินผัวแกถึงกับต้องบอกว่าหย่ากันเลยเหรอ” ทรงพลไม่เชื่อสิ่งที่ลูกสาวพูด“นั่นสิ อย่าลืมนะว่าที่ได้แต่งงานกับคนรวยล้นฟ้าแบบนี้เพราะใคร” พิมพ์พาพูดเสริมขึ้น“โรสจะโกหกทำไมคะ ถ้าพ่อไม่เชื่อก็รอไปดูได้เลย บ่ายวันศุกร์นี้เราก็จะหย่ากัน”“แกเพิ่งแต่งงานเองนะ”“พ่อคะ คนเราไม่ได้รักกัน เข้ากันไม่ได้จะทนอยู่กันไปทำไม รีบหย่าแล้วไปใช้ชีวิตอิสระดีกว่าไหม”“ถ้าขอไม่ได้ก็ฟ้องหย่าขอค่าเลี้ยงดูสิ คนอย่างคุณณัฐวุฒิคงยอมจ่ายแน่ เผลอ ๆ จะได้มากกว่าห้าล้านนะคะคุณพี่”“จริงสิ พี่ลืมเรื่องนี้ไปได้ยังไง” ทรงพลยิ้มเมื่อได้รับคำแนะนำจากภรรยา“ถ้าพ่อฟ้องหย่าเขาอาจจะทวงเงินคืนจากพ่อก็ได้นะคะ”“ทำไมแกต้องหย่ากับเขาด้วยนะ พ่อขอสั่งให้แกยกเลิกการหย่า ถ้าทำอะไรผิดกับเขาหรือเขาไม่พอใจเรื่องอะไรแกก็ต้องปรับปรุงตัว ทำยังไงก็ได้ให้เขาไม่หย่า”“ไม่ค่ะพ่อ โรสตัดสินใจแล้วว่ายังไงก็จะหย่า ส่วนเรื่องเงินพ่อเลิกคิดไปเลยค่ะ”“แกนี่มันลูกเนรคุณ ถ้าแกหย่าแล้วฉันจะเงินที่ไหนมาหมุนในบริษัท ฉันอุตส่าห์ส่งแกไปเรียนเมือ
นัสรินก้าวเข้ามาในห้องนอนกว้างด้วยความรู้สึกสับสน หญิงสาวชะงักฝีเท้าเมื่อเห็นร่างสูงของณัฐวุฒิเดินออกมาจากห้องน้ำ เขาอยู่ในชุดนอนสีเข้ม ผมยังเปียกชื้นเล็กน้อย กลิ่นสบู่หอมสดชื่นโชยมา แต่เธอไม่ได้รู้สึกสดชื่นตามเลย“กลับมาแล้วเหรอ” ณัฐวุฒิเอ่ยทักโดยไม่แม้แต่จะเงยหน้าขึ้นจากหน้าจอโทรศัพท์มือถือที่เข
ภายในรถคันหรูที่มุ่งหน้าไปยังห้างสรรพสินค้าชั้นนำ ความเงียบปกคลุมอยู่พักใหญ่ก่อนที่อัคคีจะทำลายมันลง“วันหยุดที่จะถึงนี้อยากไปเที่ยวไหนหรือเปล่า”“ไม่ค่ะ”“แต่อาไม่อยากให้โรสเหงาอยู่บ้านคนเดียว”“คนเดียวที่ไหนคะ พี่ณัฐก็อยู่ค่ะ”“อย่าหลอกตัวเองเลย อาเดาว่าเขาก็คงเอาเวลาไปอยู่กับคนรักส่วนโรสก็คงต้อง
เช้าวันต่อมาบรรยากาศบนโต๊ะอาหารดำเนินไปตามปกติ คุณย่าวิไลนั่งยิ้มแย้มเตรียมแผนการเดินทางไปทำบุญใหญ่ที่ต่างจังหวัดเธอหวังว่าหลานชายและหลานสะใภ้จะได้อยู่กันตามลำพัง“ตกลงตาณัฐกับหนูโรสจะไม่ไปทำบุญกับย่าจริง ๆ ใช่ไหมลูก” คุณย่าวิไลเอ่ยถามพลางมองหน้าหลานชายและหลานสะใภ้“ครับคุณย่า พอดีผมมีที่ต้องรีบเคล
ภายในห้องนอนกว้างที่ถูกตกแต่งอย่างหรูหรา แต่สำหรับนัสรินห้องนี้กลับดูอ้างว้างและหนาวเหน็บเกินกว่าใครจะนึกถึง เมื่อสามีของเธอมีแต่ความเย็นชานัสรินนั่งเล่นมือถืออยู่บนเตียง มันแบบนี้ทุกคืนที่เธอมีเพียงโทรศัพท์มือถือเป็นเพื่อนเสียงประตูห้องเปิดออกเบา ๆ ทำให้เธอสะดุ้งเล็กน้อย ณัฐวุฒิก้าวเข้ามาในห้องด





