ท่านประธานร้อนเร่า (NC 18+)

ท่านประธานร้อนเร่า (NC 18+)

last updateTerakhir Diperbarui : 2025-08-04
Bahasa: Thai
goodnovel18goodnovel
10
1 Peringkat. 1 Ulasan
88Bab
45.7KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

เธอ ผู้ต้องใช้หนี้เขาถึงยี่สิบล้านด้วยร่างกายของเธอ เขา ผู้มีคู่หมั้นคู่หมายอยู่แล้ว ความรักต้องห้ามระหว่างท่านประธานหนุ่ม กับ ลูกหนี้สาวจะเป็นอย่างไรต้องติดตามในท่านประธานร้อนเร่า ******************** สำหรับชีวิตเธอควรจะเป็นนางฟ้าตกสวรรค์หรือหงส์ปีกหักก็คงไม่เกินจริง จากชีวิตคุณหนูบ้านรวย ไฮโซคนดัง แค่เพียงไม่กี่เดือนเธอแทบจะไม่เหลืออะไรเลย คุณพ่อของเธอเป็นนักการเมืองใหญ่ ถูกยึดทรัพย์ และท่านชิงฆ่าตัวตายตั้งแต่คดียังไม่ตัดสิน ส่วนคุณแม่ก็ด่วนจากไปตั้งแต่เธอยังเด็ก หลังจากเธอเดินเรื่องขึ้นโรงขึ้นศาลอยู่หลายต่อหลายเดือน สุดท้ายเพื่อรักษาบริษัทฟู้ดดีไซน์ของตนเอง เธอต้องหาเงินมาซื้อหุ้นอีกครึ่งหนึ่งของผู้เป็นพ่อ ก่อนที่บริษัทจะกลายเป็นของคนอื่น

Lihat lebih banyak

Bab 1

คำโปรย

Dia sudah lupa.

Hari ini adalah hari terakhir masa sewa apartemenku. Hari ini juga, aku akan pindah dan pergi.

Karena dia sudah memilih datang ke sana, biarlah dia tak usah kembali lagi.

….

Saat lift membawaku turun, truk jasa pindahan sudah lebih dulu tiba.

"Nona Safira, kami akan mulai mengangkut barangnya."

Aku mengangguk. Tak lama kemudian, ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Sakha masuk.

[Kamu ke mana? Jangan keluyuran.]

Aku sedikit tertegun.

Riwayat obrolan kami hampir seluruhnya dipenuhi pesan dariku.

Bukti bahwa selama ini akulah yang selalu lebih dulu menghubunginya.

Kalimat perhatiannya yang tiba-tiba itu membuat jemariku sedikit bergetar.

Namun, baru saja kubuka percakapan kami, pesan berikutnya darinya langsung muncul.

[Coba turun ke toko perkakas dan belikan kunci inggris. Di tempat Winna nggak ada.]

Aku menatap dua baris pesan itu selama beberapa detik.

Rupanya dia bukan tiba-tiba sadar aku tidak mengikutinya. Dia baru menyadari aku tidak ada di sisinya saat ingin menyuruhku melakukan sesuatu.

Saat kugulir riwayat percakapan kami ke atas, hampir semua pesannya selalu berkaitan dengan Winna.

[Kasih saja set perawatan kulit yang dulu dibawakan rekan kerjamu dari luar negeri itu ke Winna. Nanti aku belikan yang baru buatmu.]

[Winna bilang dia kepingin makan susyi. Nanti setelah kamu pulang kerja kita makan sama-sama. Aku sudah reservasi.]

Setiap pesan yang dikirim Sakha kepadaku selalu berupa pernyataan.

Semua keputusan sudah dia buat sendiri, dan tak sekali pun dia terpikir untuk meminta pendapatku.

Pesan terakhir yang masih kuingat adalah saat hujan deras beberapa hari lalu. Waktu itu aku menghubunginya dan bertanya apakah dia bisa menjemputku.

Dia hanya menjawab, [Aku sudah sampai rumah. Pulang saja naik taksi.]

Namun tak lama kemudian, Winna mengunggah foto di media sosialnya.

Sebuah payung dimiringkan untuk melindunginya saat dia masuk ke kursi penumpang depan.

[Hampir saja kehujanan. Untung ada pahlawan yang datang menyelamatkan.]

Interior mobil itu sangat kukenal.

Dulu aku selalu berpikir, Sakha adalah pacarku, sedangkan Winna adalah sahabat terbaikku. Hubungan mereka yang akrab seharusnya membuatku ikut senang.

Namun, semua kesabaranku hanya membuat Sakha kian menjadi-jadi.

Kali ini, aku tidak membalas pesannya.

Saat sedang membereskan barang-barang di kamar, Sakha kembali mengirim pesan.

[Kenapa belum pulang juga? Winna bilang dia kepingin makan pasta, jadi aku pergi duluan sama dia.]

[Nanti kamu nyusul saja sendiri.]

Hal seperti ini bukan pertama kalinya terjadi.

Padahal kami sudah berjanji akan makan bersama.

Namun, setiap kali aku terlambat sedikit saja karena pekerjaan atau terjebak macet, yang tersisa untukku hanyalah makanan yang sudah dingin.

Menghadapi kekecewaanku, Sakha hanya bersikap acuh.

"Lambung Winna memang sensitif, jadi dia makan duluan. Cuma jadi agak dingin sedikit, rasanya juga masih enak. Jangan dibesar-besarin."

Jangan banyak tingkah.

Saat pipa air di apartemenku pecah hingga rumah berantakan, aku meneleponnya meminta bantuan.

Jawabannya juga sama. "Mana sempat aku bantuin kamu? Cari tukang saja sendiri. Jangan banyak tingkah."

Sejak hari itu, aku mencuci gorden sendiri, mengganti bohlam sendiri, dan perlahan belajar untuk tidak lagi bergantung padanya.

Namun di hadapan Winna, Sakha selalu menunjukkan sikap yang sama sekali berbeda.

"Kamu perempuan, nggak perlu selalu maksain diri. Mulai sekarang kalau ada apa-apa biar aku bantu. Lagi pula kamu tinggal dekat Safira, sekalian saja."

Aku benar-benar tidak mengerti.

Mengapa saat dia membantuku sebagai pacarnya, semuanya dianggap merepotkan, sedangkan membantu Winna selalu disebut sekalian?

Aku menelan pahit di dalam hati, lalu membalas pesannya. [Kalian makan saja. Aku masih ada urusan.]

Setelah sekian lama, barulah dia membalas.

[Masih ngambek juga? Safira, kita ini sudah sama-sama dewasa. Sudahlah, jangan dibesar-besarkan.]

Memang dulu aku pernah membuat keributan.

Musim hujan tahun lalu, aku demam hingga tiga puluh sembilan derajat. Seluruh tubuhku menggigil, jadi aku meneleponnya dan memintanya mengantarkan obat.

Ternyata dia sedang berada di rumah Winna. Katanya, Winna sampai tak bisa bangun dari tempat tidur karena nyeri haid, jadi Sakha sedang merebus Wedang Jahe untuknya.

Aku bilang aku juga sedang tidak enak badan. Dia terdiam selama dua detik, lalu berkata, "Kalau kamu masih bisa nelepon, berarti nggak separah itu, 'kan?"

"Pesan saja lewat layanan antar. Dua puluh menit juga sampai. Tahan sedikit."

Saat itulah, untuk pertama kalinya aku merasa sudah tidak sanggup bertahan lagi.

Jelas-jelas aku pacarnya, tapi aku tak pernah menjadi proritasnya.

Aku pun memilih untuk putus.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia justru lebih dulu memblokir semua kontakku.

Dia tahu aku terlalu mencintainya. Dia tahu aku tidak akan sanggup melepaskannya.

Karena itu dia membiarkanku menangis selama dua hari, sampai air mataku benar-benar habis.

Barulah kemudian Winna mengajakku makan bersama.

Dengan bodohnya, aku memilih untuk kembali berdamai dengan Sakha.

Sejak saat itu, aku tak pernah lagi meributkan hubungan kami.

Namun kali ini berbeda.

Aku tidak sedang ngambek. Aku benar-benar serius.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

Ulasan-ulasan

Mimi
Mimi
ดีๆๆสนุก พระเอกน่าสงสารนะ แต่ก็น่ารักสุดๆ
2026-03-23 08:05:36
1
0
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status