ログインเขายัดเยียด ตราหน้าเธอว่าเป็นเมียน้อย ไม่มีสิทธิ์แม้แต่แก้ต่างให้กับตัวเอง… ความลับนำพาความสัมพันธ์ มาซึ่ง รัก โลภ โกรธ และลุ่มหลง พัวพันกันจนเกินกว่าจะปล่อยมือ แม้อีกคนจะอยากจากไปแค่ไหน สายสัมพันธ์เล็ก ๆ กับตราตรึงผูกมัดให้อยู่ข้างกายซึ่งกัน
もっと見る“Wanita sialan! Jangan lari!” teriak seorang pria.
Seorang wanita berlari kencang melewati kerumunan manusia di jalanan kota. Banyak pasang mata mengarahkan pandangannya ke arah wanita itu, mereka mulai berpikir mungkin wanita itu adalah orang gila yang kabur dari rumah sakit jiwa.
Pasalnya dia terlihat begitu berantakan jika dibandingkan dengan orang-orang di jalanan kota. Dia mengenakan gaun tidur berwarna putih yang sudah tampak kotor oleh debu dan tanah, rambutnya tergerai berantakan dan kedua kakinya tidak memakai alas kaki sehingga terdapat banyak goresan di telapak kaki serta betisnya.
“Raveena Hesper! Tuan Hose pasti akan melemparkanmu ke kandang harimau jika tidak mau berhenti juga!”
Raveena menoleh sebentar, kemudian berteriak, “Dia juga akan melemparkanku ke kandang harimau bila sampai tertangkap oleh kalian!”
benar, Raveena tidak boleh sampai tertangkap.
Atau Raveena akan kembali tinggal di dalam neraka, entah sampai kapan.
BRAK!
Raveena menjatuhkan kotak-kotak kayu berisikan sayuran ke jalan, berusaha menciptakan penghalang agar dua pria itu tidak bisa mengejarnya. Pedagang sayur lantas berteriak, “Sialan! Kamu harus mengganti rugi daganganku!”
suasana perkotaan menjadi rusuh karena Raveena terus menjatuhkan banyak barang dagangan milik pedagang. Para pedagang yang mengira Raveena hanyalah orang gila lantas meminta pertanggung jawaban dari dua orang yang mengejar Raveena, mereka mengerubuni dua orang tersebut sehingga mereka kehilangan jejak Raveena.
Raveena mengulas senyuman tipis tatkala dua pria berbadan kekar itu tak mampu mengikutinya. Dia lantas masuk ke dalam gedung bertingkat 5 yang sudah terbengkalai. Bagian dalamnya sudah dipenuhi oleh debu dan kotoran tikus. Raveena menjepit hidungnya menggunakan jari, lalu menaiki tangga menuju atap.
Kritt.
Pintu di bagian atap sudah berkarat, sehingga menimbulkan suara derit tajam saat Raveena mendorongnya. Senyuman di wajahnya berangsung-angsur menghilang tatkala melihat sosok seorang pria yang berdiri di atas atap dengan kedua tangannya memegang sebuah senapan laras panjang, sebelah matanya berada di hadapan teropong kecil untuk membidik targetnya.
Dari tempat Raveena berdiri, dia hanya mampu melihat pria itu dari samping. Tubuh pria itu terlihat begitu tinggi, mungkin sekitar 190 cm yang dibalut oleh mantel panjang berwarna hitam.
Di mata Raveena, pria itu tampak seperti sungai yang tenang di bagian permukaan, tapi sebenarnya mempunyai arus yang deras di bagian dalamnya. Konsentrasinya bahkan sama sekali tidak terganggu meski baru saja mendengar suara pintu yang dibuka oleh Raveena.
“Pria itu berbahaya,” pikir Raveena.
Raveena ingin berlari pergi, tapi kakinya terasa kaku seolah dia sedang dipaku di tempat.
Dalam seperkian detik, Raveena bisa melihat pria itu menarik pelatuk tanpa meninggalkan bunyi senapan. Bubuk mesiu berterbangan di sekitarnya, membuat Raveena yakin bila pria itu baru saja menembak seseorang yang berdiri di bawah bangunan.
“Argghh!! Ada orang yang tertembak!” teriak seseorang.
Tak lama kemudian, ada orang lain yang turut berteriak dengan panik, “Panggil ambulan! Cepat panggil ambulan!”
suara kericuhan terdengar dari bawah gedung, pertanda bahwa pria itu berhasil membidik targetnya.
Pria itu telah membunuh seseorang.
Dan seharusnya Raveena segera pergi apabila ingin selamat.
Akan tetapi, tubuhnya begitu terkejut saat menyaksikan pembunuhan secara langsung sampai-sampai tak mampu bergerak.
Anehnya, Raveena hanya terkejut tapi tak merasa takut.
Usai menyelesaikan tugasnya untuk melenyapkan target, pria itu segera memasukkan senapan laras panjangnya ke koper, lalu berjalan menuju pintu keluar tanpa menghiraukan keberadaan Raveena.
Tatkala berada di hadapan Raveena, pria itu berhenti. Kedua manik cobaltnya menatap Raveena lekat-lekat, terlihat seolah ingin menenggelamkan Raveena ke dalam laut apabila wanita itu sampai berteriak.
“Nona, kamu hanya perlu berpura-pura buta dan tuli hari ini supaya bisa hidup dengan tenang.” Suara bariton rendah terdengar dari bibir pria itu.
Raveena bergeming, dengan susah payah dia berusaha untuk membalas, “Apa kamu adalah pembunuh bayaran?”
“Tergantung perspektifmu saja,” tukas pria itu.
Secara tiba-tiba Raveena memegang lengan pria itu, kemudian menatapnya dengan penuh harapan. “Apa artinya kamu akan membunuh jika mendapatkan bayaran?”
pria itu menggendikan bahunya. “Tergantung.”
“Kalau begitu, bisakah kamu membunuhku?” tanya Raveena.
Keheningan menyambut mereka berdua. Pria itu memperhatikan wajah Raveena, tapi dia tidak menemukan adanya sedikitpun keraguan di raut wajah Raveena, seolah-olah wanita itu memang sudah siap untuk mati.
“Kenapa kamu ingin mati?” tanya pria itu.
Raveena mengangkat kepalanya, menatap langit biru yang terbentang tanpa batas. Tatapan mata hazelnya terlihat kosong saat dia berkata, “Karena seluruh kehidupanku tidak ada bedanya dengan neraka. Alih-alih terus bertahan di dunia, bukankah lebih baik bila pergi ke akhirat?”
“Oleh sebab itu, bisakah Tuan Pembunuh membantuku untuk pergi ke akhirat?”
seulas senyuman tipis terpatri di wajah pria itu, dia sedikit menunduk untuk mensejajarkan wajah mereka. “Sayangnya, aku tidak bisa membunuh wanita dan anak-anak. Aku juga tidak suka membunuh seseorang yang sudah tidak memiliki minat lagi untuk hidup.”
Pria itu lantas menepuk kepala Raveena sekali, sebelum akhirnya berjalan melewati pintu untuk pergi keluar.
Dalam seperkian detik, Raveena membalikkan badannya dan menatap punggung tegap dari pria itu. “Jika memang tidak bisa membunuh, tidak bisakah kamu membantuku untuk keluar dari neraka di dunia ini?”
langkah kaki pria itu terhenti, lalu dia membalas tanpa menoleh, “Maaf, tapi aku tidak pernah membantu seseorang dengan Cuma-cuma.”
Raveena buru-buru menahan lengan wanita itu dan berkata, “Apa Tuan akan membantuku jika aku memberikanmu imbalan?”
“Mungkin.”
“Kalau begitu, bisakah kita bertemu lagi di masa depan? Saat itu, aku mungkin memiliki sesuatu yang bisa kuberikan untuk Tuan.”
“Entahlah, Nona. Aku tidak pernah mengikat janji pertemuan dengan orang asing. Tapi, bila kita memang bertemu lagi, maka aku akan menantikan penawaranmu.”
Raveena bertanya, “Siapa namamu?”
pria itu melepaskan cengkraman tangan Raveena, lalu melangkah pergi. Ketika dia menuruni tangga, jawaban baru terdengar dari bibirnya dan menggema hingga ke telinga Raveena. “Cerano, panggil saja aku Cerano. Ketika kita bertemu lagi, maka aku akan menjadi iblis yang mengikat janji dengan kamu.”
Tak lama kemudian, Raveena mendengar ada suara langkah kaki lain yang menaiki tangga.
Itu adalah dua pria yang sebelum ini mengejarnya, dan tampaknya Raveena akan kembali diseret ke neraka.
บทพิเศษlllฟ้าหลังฝนหนึ่งเดือนต่อมา…อ้วกกก~กอหญ้าเริ่มอาเจียนตั้งแต่เช้ามืด เธอตื่นขึ้นมา อาการอาเจียนก็เกิดขึ้นโดยอัตโนมัติ ส่วนคนที่นอนกกกอดเมียตลอดทั้งคืนพลันสะดุ้งตื่นขึ้นมาด้วยเพราะเสียงอาเจียนแต่เช้าอัลฟ่าเดินเข้าไปหากอหญ้าที่โก่งคออาเจียนอยู่ในห้องน้ำ มือหนาลูบแผ่นหลังบางเบา ๆ จนกอหญ้ารู้สึกถึงความอบอุ่นของสามี“พี่ฟ่า…”“เป็นอะไร ไม่สบายเหรอ?” กอหญ้าส่ายหน้า ก่อนจะโก่งคออาเจียนอีกครั้งจนอัลฟ่าเริ่มเป็นห่วง“พี่จะตามน้าหมอมาตรวจ” ร่างแกร่งกำลังจะก้าวออกไปต่อสายหาน้าหมอของเขา แต่กอหญ้าดึงข้อมือหนาเอาไว้ก่อน“ไม่ต้องหรอกค่ะ”“ทำไม?” อัลฟ่าไม่เข้าใจกอหญ้า อาเจียนขนาดนี้แล้วยังจะดื้อ!
บทพิเศษlllครอบครัวสุขสันต์หลายวันต่อมา…เช้าวันใหม่ที่สดใสกว่าเดิม หากเทียบกับวันวานที่เคยผ่านมา ในช่วงหลายเดือนที่ผ่านมา การจากลา การห่างกันฝันร้าย…จบลงแล้วในความคิดของกอหญ้ามือบางกำลังทำข้าวต้มมื้อเช้าให้กับลูกชายและสามีทาน ตอนนี้สามีของเธอยังคงไม่ยอมตื่นนอนตั้งแต่ถอนตัวออกจากการเป็นผู้นำของตระกูล อัลฟ่าก็ทำงานน้อยลงและอยู่ดูแลเธอกับลูกที่บ้านซึ่งวันนี้สามีของเธอก็ตื่นสายเช่นเดิม…“คุณหญ้าจะปลุกนายน้อยมั้ยคะ เดี๋ยวป้าจะทำอาหารต่อเอง”“ยังดีกว่าค่ะ หญ้าคิดว่าจะป้อนข้าวลูกก่อน ถ้าพี่ฟ่าไม่ตื่นเดี๋ยวหญ้าเข้าไปตามค่ะ” เมื่อคืนก็ไม่ได้จัดหนักอะไรเลยนะ เพราะต้องนอนกับลูกชายไหงไม่ยอมตื่นเสียได้สามีจอมดื้อกอหญ้านึกคิดในใจ ก่อนจะเดินรีบทำกับข้าวให้เสร็จและนำไปป้อนลูกชายที่มีพี่เลี้ยงคอยช่วยดูให้ที่โต๊ะอาหารเล็กของเด็ก
บทพิเศษllคนมันรักพึ่บ!ร่างเล็กถูกวางไว้บนเตียงนอนหนานุ่มเบา ๆ หลังจากอาบน้ำ อัลฟ่าก็เช็ดตัวและช้อนตัวเธอมายังเตียงนอนในทันที กอหญ้ามองดวงหน้าคมคายหล่อเหลาที่อยู่เหนือตัวเธอด้วยความรักซึ่งไม่ต่างจากสายตาคมที่ยิ่งมองเธอด้วยความรักและคลั่งรักขั้นสุด“พี่รักเรานะ” ริมฝีปากหนาเอ่ยบางเบา มือหนาค่อยๆ เกลี่ยผมนุ่มลื่นมือออกไปจากกรอบหน้าหวาน“ได้ยินทุกวัน” กอหญ้าเริ่มคล้องคอสามีมาด ๆ ของเธอ“แล้วไม่ดีเหรอครับ?” อัลฟ่าเอียงคอถามคนตัวเล็ก“ต้องดีอยู่แล้วสิคะ ยิ่งพี่พูดบ่อยๆ หนูยิ่งชอบ” กอหญ้าโน้มดวงหน้าคมลงมาอีกครั้ง เธอจุฟเขาไปหนึ่งที ร่างแกร่งที่เปลือยเปล่าทาบทามลงกลางกายนุ่มนิ่ม ใช้ตัวแก่นกายแข็งแรงถูไถ่เล่นที่กลีบกุหลาบสีหวาน“แล้วหนูไม่คิดจะบอกพี่บ้างเหรอ?” อัลฟ่าเองก็อยากได้ยินคำว่ารักจากปากเมียของเขาบ่อย ๆ เช่นกัน แต่กอหญ้ามักจะเขินอายบอกรักเขาไม่บ่อยเท่าที่เขาทำ“หนูรักพี่ที่สุดในโลก” สำหรับกอหญ้าแล้วคำว่ารักเธอไม่อยากพูดพร่ำเพ้อเพราะความเขินอาย แต่ในเมื่อสามีอยากได้ยินเธอย่อมทำให้ได้จุฟ~“พี่…”“สักรอบนะครับแล้วค่อยพักผ่อน” วันนี้เขาไม่อยากรังแกเมีย แต่คืนเข้าหอมันต้องจัดสักรอบสิ“
บทพิเศษงานแต่งงานคฤหาสน์มาเวลลินอัลฟ่าเลือกจัดงานแต่งที่คฤหาสน์มาเวลลิน เนื่องจากเป็นงานแต่งที่ยิ่งใหญ่ในหนึ่งตระกูลอันดับต้นๆ ของประเทศ เขาจึงต้องจัดที่กรุงเทพมหานคร เพื่อแขกทั้งหลายจะได้สะดวกในการมางานแต่งของเขางานแต่งที่ยิ่งใหญ่ ประดับประดาไปด้วยดอกไม้สีขาวเกือบทั้งหมด เจ้าสาวของเขาชอบสีขาว งานแต่งในวันนี้จึงเป็นสีขาวล้วนเมื่อพิธีงานแต่งได้เริ่มขึ้นในช่วงเย็น อัลฟ่ายืนกุมมือจ้องมองเจ้าสาวสุดสวยของเขาที่กำลังเดินเคียงข้างกับคุณพ่อของเธอวันนี้กอหญ้าสวยมาก มากจริงๆในสายตาของเขา…เจ้าบ่าวเริ่มก้าวเข้าไปรับเจ้าสาวให้ขึ้นมายืนอยู่เคียงข้างกันบนเวที ท่ามกลางแขกเหรื่อเต็มงานเลี้ยงในช่วงค่ำ ซึ่งถือว่าเป็นการยินดีให้แก่บ่าวสาวในงานแต่งของวันนี้ทุกคนมองไปยังบ่าวสาวที่จับกุมมือกัน แสดงความรักที่หวานฉ่ำด้วยการส่งสายตามองกันและกัน จวบจนถึงเวลาที่บ่าวสาวต้องขอบคุณแขกในงานหลังจากพิธีการตัดเค้กอัลฟ่ากล่าวขอบคุณแ
บทที่3คำกล่าวหา“กอหญ้า…” สุ้มเสียงทุ้มต่ำลง เมื่อกอหญ้าปรากฏตัวที่นี่…“ไม่ต้องถามว่าหนูมาได้ยังไง ตอนนี้พี่ต้องตอบหนูมาก่อนว่าพี่อยากเลิกกับหนูใช่มั้ย!? ที่ผ่านมาพี่แค่หลอกให้หนูรักพี่ เพราะพี่คิดว่าหนูเป็นเมียน้อยของใครก็ไม่รู้ที่หนูไม่รู้จัก!” กอหญ้าถามเขาเร็วพลัน ไม่สนใจด้วยว่าตอนนี้เขาจะมองจ
กอหญ้าเลือกที่จะนั่งอยู่ด้านนอกร้าน เธอสั่งเพียงน้ำและเค้กมาทานเพื่อเฝ้าดูอัลฟ่าที่กำลังนั่งไขว่ห้างคุยกับผู้ชายคนหนึ่งอยู่ หากให้เดาคงเป็นเพื่อนของเขา…ไม่มีผู้หญิงอย่างที่เธอแอบคิด… แต่ทำไมเขาถึงได้เมินเฉยกับเธอขนาดนี้นะ…กอหญ้าเม้มริมฝีปากนึกทบทวน จวบจนอัลฟ่าเดินไปข้างๆ ร้าน เธอจึงแอบตามไปเงียบ
บทที่2ความจริงปรากฏ เช้าวันต่อมา…กอหญ้าตื่นแต่เช้ามืดเพื่อทำกิจวัตรประจำวันของเธอ ในเวลาเช้ามืดที่ยังคงมีเสียงน้ำค้างจากสายฝนหยดลงกระทบบนหลังคา ร่างเล็กยังคงนั่งนิ่ง ๆ มือบางถือสมาร์ทโฟนเก่า ๆ ไว้ในมือด้วยอาการสั่นเทาด้วยเสียงสะอื้นทุกอย่างเงียบ เงียบจนใจของเธอรู้สึกปวดร้าว เบอร์โทรหรือแม้แต่ข้
“อาจจะหมดโปรล่ะมั้งคะ” กอหญ้าไม่อยากให้แม่เครียดไปกับเธอ จึงเอ่ยออกมาแล้วยิ้มขำกับสิ่งที่เกิดขึ้นในตอนนี้“เขา?” “อยู่ ๆ ก็เงียบ ติดต่อไม่ได้ คนหาย ไลน์ก็ไม่ตอบ” กอหญ้าพูดติดตลก ทั้งที่ในใจแทบแตกสลายได้แล้ว“พี่เขาเป็นอะไรหรือเปล่า…” นั่นสินะ… เขาเป็นอะไรหรือเปล่า…รอจนถึงพรุ่งนี้ก็แล้วกัน ถ้าเขาย





