Mag-log in彼氏が事故で亡くなり、最期に「唯一の弟である平塚鶴本(ひらつか つるもと)の面倒を見てほしい」と私に託した。 私は彼を大学卒業まで支え、会社を立ち上げる手助けもした。けれどある夜、鶴本が酒に酔った勢いで、私たちは一線を越えてしまった。 その後、私たちの関係に悩んでいたとき、彼のデスクに置かれた私の写真と婚約指輪を目にした。 胸が大きく揺さぶられ、私は休憩室の扉を開け、二人の関係をはっきりさせようと思った。 ところが、扉を開けた瞬間、白いキャミソールが足元に落ちてきた。 私はその場に凍りついた。布団の中には、驚いた表情を浮かべる女性アシスタントを包み隠そうとする鶴本の姿があった。 「ノックくらいもできないのか?」 顔面が真っ白になるのを感じながら、私は慌てて退こうとした。だがそのとき、アシスタントの怯えた声が私を呼び止めた。 「裕美さん……服を取っていただけますか?」 彼女の瞳に潜む敵意を無視し、私は無言でキャミソールをベッドに投げ捨て、その場を逃げるように後にした。 会社を出るとすぐに、鶴本から電話がかかってきた。 「裕美姉……俺の部屋に勝手に入るのは、もうやめろ」 私は乾いた笑みを浮かべて「わかった」とだけ答えた。 それ以来、二度と彼の世界に足を踏み入れることはなかった。
view moreHidup ini melelahkan. Setiap hari, beban di atas pundak terasa semakin berat. Walau begitu, kaki harus tetap melangkah karena waktu tak memberi ampun pada siapa pun yang lemah.
Itulah yang dirasakan oleh seorang gadis di dalam rumah kecilnya. Setiap kali bunyi reruntuhan bangunan terdengar mendekat, ia akan menekan tuts piano dengan lebih bersemangat.
Ketika kegaduhan itu terdengar lebih kencang, ia memutar tombol pengatur volume hingga hampir maksimal. Tidak ada satu pun di dunia ini yang mampu menghentikan permainan piano gadis itu, kecuali bunyi bel untuk yang kelima kalinya.
“Aaargh! Siapa lagi itu? Kapan mereka akan berhenti menggangguku?”
Dengan langkah berat dan cepat, ia menghampiri pintu.
“Ada apa?” tanyanya garang.
Sosok berwajah tampan di luar pintu pun mengerjap. Namun, sedetik kemudian, senyum manis pria itu melengkung sempurna.
“Selamat siang, Nona Gabriella,” sapanya ramah.
Sang gadis mengerutkan alis mengamati pria asing yang mencurigakan itu.
Rambut hitam yang tertata rapi, kemeja putih panjang di tengah hari yang terik, dan sepatu pantofel mengilap di ujung kaki. Tidak salah lagi. Pria itu pasti karyawan Quebracha Company yang diutus untuk meluluhkan hati Gabriella.
“Apakah mereka pikir, keputusanku bisa diubah karena seorang laki-laki tampan? Cih, pemikiran yang dangkal sekali,” batin sang gadis dengan sebelah sudut bibir berkedut samar.
“Kalau Anda ingin membujuk saya untuk menjual rumah ini, maaf ... saya tetap tidak tertarik. Tolong katakan kepada atasan Anda untuk berhenti mengganggu saya dan rumah ini. Kalian hanya akan menghabiskan waktu dan energi.” Gadis itu menarik pintu tanpa basa-basi.
Sang pria spontan menahan pintu dengan lengannya yang kekar. Mata si tuan rumah pun terbelalak menyaksikan keberanian yang tak terduga itu.
“Apa?” tanya sang gadis sambil menekan pintu agar tidak terbuka lebih lebar. Ia takut jika si orang asing memaksa masuk ke rumahnya.
“Kedatangan saya ke sini bukan untuk itu.” Senyum manis kembali diperlihatkan meski hanya lewat celah sempit.
“Lalu, apa?” Gabriella mengerutkan alis mengisyaratkan bahwa dirinya risih.
“Karena Anda menolak untuk menjual rumah ini, perusahaan kami ingin bernegosiasi.”
“Bernegosiasi? Apa bedanya dengan membujuk?”
“Tentu saja berbeda. Karena itu, mohon izinkan saya masuk dan menjelaskannya secara rinci.”
Sang gadis menggigit bibir bawahnya dan melayangkan tatapan sinis. Akan tetapi, laki-laki di hadapannya sama sekali tidak mengubah ekspresi. “Anda benar-benar ingin masuk ke rumah ini?” tanya Gabriella seperti menguji nyali.
“Ya,” angguk sang pria tanpa sedikit pun nada khawatir.
Setelah menimbang-nimbang sejenak, si tuan rumah menghela napas samar dan mengangguk kecil. “Baiklah, silakan masuk.” Pintu akhirnya dibuka.
“Terima kasih,” ucap pria tampan itu masih dengan lengkung bibir yang manis. Bahkan sampai ia duduk di sofa pun, keramahannya tetap berseri.
“Silakan diminum,” tutur Gabriella sambil meletakkan secangkir kopi dan segelas air. Sudut bibirnya kini ikut naik.
“Terima kasih, Nona. Perkenalkan, saya Max dari Quebracha Company.”
“Ya, saya sudah tahu,” sela Gabriella dengan bibir mengerucut.
“Sudah tahu?” Pria itu mengangkat kedua alisnya.
Sang gadis mengangguk yakin. “Ya ..., siapa lagi yang tega mengganggu kedamaian hidupku kalau bukan karyawan dari perusahaan Quebracha?”
Raut tegang sang pria sontak berubah kembali manis. “Oh, baiklah. Saya mohon maaf atas ketidaknyamanan Anda.”
Gabriella hanya mengangkat bahu singkat.
“Sebelum saya mulai menjelaskan, saya ingin memastikan. Apakah Anda yakin tetap tidak ingin menjual rumah ini meski ditawari harga empat kali lipat?”
Sang gadis menarik napas panjang dan menjawab, “Ya.”
“Apakah Anda yakin tetap nyaman tinggal di rumah ini jika proyek perusahaan kami sudah berjalan?”
“Ya.”
“Meski gedung-gedung tinggi mengelilingi rumah Anda?”
Gabriella pun tertunduk dan menjepit pangkal hidungnya. “Bukankah maksud Anda datang ke sini bukan untuk membujuk saya?” protesnya dengan nada malas.
“Ya, memang. Saya hanya ingin memastikan,” terang Max dengan nada santai. Selang satu kedipan, ia meletakkan sebuah map di atas meja. “Kalau begitu, Anda pasti tidak keberatan menandatangani surat ini.”
Dengan alis berkerut, Gabriella membaca dokumen tersebut. “Surat pernyataan?”
“Bahwa Anda tidak keberatan jika proyek kami tetap dilancarkan. Anda tidak akan membuat protes ataupun laporan kepada media.”
Tanpa sadar, sang gadis menggertakkan rahang. “Jadi, kalian benar-benar tega mengubah lingkungan ini menjadi perkotaan?” gumamnya dengan suara bergetar.
“Kami tidak akan menyentuh rumah Anda, termasuk pekarangan dan pagarnya. Kami hanya akan membangun pada jarak aman.”
Tiba-tiba, Gabriella mendengus dan tertunduk.
“Dari mana saya tahu kalian tidak akan mengusik rumah ini? Poin-poin yang Anda sebutkan tadi tidak tertulis dalam surat ini. Perusahaan Anda bisa saja melakukan kecurangan.”
“Kecurangan seperti apa yang Anda maksud?”
Telunjuk sang gadis mendadak teracung.
“Tunggu sebentar. Saya tuliskan poin-poin yang harus perusahaan Anda penuhi. Silakan nikmati kopi ini selagi menunggu.” Tanpa membuang waktu, Gabriella masuk ke sebuah pintu.
Seperginya si tuan rumah, mata sang pria mulai leluasa menjelajah. Semua potret yang tergantung di dinding diamati dengan saksama. Begitu pula dengan piala yang terpajang pada rak kaca di sudut ruangan. Embusan napas sinis spontan keluar dari mulutnya.
“Siapa sebenarnya perempuan ini?”
Max lanjut mengamati piano yang mengintip di ruangan sebelah. Pengamatannya baru berhenti ketika ponsel dalam sakunya bergetar.
“Bagaimana Tuan CEO? Apakah Anda masih tidak percaya bahwa perempuan itu memang unik?” Max tersenyum miring begitu membaca pesan dari sekretaris pribadinya.
“Cih, unik apanya? Justru aku semakin curiga kalau perempuan ini disuap oleh pesaing bisnis kita,” balas sang CEO tanpa perlu berpikir dua kali.
“Lalu, apakah benar bahwa perempuan itu cantik sekali? Kudengar, Gabriella itu sangat memesona.”
Helaan napas langsung keluar dari mulut Max. “Hm? Memesona?” gumamnya sembari melihat kembali foto Gabriella kecil yang diapit oleh kedua orang tuanya.
“Tidak sama sekali,” desah pria itu seraya meraih cangkir.
Begitu kopi hangat masuk ke mulutnya, mata pria itu nyaris melompat keluar. Sedetik kemudian, cairan hitam yang seharusnya ditelan malah dituang kembali ke wadahnya.
“Astaga! Kenapa pedas sekali?”
Tanpa ragu, sang CEO mengambil gelas yang satu lagi. Belum sempat air membasahi kerongkongannya, bunyi semburan air sudah terdengar. “Huek .... Asin sekali!”
Sambil mengelap bibir dan dagunya dengan sapu tangan, pria itu celingak-celinguk mencari dapur.
“Aku butuh air,” batinnya sambil bernapas lewat mulut yang menganga. Malangnya, semua pintu yang ia tuju terkunci rapat. Kedongkolan seketika meroket merobohkan kesabaran.
“Perempuan itu ... beraninya dia mempermainkanku.” Dengan tangan terkepal erat, Max mengetuk pintu kamar Gabriella.
「私は欲しくない!」鶴本は何か言おうとしたが、私は彼を見たくも聞きたくもなく、布団をかぶり、耳を塞いですべてを聞こえないようにした。結局、彼は言葉を飲み込み、病室を出ていった。ようやく静かになり、逃げるようにしていた郁哉も病室に戻ってきた。彼は笑いながら言った。「彼が出て行くとき、魂が抜けたみたいで、ちょっとかわいそうだったな」「そう?」私は冷たく反問し、布団の中で胸に手をあてた。もし以前なら、この言葉を聞いたら心が痛んだだろう。でも今はただほっとした。もう鶴本とそんな無意味な会話をする必要がなくなったから。郁哉は私が話したくなさそうだと察し、話題を自然に絵のことに変えた。彼は私の個展を開くために準備を進めてくれると言った。最初はカリガニヤで、その後、私が学び終わった来年、帰国して開催する予定だ。私はそれに同意した。その後の日々は、絵を描いたり、個展の準備をしたり、鶴本のしつこい関わりに対応したりすることに費やされた。そしてある日、鶴本がいつも通りに現れなかった。私はほっと息をつき、ようやくすべてのエネルギーを仕事に集中できるようになった。だが、絵の具を調整しようとした時、警察から電話がかかってきた。「細井さんですか。平塚さんが今警察署にいるので、少し来ていただけますか?」断りたかったが、鶴本にはここに他に知り合いがいない。仕方なく筆を置き、警察署へ向かうことにした。警察署に着くと、鶴本は顔に傷を受けており、険しい目つきで地面にしゃがんでいる男を睨んでいた。私が来ると、彼は顔の表情を少し和らげ、少し恥ずかしそうに言った。「来てくれたんだ」私は彼には構わず、警察と話を進めた。その話の中で、鶴本の財布が盗まれ、彼はそれを取り戻そうとしたが、盗人に暴力を振るわれ、最終的に財布を川に投げられてしまったことが分かった。その結果、鶴本の携帯、財布、身分証などすべてが川底に沈んでしまい、回収できなくなったという。私はため息をつき、鶴本が警察からの注意を受け終わるのを待ってから彼を連れて出た。彼は静かに口を開いた。「裕美姉、行く場所がないんだ、俺、君の家に行ってもいいかな?」私は冷たく断った。「ダメだよ。男と女、二人きりで同じ部屋にいるのはおかしい」私は静かに彼を見つめ、ゆっくりと首
鶴本は堂々と反論した。「あいつが君に責任を取らないから、ぶん殴ってもいいくらいだ!今さら媚びを売りに来ても、もう遅い!」私の血圧が急上昇したのを感じると、郁哉が私の背中を軽く叩きながら、興味深げに言った。「ふむ、裕美さん、どうやら君の弟はまだ自分の立場に気づいていないようだね」私は唇を噛みしめ、黙ってうなずくしかなかった。郁哉の冷笑が一層鋭くなった。彼は鶴本の肩を軽く叩きながら、皮肉を込めて言った。「君、裕美さんが甘やかしすぎたせいで、正しい判断ができなくなったんじゃないか?自分で調べてみなよ、誰が彼女を妊娠させたのか」鶴本は一瞬驚いた様子を見せ、次の瞬間、困惑した表情を浮かべ、思い出したかのように携帯を掴んで部屋を飛び出して行った。私は彼を止めることなく、郁哉を見つめながら、無力そうに言った。「木村さん、彼にそれを知らせたくなかった」郁哉は私の髪を軽く撫でながら、兄のように優しく言った。「もし彼が事実を受け入れなければ、ずっと君をしつこく追いかけるだろう。裕美さん、断らなければ、事態が悪化するだけだってこと、分かっているよね。今こそ、彼に退くべきだと知らせる時だ」私は黙って待っていた。鶴本が戻ってくるのを、ただ待っていた。しばらくして、鶴本がまるで風のように部屋に飛び込んできて、私のベッドの横に跪いた。彼はすっかり力を失い、震えていた。「裕美姉、あの夜は君だったんだよね? 亜衣じゃなくて。俺は監視カメラを調べたんだ。亜衣は部屋の前に立っていただけで、君が朝出て行った後に彼女が部屋に入った」彼は目を上げ、深い痛みを湛えた目で私を見つめた。「だから、あの子は俺たちの子供だったんだ。全部俺のせいで、あの子はもういないんだよね?」私は何も言わなかった。ただ、あの夜の胸が裂けるような痛みを思い出して、涙が止まらなかった。鶴本は慌てて手を伸ばし、私の頬の涙を拭いながら必死に言った。「泣かないで、泣かないで、全部俺のせいだ。殴っていい、どうしても発散したいなら、俺をどんなに痛めつけても構わない。半殺しにされても、俺は文句を言わない。お願いだ、裕美姉、もう一度だけチャンスをくれ。俺は一生かけて償う覚悟だ」彼の必死な姿を前に、もし昔の私だったら、きっと心が揺れて、彼を抱きしめて許していたかもしれない。けれど
私は彼の思いに構うつもりはなかった。ただ、ただしっかりと眠りたかった。病室に着くと、私はそのままベッドに潜り込み、目を閉じた。けれど、鶴本はようやく耐えきれなくなったのか、静かに口を開いた。「裕美姉、俺と一緒に帰ろうか?俺は君が好きだ」その言葉を聞いた瞬間、私の心は苦しみで満たされた。もしあの時、もっと早くその言葉を聞けていたら、どんなに良かっただろうか?私の心が傷ついてから、ようやく彼がその言葉を口にするなんて。この五年間、私は彼のことを気にかけ続けてきた。気づかないうちに、彼に恋していたこともある。けれど今、私は確信している。もう彼を愛していない。涙が頬を伝うのを感じながら、私は鶴本の目をしっかりと見返し、「鶴本、私はずっとあなたの姉だよ」と言った。これからは、できるだけ彼から距離を取ろうと思った。普通の姉弟として、必要な距離を保たなければならない。彼が求める愛情は、私にはもう与えられない。私の言葉を聞いた鶴本の目に涙が浮かび、彼は私の手首を掴んだ。「裕美姉、まだ俺に怒ってるのか?ごめん、全部俺のせいだ。最初から自分の気持ちに気づけなかったのは、俺の誤りだ。でも、お願いだ。俺にチャンスをくれ。間違いを正す機会をくれ!俺たちは長い間、お互いを支え合ってきたじゃないか。君には俺しかいない、俺にも君しかいないんだ!君が妊娠したことを俺は気にしない。それは君のせいじゃなく、あの男のせいだ。あいつを見つけて、必ず懲らしめてやる!だから、一緒にいてくれ。結婚しよう、俺は君を幸せにする!」その執着ぶりに怒りがこみ上げ、子どもの話を持ち出されたことで私の感情は爆発した。私の人生のほとんどの不幸は雨の夜に起こった。激しい風、雷、そして雨、まるでそのたびに大切な人を失いそうな気がする。でも私はよく知っている。あの子がいなくなった原因の一部は鶴本にもある。目に涙をためて、私はついに鶴本の頬を力強く叩いた。「よくもあの子のことを口にしたわね!私をもっと憎ませたいの?」鶴本は何が起こったのか分からず、顔を覆いながら頭を下げて、私に怒りをぶつけられるのを黙って受け入れた。その姿を見て、ますます腹が立ち、近くにあったティーカップを拾い上げ、鶴本に向かって投げつけた。カップは鶴本に当たらず、壁に
私は体を起こし、そっと尋ねた。「二人、喧嘩したの?」鶴本は私の手を握り、何度も撫でながら、怒りを滲ませた口調で言った。「警察によると、君を車で轢こうとした奴は大金を受け取っている。銀行の取引を調べたら、送金したのは亜衣だった。彼女、君を殺そうとしてる」その言葉に、私は死神とすれ違ったあの瞬間を思い出し、背筋に冷たい汗が流れた。亜衣が鶴本を好きで私を嫌っているのは知っていたけど、まさか殺意まで抱いていたなんて。震えながら私はゆっくりと顔を向け、「じゃあ、今彼女はどこにいる?」と尋ねた。鶴本は唇を噛み締め、しばらく黙った後、ようやく口を開いた。「警察署だ」私は警察署の前に立ち、鶴本は背後で私を見守っていた。私たち二人も、事情聴取を受ける必要がある。聴取を終えた後、私は亜衣に会いたいとお願いした。亜衣はまだ送還されていなかった。私と対面した瞬間、彼女は平然とした顔で、軽く笑いながら言った。「残念ね、あと少し待てば、あなたは死んでいたのに」私は目を銀色の手錠から離し、彼女の目をじっと見つめた。「どうして?」亜衣はしばらく私の背後を見つめ、鶴本が現れないことを確認すると、突然、目を赤くした。その目の中には悲しみでも後悔でもなく、ただ憎しみが浮かんでいた。「どうして?私がどれだけ鶴本を愛しているか、わかるでしょう?それなのに、彼の目に映るのは、あなた一人だけ!彼を手に入れるために、私はあんな薬まで使ったのに、彼は無意識のままあなたに電話をかけるなんて!私はほんの十分間、薬を処理しに出かけただけなのに、帰ったら、あなたたちが同じベッドで寝ていた!裕美さん、その夜、私はあなたたちの部屋の前で一晩中立ち尽くしていたの。あなたがどれだけ憎いか、わかる?」その言葉を言い終えると、亜衣はまた笑い出し、涙をこぼしながら言った。「でも、あなたは彼が目を覚まさないうちに逃げた。それが私にチャンスをくれた。今でも彼は、あの日、私と一緒に一夜を過ごしたと思っている!」亜衣の叫び声が響く中、私はあの荒唐無稽な夜に戻ったような気がした。私は鶴本の部屋に駆け込んだ瞬間、彼に抱きしめられた。彼は私に「裕美姉」と呼び、低く掠れた声で、まるで耐え忍んでいるようだった。彼の体はとても熱く、私は彼を心配で仕方がなかった。だから、
「裕美姉を見つけて、連れて帰るつもりだ。君も一緒に行くか?」亜衣の瞳に涙が滲み、しばらくしてから頷いた。「行きたい!私は女だから、裕美さんが妊娠して流産したことを男のあなたに話すのは恥ずかしいはず。私たち女性同士の方が、もっと詳しく聞けると思う。私がしっかり聞き出すよ、子供の父親が誰なのか。そして、その男を見つけて、裕美さんのためにきちんと仕返しをする」鶴本は少し考えた後、携帯で二枚の航空券を手配した。日影と一緒に過ごした数日間で、私は多くのことを学んだ。新しく描いた絵を郁哉に送ると、郁哉は止まることなく褒め続けた。「裕美さん、前の絵は雰囲気はあったけど、まだ整ってなかった
郁哉は笑いながら言った。「裕美さん、芸術の仕事をしてるなら分かるでしょ?感情は目に出るものだって。鶴本さんもそうだよ」この言葉を聞いて、私はすぐに否定した。「違うよ、木村さん。鶴本はもう本当の愛を見つけたんだから」郁哉は他には何も言わず、日影に何かを言った後、電話を切った。どうやら鶴本を追い払うつもりらしい。私はスーツケースを引きながら、日影の車に乗り込んだ。鶴本と別れて二国間で過ごすことになり、今、彼が海の向こうで狂っていることなど知る由もなかった。スタジオの前、鶴本は車の中で座って、鋭い視線で歩いてくる郁哉をじっと見つめていた。郁哉が近づくと、鶴本は急に車のドアを開
イヤフォンをつけていたが、鶴本の怒鳴り声で耳がキンと痛くなった。音量を下げ、彼の叫びを聞きながら、思わず笑ってしまった。「忘れたの? 私は赤池とまだ結婚していないよ。私はただ彼の彼女であるだけ。仮に妊娠して流産したとしても、あなたの兄に申し訳なんて思わないし、罪悪感も持たない。それに、この子の父親が誰か、あなた本当に知らないの?」私の言葉を聞いた彼はさらに怒り、声がかすれてきた。「君が自分を大事にしないからだ!俺がどうして、その子の父親が誰だなんて分かると思うんだよ!今すぐ帰ってこい!そうすれば俺が兄の代わりに許してやる!でも来なければ、二度と俺に会えないし、兄の墓も移すか
Rebyu