Masuk億万長者、鷹司誠一郎(たかつかさ せいいちろう)の妻となって二年。ようやく、元婚約者の星野寛祐(ほしの かんすけ)が、私との結婚の約束を思い出したらしい。 私設の邸宅前には、黒塗りの高級車がずらりと並んでいた。運転手たちが次々と荷物を降ろした。ブランド時計、宝石、オーダーメイドのドレス、果てはグランドピアノまで。 寛祐はバラの花びらが舞い散る中で、意気揚々と私に告げた。 「心瑚。言っただろう。咲良さんとの間に子供を作ったのは、兄貴が事故で亡くなり、彼女が義姉として我が家の血筋を残したいと願ったからだと。 赤子が生後一ヶ月を迎えたばかりだ。彼女との約束は果たした。だから、すぐに迎えに来たんだ」 私は温水プールに浸かっていた。産後のリハビリ運動を終えたばかりで、寛祐など構っている暇はない。 寛祐は眉をひそめ、まるで物分かりの悪い子供を諭すような口調で続けた。 「不機嫌なのは分かっている。だが、君は桐生家のお嬢様だ。何一つ不自由していない。夫を亡くしたばかりの咲良さんを、少しは哀れんでやれないのか? 二年待たせたのは悪かったが、俺は今、戻ってきた。三日後に式を挙げる。君がまだ俺を想っているのは知っているさ。でなければ、そんな挑発的なビキニ姿で俺に会うはずがない」 全てを掌握しているかのような彼の態度に、私は思わず笑ってしまった。 「あの人を追い出しなさい。私の水泳の邪魔よ」 馬鹿馬鹿しいにも程がある。 私は鷹司グループの跡取りを生んだばかりで、誠一郎がわざわざ私と子供を帰国させ、両親に顔を見せようとしていたのだ。 まさか、こんなくだらない疫病神に遭遇するとは。
Lihat lebih banyakDzrrrtt ....
Lintang mengabaikan ponselnya yang bergetar menandakan adanya panggilan masuk.
Barulah setelah meeting selesai, Lintang kembali melihat ponselnya. Terlihat lima puluh pesan singkat dan dua puluh panggilan tak terjawab dengan nama kontak 'IBU RATU' di layar ponselnya.
Baru saja Lintang membuka satu pesan yang bahkan belum sempat ia baca, kontak dengan nama 'IBU RATU' itu kembali membuat ponselnya berdering.
"Ada apa? Aku baru selesai meeting!" jawabnya kesal.
"Nanti malam kamu harus luangkan waktumu untuk makan bersama! Mama nggak mau tau! Kamu harus dateng! pokoknya harus! Kalau nggak, mama bisa nekat bikin malu kamu dengan mendatangi kantormu dan ...," desak Mayang memaksa putrinya agar menuruti kemauannya. Tanpa menanggapi ancaman sang Bunda
Lintang mematikan ponselnya.
"Menyebalkan sekali!" Lagi-lagi ia menggerutu di tengah kesibukannya.
Selang beberapa menit, seorang wanita memanggilnya.
"Bu lilin, pak Bowo memanggil Anda ke ruangannya," ucap Anita seorang sekretaris yang cantik nan manis dengan lesung di kedua pipinya.
"Haih ... ada apa lagi ini? Masih pagi kok ya udah banyak yang bikin sebel sih! Ngerusak mood aja!" keluh Lintang yang kekesalannya sudah di ubun-ubun.
Nampaknya pagi itu adalah pagi yang benar-benar membuat mood Lintang memburuk.
Tok ... tok ... tok ....
Setelah pintu dibuka nampak sebuah senyuman hangat dan ramah terukir pada wajah pria paruh baya yang garis halus mulai terlihat samar dikeningnya.
"Bapak memanggil saya?"
"Ah iya! Masuk Lin. Sini, sini!" pinta Bowo antusias dengan nada bicara dan logat yang khas nampak seolah sangat akrab dengan Lintang.
"Ada apa pak? Apakah ada masalah dengan ...."
Ceklek!
Lintang menoleh ke arah sumber suara tanpa menyelesaikan kalimatnya. Kali ini nampak seorang pria muda serta rupa yang asing masuk keruangan itu.
"Ah, akhirnya datang juga. Iyak! Lintang, ini Ishan dan Ishan ini Lintang karyawan paling kompeten, paling cekatan dan pokonya paling best lah di sini."
Dengan antusiasnya Bowo memperkenalkan Lintang pada Ishan diiringi dengan pujian setinggi langit. Namun siapa sangka dibalik pujiannya itu terselip harapan, lebih tepatnya niat terselubung Bowo agar Ishan dapat menerima dan bisa rukun dalam bekerja sama dengan Lintang.
Bowo adalah direktur utama di perusahaan Lintang bekerja. Bukan tanpa sebab Bowo begitu akrab dan memuji Lintang setinggi langit. Ia sangat akrab dengan Lintang lantaran Lintang adalah karyawan andalan lebih tepatnya aset perusahaan bagi Bowo. Betapa tidak, Lintang yang cekatan selalu mampu membereskan kekacauan yang dibuatnya akibat kecerobohannya yang sudah mendarah daging.
Namun, Ishan pria asing yang baru datang ini justru mengabaikan Bowo yang merupakan paman sekaligus ayah angkatnya.
Ia terpaku menatap wajah gadis yang tujuh tahun silam meninggalkannya, kini berada tepat di hadapannya.
"Kau? Di sini?!" tanyanya yang menunjukkan seolah sudah mengenal Lintang sebelumnya.
"Maksudnya?" jawab Lintang yang mengerutkan keningnya.
"Eh, kalian sudah saling kenal?" tanya Bowo menyela.
"Maaf, mungkin saya lupa, tapi anda siapa?" tanya Lintang yang menyerah lantaran benar-benar tak mengenali pria yang berdiri di hadapannya itu.
"Ah, bahkan kau tak mengenaliku?Alasan itukah yang membuatmu enggan menjabat tanganku? Apakah ini yang namanya karyawan teladan?" tanya Ishan yang tiba-tiba menunjukkan ekspresi marah.
"Ah maaf, iya saya mohon maaf atas kel ...."
"Ah ... sudahlah! Itulah kamu."
Ishan mengibaskan tangannya menolak tangan Resti lantaran kesal di abaikan.
"Ada masalah apa dengan pria ini? Baru pertama kali ketemu udah songong aja! Jadi pengen jahit tu mulut!" umpatnya dalam hati berusaha menahan diri untuk mencaci.
"Maaf menyela, tapi ijinkan saya bicara dulu," ucap Bowo menyela untuk kembali melanjutkan memperkenalkan keduanya.
"Lintang, ini adalah Ishan yang akan menggantikan saya sebagai direktur utama untuk mengurus perusahaan ini."
Lintang mulai merasa tertekan mendengar apa yang di sampaikan oleh bosnya.
"kabar bagusnya, mulai hari ini juga kamu juga ku angkat sebagai wakil direktur untuk mendampingi Ishan."
Seketika mata Lintang melotot seolah bola matanya hendak melompat keluar saking terkejutnya.
"Maaf, sepertinya saya salah dengar dan saya juga sangat tidak paham dengan apa yang bapak sampaikan."
"Hadeh ... katanya karyawan paling kompeten dan paling hebat, tapi selain dungu juga tuli! Benar-benar paket combo. Sepertinya aku bakal berumur pendek kerja bareng dengan karyawan model begini."
Ishan tanpa ragu mengolok Lintang dengan sindirannya.
"Nah mulai lagi ni cowok! Kalau di lihat lagi, bibir itu tidak asing!" batinnya dengan melemparkan tatapan tajam ke arah Ishan. Meski kesal dengan ucapan Ishan tapi Lintang mulai mengingat pria yang dari tadi bersikap sinis terhadapnya.
"Sepertinya saya mulai ingat sekarang! Lu bukannya mantan pacar gue yang culun itu ya? Yang dulu suka banget ngintilin gue di perpus bukan?"
Pertanyaan yang di lontarkan Lintang sontak membuat Bowo dan Ishan kaget hingga menunjukkan reaksi yang tak terduga. Ishan yang dengan sikap diamnya seolah mengiyakan pertanyaan Lintang. Sedangkan disisi lain Bowo sudah menutup mulutnya dengan tangan kanannya menahan tawa melihat kebungkaman Ishan atas pertanyaan Lintang.
"Hmm ... tapi seingatku namanya Satrio atau Tio sapaan akrabnya. Tapi apa mungkin itu kamu?" tanya Lintang memainkan telunjuknya di ujung bibir merahnya.
"Oh bisa jadi itu benar Lin, karena nama panjangnya Satrio Ishan kartadinata, akan lebih bagus kalau kalian CLBK," kelakar Bowo menyela dengan cekikik tawa yang memudar lantaran menjawab praduga Lintang.
"Ah, ternyata itu beneran kamu toh. Tapi sekarang penampilanmu lumayan, nggak seculun dulu."
Lintang membalas olokan Ishan sebelumnya dengan komentarnya. Sementara itu Bowo terpingkal-pingkal mendengar keponakan sekaligus anak angkatnya yang selama ini ia kenal sebagai pria yang selalu di puja wanita kini di olok oleh seorang wanita tepat didepan matanya.
"Om! Om Bowo mending cepetan pulang deh! Bukannya om ada acara sama calon istri Om ya?" ucap Ishan yang saking malunya hingga ingin segera Bowo pergi.
"Hahaha ... iya ... iya. Tapi sebelum itu, om harus mengumumkan dan memperkenalkan kalian dulu donk. Masak direktur utama di ganti tapi bawahan nggak ada yang tau? Kan nggak lucu."
Ketiganya keluar dan Bowo memberikan pengumuman tentang dirinya yang mundur dan digantikan Ishan serta Lintang yang naik jabatan menjadi wakil direktur.
Di tengah pidato Bowo, baik Ishan maupun Lintang justru tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
"Para orang tua yang sudah udzur ini menikah di waktu yang senja rupanya! Lebih dari itu, kenapa tak ada yang mau dengar pendapatku? Bahkan aku tak diberi kesempatan untuk menolak jabatan yang pria tua ini berikan! Sungguh ironis!" gerutu Lintang dalam hati kesal karena jabatan barunya. Lebih tepatnya ia merasa kesal menjadi bawahan Tio mantan kekasihnya.
Sementara itu Tio alias Ishan pun tengah bertanya-tanya dalam hatinya.
"Kira-kira apa alasan Lintang mutusin gue waktu itu? Apa sekarang dia udah punya pacar? Atau bahkan mungkin suami? Dia masih ingat aku, tapi kenapa tingkahnya seolah tak pernah terjadi apapun? Apa aku hanya mainannya? Ah sial! Kepalaku kembali dipenuhi dengan dirinya! Aku bisa gila!" batinnya.
Sepanjang pidato ia terus bergelut dengan pikirannya sampai-sampai ia tak mendengar jika Bowo memintanya memberi sambutan.
Lintang yang berada tepat di sampingnya pun menyenggol lengan Ishan dengan sikunya.
"Berhentilah memikirkan diriku, saatnya memberi penyambutan,"bisik Lintang asal meledek. Jarak yang begitu dekat membuat hangat napas Lintang menggelitik telinga Ishan hingga telinga Ishan memerah karenanya. Ditambah lagi aroma parfum yang familiar di indera penciuman Ishan pun merasuk menggoyahkan hati dan mengacaukan pikirannya.
"Aku tidak memikirkanmu!" teriak Ishan spontan dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus, membuat seluruh karyawan bahkan Bowo terkejut serta tertawa geli melihat tingkah putra angkatnya.
Refleks Ishan membuat Lintang geram karena malu hingga membuatnya mencubit pinggang Ishan sambil berucap pelan. Rahang merapat meminimalkan bibir bergerak saat berucap menekankan betapa gemasnya Lintang. "Apa kau benar-benar gila? Dasar bodoh!" bisiknya.
Ishan meringis kesakitan. Tangannya meraih tangan Lintang yang masih kuat mencubit pinggangnya.
Grep!
Ishan terdiam saat memegang tangan Lintang, lantaran merasakan kelembutan tangan Lintang yang dingin di antara nyeri di pinggangnya akibat cubitan Lintang.
"Menjijikkan!" Gerutu Lintang menghempaskan tangan Ishan.
"Silahkan pak Ishan untuk memberikan kata sambutannya," tukas Bowo menengahi dua sejoli yang berseteru dalam bisik.
Saat Ishan memberi kata sambutannya, nampak semua karyawati terpesona oleh rupa elok sang direktur muda itu. Suara Ishan yang berat tapi kalem bak nyanyian idol dambaan mereka. Dalam sekejap ia menjadi idola baru di perusahaan itu.
Usai mengumumkan jabatan baru Lintang dan pergantian direktur baru, Bowo kembali memberi sedikit penjelasan pada tugas-tugas Ishan.
"Jika masih ada yang belum kamu pahami atau butuh bantuan, kamu bisa mengandalkan Lintang. Sudah ya, jangan lupa. Nanti malam kamu harus datang. Om pergi ya? Yang rukun sama mantan," ledek Bowo sebelum pergi meninggalkan Ishan.
一年後。寛祐と咲良の騒動は、とっくの昔に過去の出来事となり、人々の記憶から忘れ去られていた。私はただ、友人たちの雑談の中で、時折二人に関する断片的な情報を聞く程度だった。咲良は詐欺罪で寛祐に訴えられた。最終的に、咲良は巨額の賠償金を支払うことができず、刑務所に送られ、子供は孤児院に送られた。数年後、ある人が、街の最も寂れた歓楽街で、咲良によく似た女性を見かけたと言っていた。一方、寛祐は、彼と咲良のスキャンダルが露呈した後、星野グループの株価は暴落し、元々危機的だった会社はさらに追い詰められた。誠一郎は寛祐に息つく暇も与えず、非情な手腕で、一ヶ月以内に星野グループの全面買収を完了させた。かつて傲慢を極めた星野家は、こうして完全に歴史の舞台から姿を消した。その後、寛祐は生計を立てるために宅配業者になったと聞いた。寛祐はついに、自身の愚かさと傲慢さの報いを受けたのだ。......午後の日差しが心地よく、私と誠一郎は二歳になる息子を連れて、邸宅の芝生で遊んでいた。息子は誠一郎の性格を受け継いでおり、幼いながらも泣いたり騒いだりせず、ただ手元の積み木に集中していた。誠一郎は私の隣に座り、私の腰を抱き寄せ、時折息子を見上げては、優しい笑みを浮かべていた。「パパ、抱っこ!」息子は積み木を投げ捨て、短い足でよちよちと誠一郎に向かって駆け寄ってきた。誠一郎はすぐに彼をしっかりと受け止め、高く抱き上げた。息子の笑い声が、鈴のように芝生に響き渡る。私は父子の戯れる様子を見て、この温かい日差しの中で溶けてしまいそうなほど幸せだった。私は立ち上がり、父子にジュースを取りに行こうとした。だが、立ち上がった途端、突然の吐き気がこみ上げてきた。思わずえずき、慌てて口元を手で覆った。誠一郎はすぐに息子を抱いたまま近づいてきた。その顔は心配に満ちていた。「どうした?どこか具合が悪いのか?」私は首を横に振り、体の中に感じるその馴染みのある感覚を確かめた。私は彼の手を握り、少し不確かな声で言った。「誠一郎......私、また妊娠したみたい」その言葉を聞いて、誠一郎は一瞬呆然としたが、すぐに、彼の目の中の心配は抑えきれないほどの狂喜に取って代わられた。彼は慎重に息子を降ろし、しゃがみ込み、そっ
寛祐は、街の夜空の下を、あてもなく車で疾走した。心瑚の決別を告げる言葉、誠一郎の軽蔑的な眼差し、そしてあの親子鑑定報告書が、映画のシーンのように彼の頭の中で繰り返し再生される。全てが、嘘だった。彼の全ての葛藤と苦痛は、女一人の欺瞞から生じていたのだ。あの女だ、咲良が俺の全てを破壊したのだ!底知れない憎悪が心の底から湧き上がり、瞬時に寛祐の全ての理性を飲み込んだ。寛祐はハンドルを乱暴に切り、車は交差点で急旋回し、別の方向へと猛スピードで向かった。彼の目には血走りが広がり、歯をギリギリと音を立てて噛みしめた。「咲良......」彼は歯の隙間からその名前を絞り出した。その口調は陰鬱だった。寛祐は車を咲良の住居へと走らせた。それは彼が咲良のために購入した高級マンションだった。彼は予備の鍵でドアを開けた。リビングは荒れ果てていた。咲良は寛祐と連絡が取れないことに腹を立て、様々な置物を叩き割って、リビングを苛立ちながら歩き回っていた。寛祐が入ってきたのを見て、彼女は一瞬喜び、すぐに被害者ぶった表情に切り替えた。「寛祐さん、やっと帰ってきたのね!どこに行っていたの?どうして電話に出ないのよ?」彼女はそう言いながら、寛祐の胸に飛び込もうとした。しかし、寛祐は無表情に体を横にずらし、その眼差しは氷のように冷たかった。彼は一言も発せず、その親子鑑定報告書を咲良の顔に叩きつけた。「何よ、これ?」咲良は信じられないように彼を見た。報告書の内容を読み取った瞬間、彼女の顔から血の気が完全に失せた。「違う......違うの、寛祐さん、聞いて、説明させて......」寛祐は冷笑を漏らした。「説明?じゃあ説明してみろ。なぜ子供が俺の子ではない!」彼は一歩一歩詰め寄り、その強大な圧迫感に咲良は後ずさりした。「俺はなんてバカだったんだ。お前のような女の戯言を信じるなんて!」彼は歯を食いしばって言った。「俺はお前のために、最も愛する女を手放したんだぞ!俺はまるで道化じゃないか!」事態が露呈したと見るや、咲良もはや偽装をやめた。彼女の顔から可憐な表情は消え失せ、代わりに狂気が剥き出しになった。「星野寛祐、あなたこそ元々笑いものよ!私が騙した?それがどうしたっていうの?あなたが愚かじゃなければ、どう
寛祐の目に残る、その最後の愚かな期待を見て、私はゆっくりと首を横に振った。まるでバカを見るような眼差しで彼を見つめた。「ウィンク?脅し?星野さん。あなたは自分の幻想の世界に長く住みすぎて、現実と区別がつかなくなっているんじゃない?」私の言葉は冷水のように、寛祐の目の中の最後の光を消し去った。「二年前、あなたが咲良さんを選んだ時点で、私たちはもう終わっていたのよ」私は一呼吸置き、隣の誠一郎を見つめ、しっかりと彼と指を絡ませた。「私は、私の旦那を愛しているの」私の言葉は、寛祐の最後の幻想を完全に打ち砕いた。寛祐の顔から偏執と狂気が徐々に消え去り、まるで一瞬にして全ての力が抜き取られたかのように、まっすぐだった背筋も崩れ落ち、眼差しは全ての光を失った。その時、誠一郎の秘書が寛祐に一枚の書類を手渡した。誠一郎はそれを見ると、寛祐の足元に投げ捨てた。「これも見ておくべきだろう」寛祐は茫然と頭を下げ、その書類を拾い上げた。それは、寛祐と咲良の子供の親子鑑定報告書だった。そして、最終ページの結論欄には、冷酷な太字でこう書かれていた。【鑑定の結果、被鑑定人(子)と提出された検体(父)との父子関係は否定される】「嘘だ......ありえない!」寛祐は狂ったように叫んだ。「これはお前らが偽造したんだ!グルになって俺を騙している!」誠一郎の口元に冷笑が浮かんだ。「その親子鑑定報告書は、あの女が先日、鷹司グループ傘下の私立病院でこっそり行ったものだ。彼女自身、この子が一体誰の子供なのか、把握できていなかったらしい。星野、必死に守ろうとした家族の血筋は、最初からお前とは何の関係もなかったようだ。信じるかどうかはお前次第だ。帰って本人に直接聞いてみるがいい。彼女がどう答えるか」嘘が赤裸々に暴かれ、寛祐の全ての自己犠牲と自己陶酔は、この瞬間、完全なジョークへと変わった。一つの嘘のために、自ら最も愛する人を突き放したのだ。寛祐はよろめきながら数歩後退し、私を深く見つめた。その眼差しには、後悔、苦痛、そして不満が入り混じっていた。最終的に、何も言わず、魂を抜かれたように踵を返し、去っていった。寛祐の寂しげな背中を見つめながら、私には何の快感もなく、心の中はむしろ穏やかだった。分かっていた。この瞬間をもって、
夜が深まり、私と誠一郎はソファに寄り添い、この貴重な静寂の時間を楽しんでいた。窓の外では、庭の照明が柔らかく灯り、私たちは他愛のない雑談を交わし、雰囲気は穏やかだった。その時、けたたましい呼び鈴の音が、この静けさを切り裂いた。誠一郎はわずかに眉をひそめ、執事が足早に出て行った。しばらくして、執事が戻ってきた。その顔色はどこかおかしい。「旦那様、奥様。門の前に星野寛祐と名乗る方がおり、どうしても奥様にお会いしたいと」私の心臓がドクンと沈んだ。寛祐?どうして彼がここを見つけられたの?誠一郎の顔色も冷たくなり、彼は私をさらに強く抱き寄せ、低い声で尋ねた。「彼一人か?」「はい、旦那様。ですが、彼は非常に興奮しており、警備員が中に入れないように止めているのですが、門の前で大声で叫んでいます」私は思わず誠一郎の腕を掴んだ。心の中に微かな不安が湧き上がった。寛祐の偏執的な性格を知っている。この時、乗り込んできたからには、簡単に引き下がるはずがない。誠一郎は私を安心させるように私の手を軽く叩いた。その眼差しは静かで波一つないが、威厳に満ちていた。「ちょうどいい。探していたところだ。自ら乗り込んできたか」そう言って、彼は立ち上がり、乱れた私の髪を整えながら、優しい口調で言った。「君はここで待っていなさい。すぐに戻る」私は頷き、誠一郎の落ち着いた背中を見つめた。心の中の動揺は徐々に収まっていった。......邸宅の装飾された鉄門の外。寛祐は、二人の大柄な警備員に阻まれ、興奮して突入しようとしていた。「離せ!俺が誰だか知っているのか?心瑚は俺の婚約者だ!彼女をどこに閉じ込めた!」「お客様、どうか落ち着いてください。ここは私邸です。これ以上お引き取りいただけない場合、警察に通報いたします」警備員の口調は丁寧だったが、態度は非常に強硬だった。その時、誠一郎の姿が門扉の前に現れた。誠一郎はシンプルなシャツと長ズボンを着用し、両手をポケットに突っ込んでいたが、その身に纏う上位者としての強大なオーラは、周囲の空気を凍りつかせたかのようだった。誠一郎はただ淡々と寛祐を一瞥した。「入れさせろ」警備員はすぐに寛祐を解放した。寛祐は乱れた襟元を整え、誠一郎の前に歩み寄った。その目には怒りの炎が燃え盛っていた。
Ulasan-ulasan