Short
愛しき日々の果て、余生は安らかに

愛しき日々の果て、余生は安らかに

Oleh:  ししのこTamat
Bahasa: Japanese
goodnovel4goodnovel
22Bab
18.7KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

結婚して三年、橘正明は三年間、妻の千里を憎み続けていた。 雅美が戻ってきたあの日、彼の限界はついに訪れた。 彼は「偽装死」を計画し、雅美と駆け落ちしようとしていたのだ。 「一ヶ月後、死んだことにする。 橘家の後継者という肩書きを捨てて、これからはずっと雅美と一緒に生きていく」 手術室でその言葉を聞いてしまった千里は、すぐさま弁護士に連絡し、離婚届の提出を依頼した。 そして、遠く海外にいる兄に電話をかける。 「兄さん、もう、正明のことはあきらめた。 一緒に、海外で暮らすよ」

Lihat lebih banyak

Bab 1

第1話

"Ra, Mas cuma mau bilang, mulai besok Ibu sama Siska tinggal bersama kita!" ucap Mas Nizam.

Mahira menghentikan pergerakan tangannya yang hendak mengambil nasi goreng. DIa menolehkan pandangan ke arah Nizam, suaminya. 'Apa maksudnya bicara seperti itu?' batin Mahira.

Kembali Mahira menaruh piring yang semula akan diisi dengan nasi goreng tadi.

"Lho, kamu gak jadi makan?" tanya Nizam tanpa merasa bersalah.

Mahira menatap anak-anaknya yang sedang menyantap sarapan mereka. Kembali dia mengarahkan pandangan pada Nizam.

"Maksud Mas apa? Ngomong kalau besok Ibu dan Siska akan tinggal di sini? Ibu, kan punya rumah sendiri?" tanya Mahira keheranan.

"Ya, emang Ibu punya rumah sendiri, tapi Ibu dan Siska mau tinggal di sini bersama kita."

"Dan kamu menyetujuinya tanpa bicara apa-apa sama-sama aku, Mas?!" tanya Mahira lagi dengan nada agak sedikit tinggi.

Anak-anaknya kompak melihat ke arah Mahira. Karena mereka memang jarang mendengar dia berbicara dengan nada tinggi, tepatnya semenjak pindah ke rumah ini.

"Kayla, Bila, kalau udah selesai langsung berangkat sekolah, ya Nak!" titah Mahira pada kedua putrinya. Mereka berdua kompak mengangguk tanda mengerti.

Mahira menunggu sampai kedua putrinya selesai menghabiskan sarapan. Tak berapa lama, mereka selesai sarapan. Keduanya berpamitan dan mencium tangan Mahira serta Nizam. Setelah mengantar keduanya ke depan rumah, Mahira segera kembali menuju ruang makan.

Nizam masih terlihat berada di sana. Di hadapannya nampak piring kosong bekas sarapan tadi. Sambil membaca koran, sesekali dia menyesap kopi yang dibuat Mahira.

"Mas!" panggil Mahira seraya mendekatinya. Dia kembali duduk di meja makan.

Nizam menoleh sekilas lalu kembali fokus pada koran di hadapannya.

"Mas, kita belum selesai bicara!" ucap Mahira dengan nada kesal karena panggilannya diabaikan.

"Mau bicara apa?" tanya Nizam tanpa mengalihkan pandangannya.

"Masalah Ibu tadi! Kamu, kan tau sendiri, Mas, kita pindah ke rumah ini karena aku tidak tahan sama perlakuan Ibu dan saudaramu! Tapi, kok Ibu dan Siska malah mau tinggal di sini?!" cecar Mahira masih dengan nada kesal.

Nizam melipat koran yang dibacanya dan menaruh koran itu di sebelah piring kosong tadi. Kemudian dia kembali menghirup kopi yang masih mengepulkan asap. Nizam kembali menaruh kopi ke tempat semula.

"Ya, kamu belajarlah bagaimana mengambil hati Ibu! Masak itu saja harus aku ajari!" jawab Nizam.

'Astaghfirullah!' Mahira mengucap dalam hati.

"Enteng sekali Mas Nizam ngomong seperti itu. Mati-matian aku mencoba bersabar menghadapi tingkah laku Ibu dan saudaranya selama ini. Seenaknya saja dia berucap tanpa beban!" Kembali Mahira menggerutu dalam hati.

"Lagipula ya, rumah ini aku yang bayar bulanannya, jadi suka-suka aku mau ngajak Ibu atau saudaraku ke sini! Gak perlu izin dari kamu!"

"Mas! Kamu juga jangan lupa! DP rumah ini, uang dari pemberian Ibuku. Dan kita juga sudah sering bahas ini! Kenapa kamu masih gak ngerti dan egois gini?! Kamu sendiri tau, gimana perangai Ibu dan adikmu itu! Kenapa harus menyatukan aku dan keluargamu dalam satu atap?!"cecar Mahira. Nizam diam tanpa menatap istrinya.

"Apa alasannya tiba-tiba Ibu dan Siska mau tinggal di sini? Bukankah selama ini mereka tidak pernah menganggap aku sebagai istrimu?!"

"Rumah Ibu mau ditempati Mbak Melani. Mereka akan pindah minggu depan. Jadi karena itu, Ibu dan Siska pindah ke sini," jelas Mas Nizam.

"Kenapa mereka tidak tinggal bersama Mbak Melani? Bukankah dia anak kesayangan dan kebanggaan Ibumu?" tanya Mahira dengan nada mengejek.

"Suaminya gak mau! Selain itu anak-anak mereka sudah pada besar. Dan ingin punya kamar sendiri. Dan gak akan cukup kalau Ibu dan Siska dipaksain tinggal di situ!"

"Suami Mbak Melani aja bisa nolak kenapa aku tidak?!" sahut Mahira.

"Ya … kalau suami Mbak Melani bisalah! Kamu kan tau, rumah itu sudah ditebus sertifikatnya sama suami Mbak Melani waktu Ibu menggadaikan ke Bank. Jadi itu hak milik mereka. Ibu gak bisa ngomong apa-apa."

"Apa bedanya dengan rumah ini? DP dan renovasi rumah ini semua dari Ibuku! Dan rumah ini juga atas namaku!" sahut Mahira masih dengan nada ketus.

"Sombong kamu! Mentang-mentang rumah ini atas namamu! Pokoknya aku gak mau tau! Aku sudah bilang sama Ibu dan Siska, mereka boleh tinggal di sini! Suka atau tidak suka!"

"Aku gak akan terima! Jangan salahkan aku, kalau aku berbuat tidak sopan terhadap Ibumu dan saudarimu itu!"

"Kamu jangan main-main Mahira! Kalau sampai kamu macam-macam terhadap Ibuku, awas kamu!" ancam Mas Nizam sambil mencengkram lenganku.

"Aku gak main-main, Mas! Kamu lupa, gimana perlakuanmu terhadap Ibuku, saat beliau menginap di sini untuk berobat!" ucap Mahira sinis.

Nizam melepaskan cengkraman tangannya. Lalu kembali meminum kopi yang kelihatan sudah berkurang asapnya.

"Selalu yang kamu bahas itu! Ya wajarlah aku gak nyaman ada orang tua kamu di sini! Aku tu pingin bebas!" ujar Nizam tanpa beban.

Mahira tersenyum tipis. 'Bebas dia bilang! Apa gak kebalik? Seharusnya aku yang ngomong kayak gitu," batin Mahira.

"Bebas katamu, Mas?! Emang Ibuku ngapain kamu? Ada nyuruh-nyuruh kamu anterin berobat?! Gak ada, mas! Ada minta kamu uang berobat? Gak ada, kan? Malah di sini Ibu yang belanja untuk kebutuhan sehari-hari. Hanya sebulan Mas, Ibu menumpang di sini, tapi sikapmu sungguh luar biasa!" cecar Mahira lagi.

Dilihatnya Nizam menggaruk-garuk tengkuknya yang diyakininya tak gatal.

"Dan sekarang kamu dengan seenaknya ngajak Ibu dan adikmu yang manja itu tinggal di sini tanpa izin aku dulu! Kamu lupa, bagaimana mereka memperlakukan aku selama ini!? Aku yang harusnya berkata ingin bebas bukan kamu! Keluargaku gak pernah nyusahin kamu! Tapi, keluargamu selalu nyusahin aku!!" ucap Mahira berapi-api.

"Jelas kalau Ibuku, tentu saja aku tidak keberatan. Mereka keluargaku, beda dengan keluargamu!" jawab Nizam.

'Ya Tuhan, otaknya dulu kurang seons kali ya! Enteng dan tanpa bersalah. Enak saja dia berucap!' Kembali Mahira berucap dalam hati.

"Kamu tu emang laki-laki yang gak sadar diri ya, Mas?" ucap Mahira tajam.

"Apa kamu bilang?! Sudah berani kamu maki suamimu sendiri?! Nizam emosi.

"Aku gak maki, tapi bicara kenyataan! Kamu gak nyadar dengan ucapanmu itu!"

"Aku gak mau tau, Mahira! Ibu dan Siska akan tetap tinggal di sini! Kamu harus melayani mereka dengan sebaik-baiknya!" perintah Nizam.

"Kalau kamu masih ngotot juga, aku gak akan tinggal diam. Lihat saja, apa Ibu dan adikmu akan betah tinggal bersamaku!" Mahira menyeringai.

Mahira sudah memutuskan tidak akan mau mengalah lagi menghadapi suami egois macam Nizam. Seenaknya saja Nizam mengizinkan Ibu dan adiknya untuk tinggal di sini, sedangkan perlakuan mereka dulu terhadap Mahira sangat kejam.

Tidak ada andil Nizam sedikitpun

sewaktu Mahira berniat mengambil rumah ini. Dan sekarang dengan entengnya dia berhak karena dia yang membayar bulanan rumah ini. Untuk belanja bulanan saja kurang. Nizam mungkin tidak pernah menghitung gajinya yang diberikan kepada Mahira.

Semua yang utama bagi Nizam adalah Ibu dan keluarganya. Tetapi, ketika Ibu atau keluarga Mahira yang datang, sikapnya cuek dan kelihatan tidak suka. Tentu saja Ibu dan keluarga Mahira tidak betah berlama-lama di rumah ini. Padahal sebagian besar rumah ini semua dari uang pemberian Ibunya Mahira. Nizam memang keterlaluan. Benar-benar egois dan tidak tau diri.

Bukan niat Mahira untuk membalas dendam, tapi dia merasa memang tidak bisa bersatu dengan keluarga Nizam. . Dari awal menikah, Ibunya memang tidak merestui. Hanya almarhum Ayah mertua saja yang lebih peduli. Sewaktu masih menumpang di rumah Ibu mertuanya, semua urusan rumah tangga diserahkan kepada Mahira. Padahal dia juga bekerja. Belum lagi kata-kata kasar dan umpatan yang ditujukan padanya. Mahira merasa lebih tepat dipanggil babu ketimbang sebagai menantu.

'Aku gak akan tinggal diam dan pasrah lagi. Ini rumahku, aku nyonya di rumah ini. Jangan harap mereka bisa memperlakukan aku seperti dulu. Cukup, sembilan tahun aku tersiksa. Belum lagi sifat Mas Nizam yang tidak pernah sedikitpun membela atau membantuku!' tekad Mahira dalam hati.

Entah apa yang ada dalam pikiran Mahira, waktu itu. Bisa-bisanya dia menerima lamaran dari Nizam. Padahal Ibu dan Almarhum Bapaknya sudah mewanti-wanti agar dia berpikir dulu. Mungkin mereka sudah ada feeling tentang Nizam. Ternyata itu terbukti. Mahira hanya dijadikan babu dan pelampiasan napsu saja.

'Ibu, Siska. Tunggu saja kalian! Aku akan sambut kedatangan kalian. Lihat saja pembalasan manisku untuk kalian yang sudah menyakiti hati dan fisikku!" ucap Mahira dalam hati.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

Ulasan-ulasan

蘇枋美郷
蘇枋美郷
自分がやった事をクズ女と自分にもやったところで、体の傷は治っても心の傷は治らないんだよ!何やっても許さねーよ!しかも自分より弱い相手にも遠慮なくこんな暴力的な奴、誰も要らない!
2025-06-30 12:05:44
2
0
Rik M
Rik M
正明の暴力装の繰り返しがちょっとしつこい気がする。また繰り返してこの場面…と思ってしまう。
2025-06-28 15:42:15
1
0
22 Bab
第1話
橘千里(たちばな ちさと)は、夫の橘正明(たちばな まさあき)が連続で十二戦ものボクシングの試合をこなし、肝臓を損傷したと聞き、急いで病院へ駆けつけた。迷うことなく自らドナーに名乗りを上げ、輸血のための検査を受けた後、病室へと連れていかれた。一気に1000mlもの血液を抜かれた。体から血が引き抜かれるたびに、意識はどんどん遠のいていく。どれほどの時間が経ったのか、もう分からない。ぼんやりとした意識の中、耳元でどこかで聞き覚えのある声が響いてきた。「正明、あんた、雅美のことそんなに好きだったの?インスタに『そのネックレスが好き』って載せただけで、命懸けで試合して、わざわざそのネックレスを手に入れに行ったってわけ?十二戦連続とか、命捨てる気かよ!?今度は交通事故で脚に火傷した雅美のために、自分の妻の血を1000mlも抜いて、さらには皮膚まで移植しようとしてるって?千里さんがこれまで橘家やあんたのためにしてきたこと、みんな知ってるよ?それなのに、あんまりじゃない?」千里の指先が、無意識に手のひらへと喰い込む。正明が十二戦もの試合に挑んだ理由は、ただ雅美の欲しがったネックレスのため?肝臓の損傷だって、全部嘘?自分の血を使うための演技?眠らされて、手術台に運ばれて、皮膚を剥がされるなんて……それも全部、雅美のためだったの?部屋の空気が一気に凍りつく。「千里みたいなやつ、俺がどう扱おうが関係ないだろ」正明の声が低く、枯れていた。「三年前、あいつが無理やり結婚を迫ってきて、雅美は海外に行った。俺がどれだけ探しても見つからなかった。その三年間、俺は抜け殻みたいに生きてきた。昨日ようやく雅美が帰ってきて、今日いきなり事故に遭った。千里の手は汚れてる。血を抜こうが皮膚を使おうが、それが当然の報いだ。命を取れと言われたとしても、それも仕方ない。雅美を追い出した責任は、すべてあいつにある。それが償いだ。……けど、あいつの命には興味ない。俺にはもっと大事なことがある」その言葉に、千里の血は凍りついた。体の震えが止まらない。「お前、今は結婚してるだろ……それでも、まだ何をしようってんだ?」と、篠原冬也(しのはら とうや)が恐る恐る尋ねた。「一ヶ月後、死んだことにする。橘家の後継者という肩書きを捨てて
Baca selengkapnya
第2話
妹の言葉を聞いた瞬間、バーで悩んでいた男は、思わず勢いよく立ち上がった。「本当か!?千里、やっと目が覚めたのか?俺、最初から言ってたよな、あの橘なんてロクなもんじゃないって。拳も性格もヤバい、あんな奴のそばにいたら、お前が傷つくだけだって!ちゃんと考え直したなら、それでいい。荷物はまとめたか?すぐに迎えに行く!」電話口から聞こえる涼真の声は、興奮のあまり震えていた。千里の胸には、締めつけられるような痛みが広がった。体の怠さを無理に抑えながら、静かに口を開いた。「兄さん、先に手続きして。私は一ヶ月後に行く。こっちのことが全部片付いたら、もう戻らないから」その言葉を聞いて、涼真はようやく海外移住に必要な準備を思い出し、大きく頷いた。そして電話を切って、急いで手続きを始めた。通話が終わると、千里の目に静かな陰が差した。一ヶ月。正明が偽装死を図る前に、小林家と橘家の繋がりを完全に断ち切り、自分は橘家からも、正明自身からも先に抜け出す。この三年間、彼に借りなんて一つもなかった。だからこそ、彼の偽死劇の後始末なんか、手伝う義理もない。千里は、一人で五日間入院していた。その間、正明は一度も顔を見せなかった。血を抜かれ、皮膚まで提供させたというのに、彼は何の説明もなく、千里を病院に置き去りにした。目覚めた彼女が何を思い、どんな気持ちでいるかなど、考えすらしなかったのだ。千里は皮肉げに口元を歪め、無意識にこぼれていた涙を拭い、知人に頼んで離婚届の用紙を取り寄せてもらった。退院の日、彼女はその離婚届を手に橘家へ戻った。玄関前までくると、扉の向こうから声が聞こえてきた。「正明、私のために千里さんを病院に放って、一週間もそばにいてくれて……彼女、怒って帰ってこなかったりしないよね?もう、私のためにお粥を並んで買いに行かなくていいし……ベッドのそばにいてくれなくてもいいから、千里さんの様子、見に行ってあげて……」正明は雅美の足首を優しく揉みながら、目に甘さを浮かべていた。しかし千里の名前が出た途端、明らかな苛立ちがその表情を曇らせた。「いいんだよ、あいつはどうせ俺から離れられない。たとえ家を出ても、三日も経たずに泣いて戻ってくるさ」千里の体がビクリと震えた。彼の中では、彼女が自分を愛しすぎ
Baca selengkapnya
第3話
千里はその夜のうちに主寝室から荷物をまとめて出ていった。必要な旅券だけを持って、衣類すら一枚も持ち出さず、家政婦にすべての私物を処分させて、雅美のために場所を空けた。部屋に戻ると、今までにないほどの疲労感に襲われ、病院に行く力もなく、そのままベッドに倒れ込んだ。夜中、意識がぼんやりするほどの熱に包まれ、全身がまるで炎にくべられているように熱く、皮膚が焼かれるような感覚だった。明らかに秋口の気温ではない。千里は違和感を覚え、重たいまぶたを無理やり開けると、正明がベッドの脇に座り、彼女の腕の火傷を丁寧に処置しているところだった。彼女が目を覚ますと、彼は目を細めて彼女を一瞥し、ベッドサイドの薬と水を手に取って、口元へ差し出した。「傷口が炎症を起こして熱が出てる。解熱剤を飲んで、少し休め」その低く落ち着いた声には、かすかな不安の色が混じっていた。千里は差し出された薬をそのまま飲み下した。すると正明が続けて言った。「その薬、雅美がわざわざ買ってきたんだ。ちゃんと効くから、しっかり休め。これからは彼女と揉めるなよ」結婚して三年、正明が病気の彼女にこうして看病したのは初めてだった。だがそれは、彼女に雅美と争わないように言い聞かせるためだった。全てが彼女のせいではないのに。だがそれがどうしたというのか。彼が大事にしているのは雅美だけ。千里の胸には、言葉にできない嘲りが込み上げていた。意識は再びぼやけ、まるで高熱に焼かれているように身体がどんどん熱を帯び、まぶたは重くてもう開けられない。どれほどの時間が経ったのか、ようやく目を開けた。千里は身を起こし、首筋に手を当てた。ひどく熱い。鏡の前までふらふらと歩くと、両目は真っ赤に充血していた。熱は下がるどころか、ますますひどくなっていた。これ以上放っておくわけにはいかない。千里はふらつきながら部屋を出ようとし、ふと何かを思い出して引き返し、ベッドサイドの薬を手に取った。病院に着いたとき、体温はすでに四十度を超えていた。一時は呼吸困難を起こし、救急処置室に運ばれた。その後、入院が決まり、血液検査と腕の火傷の処置が行われ、一晩中点滴を受けてようやく熱が少しずつ引いていった。「ここまで炎症を起こしていながら薬も塗らず、高熱のまま適当な薬を服用するなんて
Baca selengkapnya
第4話
正明の声は、深く沈んでいた。千里の笑みは一瞬にして消えた。兄を心配させたくなかった彼女は、適当な言い訳をして慌ただしく電話を切った。電話が切れた直後、正明の問い詰めるような言葉が飛んできた。「お前、なんで警察に通報した?雅美が薬を取り違えたのは、ただの衝動だっただけだ。そこまでしなくてもよかっただろ?勝手に通報して……あいつ、泣き出したんだぞ!」いつもは冷淡な正明の目が、怒りを帯びていた。まるで千里が、とんでもない過ちを犯したかのように。正明に詰められて、千里は目を伏せ、口元に皮肉げな笑みを浮かべた。「そこまでって……私、昨日救急救命室に運ばれたのよ?それでもまだ大したことないって言うつもり?」ショック症状で、死にかけた。一晩入院しても、彼は一言も見舞いの言葉をかけなかった。通報したと知って、彼が最初に口にしたのは「なぜそんなことをした」だった。雅美が薬を取り違えたと聞けば、まず彼女をかばった。正明の心は、どこまでも偏っていた。千里の反論に、正明は一瞬言葉を詰まらせたが、すぐに苛立ちを滲ませて眉をひそめた。「確かに薬を取り違えたのは軽率だった。でももう、俺がちゃんと叱った。だから、いつまでもこだわるな。それに、もうお前は無事なんだろ?気が済まないなら、俺がここに残って看病する。これで満足か?」何かを続けようとしたその時、不意に正明のスマホが鳴った。画面を見て、雅美の名前を確認した彼は、険しかった表情を少し緩めた。「大丈夫だ。心配するな。誰もお前を連れて行ったりしない。もう泣くな。手の傷はまだ痛むか?」通話しながら、彼の足は自然と病室の外へと向かっていく。その背中を見つめながら、千里はふと、可笑しくなった。もうとっくに彼に期待なんてしていなかったはずなのに、それでも、胸の奥が締めつけられるように痛んだ。彼女は命を落としかけた。それでも正明は、ただ「叱った」で済ませた。一方で、雅美が手に小さな切り傷を負っただけで、彼は一瞬たりともそばを離れようとしなかった。胸が締めつけられるように痛んだ。もはや彼に立ち向かう気力すら残っていなかった。正明は「残って看病する」と言った。けれど、雅美がそれを許さなかった。彼が病室に足を踏み入れるたび、すぐに雅美から
Baca selengkapnya
第5話
「正明っ、あなたがくれたネックレス、なくなっちゃったの!十二試合も勝って手に入れた、世界に一つしかない大事なネックレスなのに……お願い、探すの手伝って、すごく大切なの!」一瞬で場がざわついた。照明がすべて点灯し、状況をようやく理解したところで、千里の腕がいきなり強く掴まれ、出入口のほうから乱暴に引き戻された。「橘社長!この女、こそこそ逃げようとしてましたよ。盗んだブツ、持ってるんじゃないですか?」その言葉が終わるか終わらないかのうちに、彼女の背中からネックレスがポトリと落ちた。近くにいた男が素早く拾い上げ、高々と掲げる。「見ろ!やっぱりこの女が盗ってたんだ!」「なんか怪しいと思ったら……ほんとに泥棒だったとはな!」その瞬間、全員の視線が千里に集中した。冷たい視線、軽蔑、嫌悪、そして面白がるような好奇心……そんななか、雅美がゆっくりと彼女の前に歩み寄ってきた。「千里さん、ご両親が早くに亡くなって、お兄さんと二人きりで育ったって聞いてる。礼儀とか、多少なってなくても仕方ないって思ってたわ。でもね、このネックレスだけはダメなの。これは本当に、私にとって特別なものなの。それに、ネックレスだけじゃなくて、ブレスレットもダイヤの指輪もなくなってるの。どれも正明がプレゼントしてくれたのよ。ごめんね、ちょっと確認させてもらえる?」そう言って、雅美は軽く手を振った。すぐに二人のボディーガードが駆け寄り、左右から千里の両腕をつかんで、彼女の服を無理やり引っ張り始める。千里の表情が一変した。「放して!私は盗んでなんかない!ここ、監視カメラあるでしょ?落とし物なら映像見ればいいだけじゃない。根拠もなしにボディチェックするなんて……違法だよ」必死に抵抗するが、相手は屈強な男二人。力の差はどうにもならなかった。誰も助けようとせず、冷たい目が彼女に突き刺さるなか、服が引き裂かれそうになる。千里の目に、一瞬、鋭い光が走った。そして、ためらいなく雅美の腹に蹴りを叩き込む。「きゃあああっ!」雅美が床に倒れ込み、悲鳴が響いた。その場にいた全員の動きが一瞬で止まった。「いくらなんでも、小林家のお嬢さんがネックレスなんか盗むわけないよね?ただの誤解じゃない?」「でもあのネックレスって、
Baca selengkapnya
第6話
たった一言だった。それだけで、千里の全身から血の気が引いた。今日の試合は、プロボクサーの試合。見世物として殴り合うリング。血が出るほど会場は沸き、拳はまるで命を奪うかのように振り下ろされる。もし自分がそこに立たされたら……笑いものどころか、生きて帰れる保証すらない。正明が雅美のために、ここまでやるなんて……千里は、笑いながら涙をにじませた。「盗みを働いて、挙げ句に暴力まで振るったやつが、謝りもせずに泣いてるなんて……そんな資格、あると思ってるの?」正明の目には、明らかな苛立ちが浮かんでいた。ボディーガードが再び押さえつけにかかろうとするその瞬間、千里の心に絶望が広がる。口の中に広がる血の味。千里は全身の力を振り絞り、近づいてきたボディーガードを思いきり突き飛ばして正明へと駆け寄った。そして、頬を思いきり打った。鋭い音が、静まり返った空間に鳴り響いた。「盗んでなんかない!だから、絶対に謝らない!」涙が堰を切ったように流れ出し、嗚咽を必死にこらえながら叫んだ。「雅美を蹴ったのは、あの人が私を陥れたから!証拠もないくせに、服まで脱がせようとしたのよ!あの場で抵抗しなかったら、皆の前で裸にされてたかもしれない……!あの人が何を言おうと、あなたは全部信じるのね。私のことなんて……最初から何だと思ってたの!?」千里の目には涙が浮かび、声は震え、心は完全に崩れ落ちていた。いつもなら、どんなときも冷静だった千里が、初めて感情を爆発させた瞬間だった。正明はその涙に、一瞬だけ言葉を失った。胸の奥がざわめいた。だがそのとき、雅美が歩み寄ってきた。「もういいじゃない、千里さんも、きっと悪気があったわけじゃないのよ。ボディーガードが私の指示を誤解しただけ。ネックレスも戻ってきたし、私ももう気にしてないわ」その言葉とは裏腹に、口元の笑みは目には届いていなかった。雅美はワイングラスを手に取り、口を開かず小さく唇を動かす。「お、わ、り、よ」次の瞬間、彼女は千里に近づきながら、自分の体に赤ワインをこぼした。パリンッ!グラスが床に落ち、ガラスの破片が飛び散る。目を潤ませた雅美はふらつくように後退し、割れたグラスを踏み、バランスを崩して正明の胸に倒れ込んだ。「千里さん……仲良く
Baca selengkapnya
第7話
エンジンがかかった。頭の中は混乱していた。極度の疲労で目を開けることすら難しく、ようやく静かな場所でひと息つける……そう思った矢先だった。突然、甲高いエンジン音が鳴り響いた。おかしい、と気づいて目を開いた瞬間にはもう遅かった。運転手がアクセルを踏み込み、猛スピードで車を走らせたのだ。運転席に目をやると、不気味な視線がこちらを捉えた。千里の背筋に冷たいものが走った。「……あなた、私の運転手じゃないわね」喉の奥からかすれるような声が漏れる。「誰なの……あんたは!」男は眉間にしわを寄せ、不気味に笑った。「お前にお仕置きしに来たんだよ」車はそのまま監視の届かない山奥へと突っ走った。止まった瞬間、千里は扉を開けて逃げようとした。しかし男に髪を掴まれ、乱暴に引き戻された。口には布が詰め込まれる。ガシャッ!ガラスが肌を切り裂き、痛みに頭が真っ白になる。だが、それで終わりではなかった。二発目、三発目と続く。必死に抵抗するも、男の力は強く、びくともしない。叫びたくても、声ひとつ出せなかった。ただ、傷を刻まれていくしかなかった。誰もいない山奥に響くのは、千里のかすれた嗚咽だけ。全身から血が流れ、意識が遠のいていく。もうダメだと思ったそのとき、ようやく男の手が止まった。そして彼女を地面に放り捨てる。次の瞬間、車のライトが灯り、エンジン音がまた鳴る。千里の耳に残るのは、自分のか細い呼吸音だけ。目の前に、こちらへ向かってくる車の影――もう終わりか、そう思ったとき、視界の端に誰かが駆け寄ってくる姿が映った。誰なのか確認する前に、意識が途切れた。……再び目を覚ましたとき、千里はまた病院のベッドにいた。体中が包帯でぐるぐる巻きにされていて、まるで自分の身体じゃないみたいだった。少しでも動かすと、痛みに息が詰まる。「動くな。傷が深いから、下手に動くと開く。医者呼んでくる。大人しくしてろ」そう言い残して、正明は病室を出ていった。彼が出ていってまもなく、枕元に置かれたスマホがしつこく震え始めた。動けない身体で正明の帰りを待とうと思っていたのに、相手はまるで命を狙っているかのように、何度も何度もコールしてくる。耐えきれず看護婦を呼び、スマホを手渡してもらうと、着信の相手は見知らぬ
Baca selengkapnya
第8話
千里の手からスマホが滑り落ち、床に叩きつけられた。全身の血が一気に頭へと逆流し、まるで再び刃物で切り刻まれているような、耐え難い痛みが襲ってきた。つまり、あの男は正明が雇った人間だったのだ。すべては、雅美の怒りを晴らすために。まつ毛が震え、胸の奥がきつく締めつけられ、息もできないほどに苦しい。涙が枯れるまで泣き続けたあと、千里はそのまま意識が朦朧としたまま眠りに落ちた。どれくらい経っただろうか。雅美の甲高い声で目を覚ました。「私のために仕返ししてくれるって言ったじゃない!なんで怒ってるのよ?昨日だって、あの女のせいで私を宴会場に置き去りにして……今だって、そんな冷たい態度取って、もしかして……もう私のこと、愛してないの!?」だが今回、正明はいつものように優しい言葉でなだめることはなかった。「仕返しをするとは言った。でも、殺せなんて言ってないだろう?俺が怒ってるのは、あいつをひき殺そうとしたからだ!」泥だらけで倒れていた千里、その上を車がゆっくりと迫っていくあの瞬間を思い出すだけで、正明の心臓は凍りつくようだった。慌てて彼女を抱きかかえ、病院へと運んだ。全身血まみれで、真っ白な顔の彼女が手術室に運ばれていく姿。まるで、もう二度と目を覚まさないのではないかと。そう思った瞬間、彼の中のすべてが崩れた。手術室の前で呆然と立ち尽くし、何も考えられなかった。そんな正明の表情を見て、雅美は納得がいかないまま唇を噛み締めた。彼の目に映る複雑な感情――それが何なのか、深く考えるのが怖かった。ただ、急がなければならないと思った。「……ごめんってば。私が悪かったの。あのときはちょっとカッとなっちゃって……でも、千里のボディーガードが昨日のこと調べてるって聞いたけど、まさか私が関わってるってバレたりしないよね?」少し態度を下げ、甘えるように言うと、正明の怒りも次第に収まっていった。雅美の心配そうな言葉が終わる前に、彼が遮った。「大丈夫だ。俺がいる限り、千里には辿り着けない」その言葉を聞いた瞬間、雅美の顔にようやく笑みが戻った。「じゃあ、この話はもうやめよう。ねぇ、前に言ってた死んだことにして二人で逃げるって話、もう準備できた?」「遺体の手配は済んでる。一週間後、千里の誕生日パーティー
Baca selengkapnya
第9話
正明は空港から雅美の手を引いて車に乗り込むと、しかめっ面でスマホのチャット画面をじっと見つめていた。 画面は明滅を繰り返しながら、すでに三十分が経過していたが、表示された会話欄には一切の変化がない。どうにも、胸の奥にざわつくものがある。いつもなら、千里は彼が返事をしなくても、一方的に十通以上は送りつけてくるタイプだった。それが、この五日間、蒼木市に行っていた間は、一通のメッセージすら届いていない。指先でチャット履歴をさかのぼっていくうちに、ふと気づく。最後のメッセージは、ひと月も前のものだった。いつから、こんなことになっていた?なぜ、自分は今まで気づかなかったのか。隣で雅美がちらりと彼の横顔をうかがい、意味ありげに眉を動かした。「ねぇ正明。私たちの計画がうまくいくようにって、お寺で一時間もお祈りしたのよ。膝、青あざになってないといいんだけど……」傷の話を聞いた途端、正明の脳裏に、血まみれの千里の姿がよぎった。あの傷、もう治っただろうか。慰めを待っていた雅美は、彼の視線がスマホから離れないことに気づき、不満げに眉をひそめる。ようやく何か言おうとしたそのとき、スマホが震えた。正明の睫毛がぴくりと揺れ、目が一瞬輝いたが、画面に表示された発信者を見た瞬間、その光はすっと消えていった。はっきりと分かる感情の起伏。だが、当の本人はそれに気づいていない。秘書との通話を終え、ふとした拍子に再びチャット欄を開いてしまう。そのとき、雅美が彼の耳元で小さく拗ねたように「ふん」と鼻を鳴らした。我に返った正明は、スマホを閉じた。車は別荘に向かい、到着すると彼は真っ先に車を降り、大股で屋敷の中へ入っていった。部下の報告では、千里はすでに退院しているはずだった。だが、扉を開けて中に入ると、見慣れた姿はどこにもなかった。かつて千里がひとつひとつ飾った小物は、何ひとつ残っていない。訝しげに眉をひそめたまま寝室に向かい、扉を開けると、そこはさらに空虚だった。衣類はきれいに片付けられ、生活用品もすべて消えていた。ベッドサイドに置かれていた、彼女の写真入りの小さなフレームすらも。千里の気配を感じさせるものは、完璧なまでに消え去っていた。まるで、この三年間の記憶そのものが
Baca selengkapnya
第10話
――離婚した?いつのことだ?なぜ、自分は何も知らなかった?正明はわけの分からない怒りに胸を焼かれていた。そもそもこの結婚は、彼女が無理を押して望んだもののはずだった。それなのに、今度は何一つ告げずに、勝手に離婚まで済ませていたというのか。自分のこと、一体なんだと思ってるんだ?拳を握りしめると、骨の鳴る音が静かな室内に響いた。その気配に、そばにいた雅美の興奮は一瞬で消え、不満が表情に表れた。「嬉しくないの?やっと離婚したのよ?これで私たち、もう死んだふりして逃げなくていいんだよ?まさか……本当は私と結婚するなんて、考えたこともなかったんじゃないの?」その言葉に、正明の目がかすかに揺れる。抑え込んだ声で、彼は切り返した。「そんなわけあるか。俺は夢の中でもずっとお前と一緒だった」それは、これまで百回以上、雅美に言い聞かせてきた言葉だった。だが今日ほど、その言葉が虚しく響いたことはなかった。頭の中に浮かぶのは、千里の姿ばかりだった。五日前に蒼木市へ旅立つ直前、彼女は冷たく声で、「気をつけて、うまくいくといいね」とだけ言った。あのときには、彼女がすでに気づいていたのかもしれない。自分が偽装死を企んでいることを。雅美を連れてどこかへ消える計画を。すべてを把握した上で、離婚届を自ら提出し、先に姿を消していたのだろうか?本来なら、それは正明が望んでいたことのはずだったのに。どうして胸の奥が息苦しいんだ?正明は動揺を隠せなかった。そのときだった。突然、十数人の男たちが室内に押し入り、無言で彼の両腕をつかんで引きずり出そうとした。雅美は怯えた顔で人混みに隠れ、助けることすらできずに呆然と見送るしかなかった。そのまま正明は、橘家の本家へと強引に連れて行かれた。広間に入ると、祖父がソファにどっしりと腰を下ろし、ちゅうちょなく正明を床に押さえつけた。バシッ!乾いた音と共に、鞭を振り下ろし、彼の背中を叩いた。「ッ……!」呻きを抑えながら、額には冷や汗がにじんでいる。しかし祖父は手を止めず、すぐ二発目の鞭を叩きつけた。「このバカものめ!偽装死だと!?そんなことをよくも思いついたな!千里だってもう出ていったんだ、死んだふりなんて必要ない!今日からお前は橘家の籍を出
Baca selengkapnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status