Acara di Rumah Ibumu (Pura-pura Tak Tahu)

Acara di Rumah Ibumu (Pura-pura Tak Tahu)

Oleh:  Rita Febriyeni  Tamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
0.0
Belum ada penilaian
47Bab
249.3KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Mereka kompak mendukung pernikahan suamiku dengan wanita lain, diam-diam di rumah ibu mertua. Aku akan membalas mereka dengan pura-pura tidak tahu. Akan tiba waktunya, suami akan menyesali hingga tak ada maaf dariku. Aku tak akan meratapinya lagi.

Lihat lebih banyak
Acara di Rumah Ibumu (Pura-pura Tak Tahu) Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
47 Bab
Part 1 Pernikahan Suamiku
 "Mas kok rapi sekali? Bukankah sekarang hari minggu?" tanyaku sambil meletakan secangkir kopi di meja. "Ada orang dari kantor pusat datang, mau tak mau ya harus kerja, Sar," jawab mas Feri sambil menggulung lengan kemejanya hingga pertengan pergelangan. Ada rasa mengganjal. Biasanya ke kantor tak pernah pakai kemeja putih polos. Tapi kuabaikan karena merasa tak mungkin jika mas Feri mengkhianatiku. Kami sudah punya seorang putri, perekenomian keluarga bisa dibilang lebih dari cukup karena punya warisan orang tuaku, seperti tiga ruko yang kukontrakan. Rumah pun sudah punya karena ini rumah peninggalan orang tuaku juga. Dalam keseharian, aku juga membuka mini market tepat di samping rumah.  Apa lagi yang kurang? Bahkan aku tak pernah ingkar memenuhi kebutuhan bathin suamiku. Tak masalah gaji mas Feri tak seberapa, toh aku juga punya uang. Tiap
Baca selengkapnya
Part 2 Keinginan Ibu Mertua
  Aku bisa saja menghentikan saat suamiku mengucapkan ijab kabul. Tertahan lantaran ingin melihat reaksi ibu mertua dan ipar-iparku. Selama ini akulah yang banyak membantu keuangan mereka. Di sini lah aku ingin membuktikan langsung bagaimana perlakuan mereka sesungguhnya di belakangku. "Ma, ayo pulang," bisik Naswa. Dadaku sesak. Rasanya tak menyangka kalau mereka tega melakukan ini padaku. Tapi apa alasan mas Feri berbuat ini? Apa salahku. Bahkan aku sudah menunjukan bakti sebagai istri dan menantu ibunya. "Mudah-mudahan tetap langgeng dan bahagia dunia akhirat," ucap Mbak Imar memberi selamat ke adik dan adik ipar barunya. Layaknya pengantin baru. Raut wajah suamiku dan istri barunya seperti dua insan sedang jatuh cinta hingga berbunga-bunga. Umur tidak menghalangi keinginanya punya istri
Baca selengkapnya
Part 3 Leluasanya
 "Tapi, Bu, aku belum butuh karyawan baru, dan rumahku juga tak terlalu kotor hingga repot minta bantuan untuk bersih-bersih."  Kutolak permintaan ibu mertua dan kakak ipar secara halus. Bukan tanpa sebab, hanya ingin melihat sejauh mana usaha mereka. Dari cara Tuti menyapa dan leluasa ingin ke dapurku, ini sudah menandakan ia inginkan sesuatu dari rumah ini. Dan mereka mempelancar usaha Tuti. "Sarah, kamu tak usah bayar Tuti, ia hanya numpang berteduh hingga suaminya datang menjeput," ucap ibu kukuh agar aku menerima Tuti. Suami yang mana? Suamiku juga? Dasar pembohong! "Iya, Sar, lagian biaya makan Tuti tidak begitu banyak, aku rasa tidak memberatkan kok." Mbak Imar juga berusaha meyakinkanku. "Mm tapi, kok tidak tinggal di rumah Ibu saja, lagian aku jarang di rumah ka
Baca selengkapnya
Part 4 Pura-pura Mimpi
  "Ini lapnya, Mas." Tuti langsung menyodorkan tisu yang diambil dari meja. Padahal meja itu di depanku dan jaraknya lebih dekat. Tapi aku tetap duduk bersandar dan kali ini menyilangkan kaki. "Makasih, Tut," ucap mas Feri memerima tisu itu. "Kamu kenapa sih, Mas?" "Tanganku licin, Sar." "Kirain terkejut dengar ucapanku." "Kalau gitu aku permisi ke kamar dulu, Mbak, Mas,' ucap Tuti seperti menghindar. "Tunggu, Tut!" "Iya, Mbak?" ucap Tuti membalikan badan. "Ini kopi kamu yang bikin?"  "Iya, Mbak, ini untuk Suami Mbak," jawab Tuti melihat sekilas ke mas Feri. "Kamu tau
Baca selengkapnya
Part 5 Maaf, Tak Sengaja Lagi
"Maaf, Mas, aku kan nggak tau, scara mimpi loh." Aku memasang muka seperti merasa bersalah dan kasihan melihatnya. Tepatnya di hatiku bilang 'rasain lo! emang enak' Astagfirullah'alaziim, maafkan hamba jadi istri yang durhaka ya Allah. Aamiin. "Aduh! Sakit, Sar, untung hidungku tidak patah." Mas Feri memegang hidungnya dengan ekspresi muka mengernyit kesakitan. Akan tetapi dalam hatiku ada sebuah penyesalan besar. Bahkan penyesalan ini tak ada gunanya karena acara sudah selesai. Penyesalanku yaitu 'Kok tinjuku kurang kuat ya? Belum puas rasanya sebelum hidungmu patah, Mas'. Andaikan waktu bisa diputar, pasti kupasang tenaga super meninju hidungnya, bukan hanya hidung tapi juga antenanya. Ah, sudah lah, masih banyak waktu kok. Mudah-mudahan cita-cita ini tercapai. "Mari kita obatin, darah mengalir di bibirmu, Mas." "Ambil kotak P3k, Sar, cepat! sakit nih." "Iya iya," jawabku lalu beranjak ke luar. Huh! Menyusahkan saja. Mana mataku mulai ngantuk. Terpaksa ke ruang tengah menga
Baca selengkapnya
Part 6 Aksi Bar bar
  "Sarah! Aduh! Ia kenapa?" Ibu mertua terlihat panik berdiri memegang pipinya yang bekas kutampar. Kasihan juga, ia seumuran almarhum ibuku. Tapi rasa sakit dengan apa yang kualami menghilangkan rasa hormatku padanya. "Ha ha ha, mmmmhg ha ha ha." Aku tertawa besar sambil melototi mereka satu persatu. Rasanya ingin kupatahkan tangan mereka satu persatu. Mereka mempermainkan kehidupan rumah tanggaku. Aku tak terima! Padahal aku sudah berkorban banyak. Aku kesal! Aku marah!  Rasa amarahku melihat mereka, membuat tanganku ingin mengambil sapu yang tak jauh dari sofa karena tadi Tuti sedang menyapu. Seperti seseorang lepas kendali, kupukuli mereka satu persatu. "Ugh!" Kupukul punggung mas Feri dengan tangkai sapu, lalu .... "Uhg!" Tangkai sapu melayang k
Baca selengkapnya
Part 7 Untuk Adik Ipar
  "Mama sudah sadar, Mama sudah sadar, Nek," ucap Naswa terdengar senang. Mataku kubuka, lalu kupejam lagi mata sambil memegang kepala dengan ekspresi mengernyit, layaknya orang pusing. Lama-lama jadi ngantuk. Memukul mereka seperti olah raga hingga keringatku bercucuran. Seru-seru capek tapi ada leganya. "Benaran, Nas? Nenek takut Mamamu kambuh lagi," jawab ibu mertua terdengar khawatir. "Iya, Nek," jawab Naswa sambil mencubit pelan tanganku bentuk memberi kode. "Naswa ...." Kali ini aku bersuara loyo, dan mata dibuka sambil melihat sekitar, harus terlihat kebingungan seperti orang baru sadar dari pingsan. "Mama, Alhamdulillah Mama sadar, aku sangat khawatir." Loh, Naswa sejak kapan pintar akting. Maafkan hamba yang memberi pelajaran tak baik untuk putri
Baca selengkapnya
Part 8 Antara Sadar dan Tidak
  Aku terus tancap gas. Kulihat di kaca spion motor, mbak Imur berlari mengejar. Ia susah payah karena rok panjangnya sempit dan jalan pun becek.  "Sarah! Tunggu aku! Sarah!" teriak mbak Imur  yang terdengar. Lokasi sepi pasti suaranya masih terdengar meskipun jarak sedikit jauh. Teringat ia membicarakan aku bersama Tuti tadi saat makan. Di rumah dan menyantap makananku. Begitu leluasa tanpa bersalah, kata-kata meremehkan sehingga ia bersekongkol dengan istri baru suamiku. Memperlihatkan, ia bukan dipihakku. Apa kurangku sebagai kakak ipar? Bahkan uang pinjaman sering tak diganti dan dengan mudah kupinjamkan lagi. Bukan itu saja, motor dan modal usaha warung suaminya, semua uangnya dariku. Aku berharap punya keluarga banyak. Jika aku berbagi bukan suatu masalah. Tapi, jika kebaikan dimanfaatkan dan dibalas kejahatan,
Baca selengkapnya
Part 9 Sengaja Lupa
  Tancap gas, kujauhi lokasi itu. Kulihat di kaca spion, mbak Imur masih kokoh memegang ranting sambil menatapku pergi. Ia terlihat siap siaga dengan tampang berantakan. Tentunya berlumur air genangan tanah. Menjijikan tapi lucu. Belum begitu jauh. Niatku meninggalkanya urung. Ini jalan sepi dan tak ada trsportasi umum. Jangankan trasportasi umum, kendaraan pribadi saja tidak terlihat. Kubelokan motor ingin menjemput mbak Imur. Ia berjalan menuju jalan besar. Sendal hanya sebelah tertempel dikakinya karena satu sudah kulempar ke semak-semak. Dalam ia melangkah, bisa kusaksikan tetesan air tanah dari bajunya dan yang bagian lengan sudah robek. Terlihat menyedihkan sekali, tapi aku suka. Astagfirullah'alaziim. Suara motor mendekat, hingga mbak Imur tersadar aku mendekatinya. Seketika ia langsu
Baca selengkapnya
Part 10 Sedikit Pembalasan
  Aku terdiam sejenak. Berpikir alasan apa yang akan dijawab. Mbak Imur masih kukuh agar tak ikut kubonceng pulang tadinya. Jika ditelaah, jadi ini bukan seratus persen salahku.  'Oke, Sarah, siap-siap bersikap pura-pura,' bathinku mensugesti diri. "Loh, Mbak Imur belum pulang ya?" Pura-pura terkejut tentunya.  "Belum, dari tadi Ibu tidak melihat dia, Sar," jawab Ibu. Lalu ibu melihat ke Tuti. "Tut, benaran Imur belum pulang?" tanya ibu mertua. "Belum, Bu, tadi pergi ma Mbak Sarah ke dukun buat ngobatin kesurupan, tapi setelah itu nggak kelihatan lagi." Waduh, si Tuti saksi mata nih. Aku pasti disalahkan. "Astaga! Aku lupa, kirain Mbak Imur sudah pulang, tadi saat sedang perjalanan ke rumah dukun, Mbak Imur m
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status