مَريَمَة
Pernikahannya bukanlah sebuah pilihan... melainkan takdir yang dipaksakan kepadanya di antara dinding-dinding kota yang dikepung perang.
Anastasia dinikahkan dengan al-Walid sebagai pengantin yang membawa racun dalam kantongnya, dan dalam hatinya tersimpan wasiat ayahnya: membebaskan tanahnya dan membalaskan dendam rakyatnya.
Sementara itu, al-Walid tak menyambutnya sebagai tawanan perang, melainkan sebagai amanah yang harus dijaga.
Ia mengikat sebuah janji yang menjaga harga diri Anastasia, dengan mengorbankan harga dirinya sendiri.
Dan Anastasia bersumpah pada dirinya bahwa pembalasan itu tak akan datang dari tangan siapa pun selain dirinya sendiri...
Namun ia tak mendapati musuh biadab yang selama ini digambarkan dalam kisah-kisah, melainkan seorang pria yang menepati janji yang sesungguhnya tak mengikatnya, dan menjaga kehormatan seorang perempuan yang datang untuk menjadi sebab kehancurannya.
Di antara wasiat seorang ayah yang membebani pundaknya, dan sebuah janji yang terjalin antara dua musuh, keduanya mendapati diri mereka berhadapan dengan perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.
Anastasia kini berdiri di hadapan pilihan tersulit dalam hidupnya.
Akankah ia tetap setia pada masa lalu yang telah membentuknya?
Ataukah ia akan memberikan hatinya kepada seorang pria yang telah mengubah segala yang ia yakini?
144