Pendekar Naga Petir
“Dantianku tertekan terlalu keras… arus petir dan energi dunia bertubrukan. Kalau bukan karena Fisik Dewa Perang, tubuhku sudah meledak.”
Ia mengerahkan sisa energi jiwa untuk menstabilkan aliran itu.
Setiap helai urat spiritualnya tampak seperti kawat logam menyala, sebagian menipis dan sebagian membara.
Namun perlahan, semuanya mulai menyatu kembali.
Tiba-tiba, suara berat bergema di dalam pikirannya—suara Naga dari bawah kolam roh.
“Tuan, tubuhmu mendekati ambang Fisik Dewa Perang tingkat tiga. Tapi jika kau memaksakannya tanpa fondasi baru, tubuhmu akan runtuh sebelum terbentuk.”