RUMAHKU ADALAH KAMU
“Aku nggak kepikiran sejauh itu, tapi kalau menurutmu itu yang paling pas, it’s okay.”
Butuh hampir seharian penuh untuk membereskan semuanya. Saat matahari mulai condong ke barat, apartemen itu akhirnya mulai terasa seperti rumah. Kardus-kardus sudah jauh berkurang, rak buku terisi, dan kasur terpasang rapi. Malam itu, mereka memilih memesan makanan, terlalu lelah untuk sekadar memikirkan masak.
“Besok aku mulai kerja lagi,” kata Arsen sambil menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya.
Hot Chapters