Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Aku Padamu, Gus!

Aku Padamu, Gus!

“Ke rumahmu saja! Aku mau istirahat.” Akhirnya kami pulang ke rumahku. Baru dua hari aku meninggalkan rumah, tetapi rasanya sudah lama tidak datang. Banyak dedaunan berserakan di depan rumah dan bunga milik Ibu berjatuhan. Aku harus rajin ke sini supaya rumahku tidak seperti kapal pecah. Rumah ini sudah khas seperti rumah hantu. “Aku akan bantu beresin rumah kamu.” Tiba-tiba Gus Azam berdiri di sampingku seolah mengerti apa yang ada dalam pikiranku.
1060.8K viewsCompletedAdded to Library 2.0K Times as puisi rumahku
Read
+Library
Stuck In H2SO4

Stuck In H2SO4

Hilda Ehh kamu kemana Sya Aku sudah tungguin tapi ngga ada Maaf ges aku pulang ke rumah Momy sayang Oalah okey Setidaknya kalo ada musik kan ngga begitu krik krik. Tapi ketenangan ku berubah begitu mobil membawa ku ke kawasan perumahan yang sangat ku kenal. "Loh Pak kalo boleh tau kenapa ke sini ya?,"tanyaku bingung.
104.0K viewsCompletedAdded to Library 120 Times as puisi rumahku
Read
+Library
Dalam Diamku

Dalam Diamku

POV Rumah Rajasa Baru sehari ditinggalkan oleh Miranda, rumah Bu Merry sudah terasa sangat tidak nyaman. Tidak ada yang memasakan sarapan dan makan malam, lantai terasa berdebu karena tidak disapu dan dipel, serta cucian kotor yang menumpuk di sudut kamar.
8.544.9K viewsCompletedAdded to Library 1.2K Times as puisi rumahku
Read
+Library
AKIBAT PELIT PADA ANAK ISTRI

AKIBAT PELIT PADA ANAK ISTRI

Pov : Yuli Mataku terasa begitu berat. Menangis pun rasanya percuma. Keadaan tetap tak bisa kembali seperti semula. Rumah, harta satu-satunya yang kumiliki sudah terjual beberapa hari yang lalu. Ah sudahlah. Daripada aku pinjam sana-sini yang ada hanya dapat makian, lebih baik jual yang ada. Toh masih ada rumah peninggalan bapak dan ibu.
9.7334.7K viewsCompletedAdded to Library 9.4K Times as puisi rumahku
Read
+Library
Bayaran Cinta Sang Miliarder

Bayaran Cinta Sang Miliarder

Aku berdiri di balkon rumah kami di Ubud. Udara hangat menyentuh kulitku, semilir angin membawa aroma kayu manis dan hujan semalam. Di kejauhan, suara gemericik air sungai menyatu dengan suara dedaunan yang saling berbisik pelan. Di tanganku, draft buku pertama yang kutulis: “Bosku Adalah Suamiku – Kisah Tentang Perang, Cinta, dan Harga Diri.”
101.0K viewsOngoingAdded to Library 22 Times as puisi rumahku
Read
+Library
Budak Kesayangan Sang Tiran

Budak Kesayangan Sang Tiran

“Aku sudah menemukan rumahku.” ***
105.1K viewsCompletedAdded to Library 173 Times as puisi rumahku
Read
+Library
PESONA SUAMIKU YANG TAK PERNAH MEMILIHKU

PESONA SUAMIKU YANG TAK PERNAH MEMILIHKU

Model lama, halaman kecil dengan pagar kayu dan kursi bambu reyot di depan. Qale membeku. “Rasanya ... aku pernah lihat rumah ini...” gumamnya. “Ini,” kata pria itu, “boleh kamu sebut ... rumah.” Kadang, rumah bukan tempat kita tinggal, tapi orang yang berani tinggal bersama ... saat diri tak punya apa-apa selain luka. Qale mengangguk, menoleh ke pria disampingnya, matanya berkaca-kaca. "Aku pulang."
103.2K viewsCompletedAdded to Library 121 Times as puisi rumahku
Read
+Library
Rumah Kakek

Rumah Kakek

Kini keringat dingin mulai muncul dan kakiku semakin berat melangkah. Oh Tuhan, apa yang aku lakukan sekarang? Benarkah rumah ini tidak lagi menyimpan kengerian di masa lalu dulu? Sebenarnya, banyak sekali perubahan pada rumah ini yang membuatku takjub. Walaupun sudah sah dimiliki oleh om Agung, aku tetap menyebut rumah ini sebagai Rumah Kakek. Entah mengapa, karena memori yang ada di rumah ini sangatlah kuat. Suka, duka bahkan hal menegangkan pun aku alami juga di sini.
105.2K viewsOngoingAdded to Library 145 Times as puisi rumahku
Read
+Library
Menikah Dengan Abang (Abang Angkat)

Menikah Dengan Abang (Abang Angkat)

PoV Silvi Setelah beberapa hari berpikir, akhirnya memutuskan pulang ke rumah. Rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman, justru bagiku tempat yang menakutkan. Bagaimana tidak? Jika kaki ini menginjakkan rumah yang terbilang mewah itu, segala caci maki serta omelan selalu kudapatkan tanpa tahu kesalahan apa yang telah aku perbuat.
10102.0K viewsCompletedAdded to Library 3.4K Times as puisi rumahku
Show Reviews (19)
Read
+Library
Isabella
nofel yg benar benar keren bikin ngakak tingkah si Dion dan si Dendy . ada kocaknya. ada manisnya ada romantisnya ada genre nya pokoknya komplit ....pokoknya keren keren keren. ku tunggu nofelnya yg lain thoer
Afdan
Bab Sakit...knpa ayu harus nangis kan emang salah dia sendiri tuh knpa sih thor lembek amat bisa aja buat si ayu liat ponselnya trus liat chatnya..kn dia yang mulai kata firman ajak nonton udah pasti abngnya marah bilang gitu..trua ayu knpa nangis punca masalah dirinya yang cipta..Lol
Read All Reviews
Sang Putri: Sahabat Dari Surga

Sang Putri: Sahabat Dari Surga

Ayuk kulihat sedang menuliskan sesuatu di dalam buku. “Lagi ngapain sih, Ayuk?” Aku bertanya lalu duduk disampingnya. “Nih baca!” ucapnya sambil menyodorkan buku yang tadi ia tulis. Sebait puisi untuk ibu. Judul: Ibu, Aku memelukmu dari bayangku di sini Mengecup bayang kakimu yang renta Kulitmu penuh luka Bentuk kasih sayangmu padaku, mencari nafkah
103.1K viewsOngoingAdded to Library 90 Times as puisi rumahku
Read
+Library
PREV
123456
...
10

Frequently Asked Questions

Rumahku selalu terasa seperti kotak musik tua—penuh lapisan suara yang menunggu untuk diceritakan. Aku mulai menulis puisi tentang rumah dengan membiarkan indera memimpin, bukan logika. Duduklah di tengah ruang itu sebentar: dengarkan papan lantai yang berderit, hirup sisa wangi masakan yang menempel di tirai, sentuh dinding yang pernah diwarna ulang. Ambil satu atau dua detail yang paling tajam dan jadikan itu jangkar emosi. Misalnya, bukan hanya menulis 'dapur', tapi 'panci besi berisik yang menabuh pagi seperti kompor orkestra'.

Selanjutnya, aku bermain dengan perspektif. Di beberapa bait aku menulis sebagai anak yang bersembunyi di bawah meja, lalu pindah jadi orang dewasa yang menatap rumah dari kejauhan. Perpindahan sudut pandang ini memberi dinamika — rumah bisa jadi pelindung, saksi, atau bekas rumah yang tertinggal. Coba juga gunakan metafora yang tak terduga: rumah sebagai paru-paru, rumah sebagai benang kusut, atau rumah sebagai kotak pos yang menyimpan rindu. Jangan takut membuat bait pendek yang menggigit, lalu meledak jadi baris panjang yang mengalir seperti napas.

Akhirnya, baca keras puisimu sendiri. Ritme dan jeda akan mengoreksi apa yang di layar terasa bagus tapi di bibir terasa canggung. Kalau aku menemukan sesuatu yang hambar, aku potong; kalau ada baris yang bikin mata berkaca-kaca, aku biarkan berkembang. Puisi tentang rumah yang paling menyentuh bukan selalu yang paling deskriptif, melainkan yang paling jujur pada pengalaman kecil — aroma, bayang-bayang, suara langkah di larut malam. Selamat menulis, dan semoga baitmu nanti membawa pembaca pulang ke tempat yang mereka sebut milik sendiri.

SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status