Maaf Mas, Keponakanmu Jauh Lebih Jantan
Sebelum Dania sempat memekik, Angger sudah merengkuh belakang kepalanya dan membungkam bibir wanita itu dengan ciuman ganas dan menuntut.
Dania berusaha keras memberontak. Kedua tangannya memukul-mukul dada bidang Angger, mencoba mendorong pemuda itu sekuat tenaga. Airmata keputusasaan mengalir melintasi pipinya. Dania tahu betul, Angger sama sekali tidak sebaik atau semulia yang dia harapkan. Pemuda ini tak ada bedanya dengan Bram—seorang pria yang hanya ingin menguasai, menindas, dan memuaskan nafsu pribadinya tanpa peduli pada kehancuran jiwanya.
Namun, tenaga Dania tak sebanding dengan cengkeraman Angger yang begitu dominan.