Hati yang Terikat Takdir
Ucapan itu seperti tamparan lembut yang mengingatkannya akan tujuan awalnya, bahwa seni adalah bagian dari dirinya yang sejati, bukan hanya media untuk popularitas atau perhatian.
Ratna menatap seniman itu dengan rasa syukur, lalu mengangguk. “Terima kasih, Pak. Saya… saya perlu diingatkan akan hal itu.”
Suatu sore, Arum memutuskan untuk mengunjungi Ratna di galerinya. Tanpa pemberitahuan, ia datang membawa dua cangkir kopi, berharap bisa memberikan sedikit ketenangan kepada sahabatnya.
Hot Chapters