I'm Sorry Laras
Lampu teras menyala redup, memberi tanda bahwa ada kehidupan di dalamnya.
Laras berdiri di depan pintu kayu yang sudah tua, tangannya terangkat ragu-ragu sebelum akhirnya mengetuk pelan. “Assalamualaikum,” ucapnya lirih, suaranya hampir tenggelam oleh angin malam. Ia menunggu dengan jantung berdegup kencang, harapannya kini hanya sederhana—tempat berteduh untuk malam ini, dan secercah kekuatan untuk melanjutkan pencarian Indira esok hari. Di dalam hatinya, ia berdoa agar paman dan bibinya masih mengenalinya, masih menerimanya, meski ia datang dengan tangan kosong dan hati yang penuh luka.
Bab Populer