Dermaga Kala
Kala berhenti sejenak, terlihat memikirkan kata-kata agar terucap tidak begitu menyakitkan, “Dan, kamu, Adimas. Sudah memilih jalan yang ingin kamu jalani. Jadi karena itu, jangan libatkan saya dalam perjalanan yang tidak saya rencanakan, dan juga tidak ada kamu didalamnya.”
Adimas semakin diam seribu bahasa. Langit yang perlahan menggelap, menjadi saksi bahwa cahaya mentari telah selesai menjalankan tugasnya. Sekali lagi, sebelum Kala benar-benar meninggalkan Adimas sendirian, ia berujar, “Apa-apa yang sudah ditakar, tidak akan pernah tertukar.”
***
“Atas nama kak Gio, ya?”
Bab Populer