Pembantu Kesayangan Tuan Muda
“Lita.”
“Ya?”
“Mulai detik ini aku memecatmu.”
“Hah?”
“Karena aku akan menjadikanmu sebagai istriku, bukan pembantuku lagi.”
“Abang—”
“Aku tahu kita sudah membicarakan hal ini sebelumnya. Bukan tak bermaksud menghargai pendapatmu yang ingin kita menikah setelah kamu wisuda. Tapi jujur saja, itu tak penting bagiku, Sayang. Aku menikahimu karena kamu Jelita, tak peduli sebagai apa …, entah sebagai pembantu atau wanita karier, di mataku kamu tetaplah Jelita yang kucintai. Tak ada bedanya kamu yang sekarang atau kamu beberapa tahun lagi. Kamu tetaplah Jelitaku. Persetan apa kata orang, ayolah fokus pada kebahagiaan kita saja. Kenapa kita harus menunda-nunda kebahagiaan kita demi kata orang, hmm?
Hot Chapters