Pembalasan Sang Dokter Jenius
“Joko… Joko… cocoknya jadi tukang angon kebo di sawah, bukan jadi OB di kota, hahaha!”
Di tengah cemoohan itu, hanya Leo yang tetap diam, matanya tidak pernah lepas dari wajah Joko. Ia memperhatikan bagaimana pemuda itu hanya menunduk, wajahnya sedikit memerah karena malu, namun tidak ada tanda-tanda kemarahan atau perlawanan. Reaksi itu justru semakin meyakinkannya bahwa anak ini memang tidak berbahaya. Ia hanyalah seorang OB sial yang berada di tempat yang salah pada waktu yang salah. Sebuah gangguan kecil yang harus segera disingkirkan.