Ketika Mertua Ikut Campur
“Iya lah. Suamiku ‘kan kamu, Mas. Kalau anaknya mirip orang lain nanti bahaya dong. Hidungku juga mancung kok. Kalau lahirnya mancung, sudah pasti karena ada turunan genetika dari orang tuanya. Bukan karena aku harus benci sama hidungmua, Mas. Aduh Mas, sakit tau. Tulang hidungmu kena tulang di pipiku … jangan usil terus dong, Mas ….”
Aku pun tak kalah untuk menyingkirkan wajahnya dari pipiku.
Tok, tok, tok ….
Akhirnya, minuman susu kita datang juga. Aku jadi punya alasan untuk menyingkir dari mas Lutfan untuk sementara waktu. Pipiku lama-lama bisa jadi lebam kena hidungnya yang mancung itu. Wkwkwkw ….
“Mas, aku ambil minumannya dulu. Awas, minggir dulu.”