Membalas Mertua dan Suamiku
Aku menyusul dari arah belakang, tidak sedetik pun memindahkan mata dari punggung tegap Bang Agam.
Sejujurnya, ada setitik rasa takut untuk bergabung ke dalam. Bagaimana kalau telah terjadi sesuatu dengan mereka di dalam sana? Bukankah ada terlalu banyak kejadian tidak terduga akhir-akhir ini? Apalagi ini sudah sebulan lamanya.
“Dek, perhatikan langkahmu, jangan lebih dari satu meter!” ingat Bang Agam.
Pria itu berdiri di depan pintu rumah yang juga sudah berbalut debu. Teras tidak lagi bisa dilihat warna keramik aslinya, dilapisi lumpur tipis, debu serta dedaunan yang terbawa angin.