MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI
"Aku dihina mertuaku, aku hampir gila karena kemiskinan di Jakarta, aku dikejar-kejar pembunuh... dan Ibu ada di sini? Hidup tenang di pegunungan?"
"Tidak ada ketenangan di sini, Kinan," sahut Ibu, matanya berkaca-kaca namun ia menolak untuk menangis. "Setiap malam aku berdoa agar hari ini tidak pernah datang. Hari di mana kamu harus tahu kebenaran ini. Karena begitu kamu tahu aku hidup, kamu bukan lagi sekadar akuntan. Kamu adalah target utama. Dan sekarang, Bima sudah tahu aku di sini."
Tiba-tiba, suara ledakan terdengar dari arah jalur setapak di bawah tebing. Kepulan asap hitam membumbung tinggi. Pasukan Bima telah berhasil menembus barisan pertahanan luar desa.