Bunga Ilalang, Mahkota perawan desa
Di sepanjang jalan, Mas Adit menggandengku, sesekali memeluk bahuku walaupun kadang kusingkirkan lengannya kalau berpasasan dengan orang, malu.
"Mbah Syahdu? Ini Mbak Syahdu, kan? Dan ini pasti suaminya Mas Syahdu," setiap ketemu orang pasti menyapaku begitu.
"Kamu terkenal juga ya, Syahdu, di desa ini. Mantan bunga desa ya."
"Itu tadi kan tetangga-tetangga Syahdu. Teman Bapak."
"Teman Bapak? Kenapa kamu tadi tidak tanya kemana Bapakmu?"