Andai Sinar itu Tak Pernah Ada
Hari orang tuaku bercerai, hujan turun deras.
Ada dua surat perjanjian di atas meja. Satu untuk ikut bersama ayah yang gila judi dan berutang di wilayah Kota Tua.
Satu lagi untuk ikut ibu yang menikah lagi dengan pengusaha kaya ke daerah pesisir.
Di kehidupan sebelumnya, adikku menangis tersedu-sedu karena ingin ikut ibu, sementara aku diam-diam mengemas koper untuk mengikuti ayah.
Kemudian, ayah berhenti berjudi dan menjadi orang kaya baru karena uang ganti rugi lahan. Dia benar-benar memanjakan aku.
Sedangkan adikku justru diabaikan di rumah ayah tirinya dan dilarang keluar rumah, hingga akhirnya dia meninggal karena depresi.
Saat mengulang waktu kembali, adikku tiba-tiba merebut rokok dari tangan ayah dan memeluknya erat-erat seolah tidak mau melepaskannya.
"Kak, aku kasihan sama ayah. Kamu pergi aja ke sana buat hidup enak, biar aku yang kasih nasib baik ini buat kamu."
Ayah terpana sejenak, lalu dengan perasaan lega mengusap kepala adikku.
Aku tidak mengatakan apa pun, lalu mengambil tiket kendaraan ke daerah pesisir itu.
Tapi, dia tidak tahu kalau di kehidupan sebelumnya ayah bisa berhenti berjudi.
Itu karena aku yang menderita tumor otak ini rela bekerja sampai muntah darah demi melunasi utangnya. Pakai nyawaku sendiri baru bisa membuat dia bertobat.