Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Duka Cita

Duka Cita

“Papa ke mana?” “Aku sendiri,” jawab Cita sambil melirik sekilas, pada buket bunga mawar merah yang tergeletak di sofa lobi. Tidak hanya itu, Cita juga melihat sebuah boneka kelinci putih, yang tengah memegang wortel di samping buket tersebut. Sungguh lucu sekali, tetapi Cita tetap berusaha kalem dan tidak mempertanyakan hal tersebut sama sekali. “Di sini, aku memang dibiasain mandiri sama papa. Selama masih ada di gedung, aku dibolehin pergi ke mana-mana.”
9.838.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.3K kali sebagai buci
Baca
+Pustaka
SPERANZA

SPERANZA

Byakta mengangguk dengan malas. Speranza berjalan masuk, dia menghampiri brankar Yasa. Byakta menutup hidungnya saat mencium bau aneh dari tubuh Speranza. "Kau habis darimana? Mengapa tubuhmu sangat bau?!" tanya Byakta dengan kesal. Speranza terdiam. Dia mencium tubuhnya dan mengakui tubuhnya sangat bau. Byakta mendekat ke arah Speranza untuk mencium lebih jelas bau dari tubuh Speranza.
102.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 105 kali sebagai buci
Baca
+Pustaka
BUKTI CINTA

BUKTI CINTA

tunjuk Bella ke arah luar. Dimas membalikkan badan, menatap ke arah jendela. "Ya udah, nih. Pake hp aku aja!" Dimas menyodorkan ponselnya kepada Bella. "Nggak, deh. Next time aja fotonya. Kok aku jadi tergoda mencicipi ini," kata Bella seraya mengambil sepotong fudge brownies di depannya. "Kamu lucu, ya. Jadi gemes!" canda Dimas tertawa.
2.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 62 kali sebagai buci
Baca
+Pustaka
Kamu Semangatku

Kamu Semangatku

"Oke, Bu!" .....
103.2K DibacaTertahanDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 113 kali sebagai buci
Baca
+Pustaka
Benci Menjadi Cinta

Benci Menjadi Cinta

“Iya bu.” “Nama kamu siapa terus kenapa bisa telat berangkat ke sekolahnya ?” “Nama saya Sinta bu, saya telat gara-gara macet di jalan.” “Kan tapi kamu bisa cari jalan lain atau kamu berangkat lebih pagi lagi, apalagi kota ini terkenal kota macet.” “Iya maaf Bu itu jalan satu-satunya makannya saya bisa telat.”
104.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 171 kali sebagai buci
Baca
+Pustaka
Aduh, Bosku Bucin

Aduh, Bosku Bucin

Marzuki terkekeh membelakangi pintu, melangkah pelan menghampiri Bintang yang terlihat gemetar. “Tenang saja, kita hanya perlu bicara,” ucap Marzuki. Tangannya terulur hendak mengusap pipi Bintang. Namun, ditepis oleh gadis gitu. “Wow, aku suka perempuan galak. Biasanya lebih agresif saat bercinta.”
101.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 36 kali sebagai buci
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1234567
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status