Rahim yang Tergadai
Matanya menelusuri rak buku, mengamati deretan literatur berat: akuntansi, bisnis, hukum, dan filsafat.
Hingga satu buku mencolok menarik perhatiannya—paling kecil di antara yang lain, tapi paling tebal. Tanpa judul. Tanpa kode.
Ia menarik buku itu, dan selembar foto bersama secarik kertas usang jatuh ke lantai.
Tangannya gemetar saat memungutnya. Nafasnya tertahan.
"Ini ..." bisiknya, lututnya melemas, tubuhnya terjatuh terduduk sambil menggenggam foto dan surat itu erat.