Wonderstruck
Sementara Marco, Levi, dan Yuma menempati tempat duduk di seberang kami, terpisah sekitar satu setengah meter.
“Entahlah. Dia masih diobservasi sama psikolog. Baru tiga hari yang lalu dibawa ke sini, pas lagi ngemis di dekat Pustaka Murni.” Marco menyebut salah satu toko buku tertua di Pematangsiantar. “Dia masih belum mau nyebut namanya. Tiap kali ditanya, nangis kayak tadi. Apalagi kalau udah disinggung soal keluarganya. Pasti langsung teriak-teriak panik.”
Karena kami duduk berhadapan, aku jadi leluasa melihat ekspresi muram yang tercetak di wajah Marco. Hatiku berdenyut nyeri hanya karena membayangkan ucapan cowok itu.