Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Tambatan Hati Si Brandalan

Tambatan Hati Si Brandalan

Leo mengingat betul kejadian itu. “Sebenarnya aku pergi ke suatu tempat yang sangat luar biasa.” Maksud Marco ialah ia pernah pergi ke kota Avesta. “Memangnya kau pergi kemana?” Pertanyaan Leo berbuntut panjang. “Ceritanya panjang.” Marco menghela nafas. “Persingkat saja.” Ujar Leo. “Waktu itu kau kebelet ingin buang air lalu kau pun pergi mencari toilet dan aku menunggumu di tempat ini sendirian.” Marco berusaha mengingat-ingat kejadian di masa lalu.
1013.0K viewsOngoingIdinagdag sa Library 453 Beses bilang the travels of marco polo
Read
+Library
MARCO-POLO

MARCO-POLO

Tiba-tiba, pria itu tertawa terbahak, tapi kemudian dia membungkam mulutnya sendiri menahan kegembiraannya. "Oh! Oh! Kaumasih hidup! Hahahaha!" serunya senang seraya memegang kedua lengan pria berwajah tampan itu. "Kau tahu? Aku dan Yuri yang memberikan nama itu. Marco-Polo yang berarti pemberani dan tangguh!" sambungnya semangat. "Kau yang memberikan nama Marco-Polo? Benarkah?" tanya Marco heran. Pria tua itu mengangguk semangat dengan wajah berbinar. Marco mengamati lelaki itu saksama dari atas sampai bawah, tapi tetap tak ingat dengan sosoknya.
1014.9K viewsOngoingIdinagdag sa Library 445 Beses bilang the travels of marco polo
Read
+Library
Tawanan Mafia Mesum

Tawanan Mafia Mesum

* Malam pesta akhirnya tiba. Marco, pria asing yang baru Hazel temui semalam, menjemputnya di lobi penginapan dengan jas rapi dan senyum sekilas. Di sepanjang perjalanan menuju villa keluarga Tuscany, percakapan mereka berlangsung datar. Marco hanya menanyakan hal-hal sopan ala perkenalan singkat, asal kota, pekerjaan, dan berapa lama Hazel akan tinggal di Italia. Setelah itu, keheningan mendominasi.
10105.0K viewsKumpletoIdinagdag sa Library 4.1K Beses bilang the travels of marco polo
Read
+Library
Penderita Kanker Jadi Manusia Super

Penderita Kanker Jadi Manusia Super

“Tidak ada satu pun mobil yang terlihat karena jalanannya berupa kanal, jadi satu-satunya cara untuk berkeliling adalah dengan perahu. Ada seratus lima puluh kanal dan lebih dari empat ratus jembatan yang menghubungkan semuanya.” Perhatian Eric tertuju pada iPhone-nya, menelusuri peta jalan kota. Tanpa menoleh, dia berkata, “Kurasa mereka tidak terlalu khawatir tentang harga bensin di sini.” Kalinda menempelkan jari telunjuknya ke jendela yang terbuat dari plexiglas. “Aku rasa itu Lapangan Santo Markus. Bisakah kalian bayangkan hal-hal menakjubkan yang pernah terjadi di sana? Dan orang-orang terkenal yang tinggal di sana, seperti Marco Polo atau Casanova? Dan Veronica Franco!”
102.2K viewsKumpletoIdinagdag sa Library 75 Beses bilang the travels of marco polo
Read
+Library
Dompet Tak Terbatas

Dompet Tak Terbatas

Venesia muncul pelan-pelan, kayak sutra terurai di cahaya lilin. Dari jendela jet, kota itu kelihatan dilukis di atas air mustahil dan kuno. Dimas diem aja pas roda mendarat di Marco Polo. Anin duduk di sampingnya, mata berkaca-kaca karena kantuk tapi langsung melek lihat pantai. Bella meringkuk di selimut, boneka jerapah di bawah dagu. Bahkan dalam tidur, dia simpan keajaiban kecil.
3.8K viewsKumpletoIdinagdag sa Library 107 Beses bilang the travels of marco polo
Read
+Library
Merajut Asa

Merajut Asa

jawab Jovita. "Ah ... Bali." Marco tersenyum lebar. Jovita tersenyum. Sudah hal jamak orang asing lebih mengenal Bali dibanding Indonesia. "Pernah ke sana?" "Belum. Kuharap segera bisa ke sana," sahut Marco. "Aku dari Italia. Pernah ke sana?" Jovita mengangguk sambil tersenyum kecut. "Venesia," ujarnya pelan menyebut tempat bulan madunya bersama Ezra dahulu.
1062.4K viewsKumpletoIdinagdag sa Library 1.6K Beses bilang the travels of marco polo
Ipakita ang mga Review (64)
Read
+Library
Moy
Terima kasih sudah membuat bacaan yang luar biasa. Saya benar2 hanyut dalam ceritanya, karena ceritanya benar-benar hidup, tidak mudah ditebak dan pembaca bisa merasakan dilokasi yg ada dalam cerita. Sungguh serasa baca living books dengan asupan subjek bidang psikologi. Dan ternyata ini kisah nyata
asta
Hampir satu tahun istirahat, jeda di Bab 68. Begitu balik untuk menyelesaikannya, untuk mengisi waktu berpuasa, ternyata isi ceritanya berubah. Saya belum menyelesaikan cerita sebelumnya. Saya mengingatnya tentang seorang ibu satu anak yang diceraikan dan tinggal bersama keluarga Swedia di US. (-_-)
Basahin ang Lahat ng Review

Mga Madalas Itanong

Ada satu momen dalam 'Il Milione'—catatan perjalanan Marco Polo—yang selalu membuatku terpana: deskripsinya tentang Kota Kinsay (sekarang Hangzhou). Dia menggambarkan kanal-kanal yang berkilau seperti perak di bawah sinar matahari, pasar-pasar dengan rempah yang memenuhi udara dengan aroma eksotis, dan orang-orang yang berbusana sutra halus.

Yang menarik, Marco Polo juga menceritakan sistem pos Mongol yang efisien, di mana kurir bisa menempuh 300 mil dalam sehari dengan jaringan stasiun kuda. Detail seperti ini menunjukkan betapa terpesonanya dia dengan kemajuan administrasi Kekaisaran Mongol. Aku sering membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang Venesia pertama yang menyaksikan teknologi dan budaya yang jauh melampaui Eropa abad ke-13.

I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status