Cinta, Dendam, dan Takdir
Aku menembus pintu besi yang tebal, melayang ke ruang operasi.
Tubuh Laurent dipenuhi selang, mengenakan alat bantu napas, tampak sangat menyedihkan.
Aku melayang ke sisinya, seperti yang dia lakukan di laboratorium, dengan lembut menyentuh pipinya.
"Laurent, aku maafkan kamu."
"Tapi di kehidupan selanjutnya, sebaiknya kita nggak lagi menjadi suami istri."
Begitu kata-kata itu terucap, gaya tarik besar yang mengikatku dan Laurent pun menghilang.