Ada sesuatu yang menusuk tentang kisah cinta yang berakhir dengan air mata—entah karena kehilangan, pengorbanan, atau nasib yang kejam. Salah satu yang paling menghantam hati adalah 'Me Before You' karya Jojo Moyes. Novel ini bukan sekadar tentang dua orang yang jatuh cinta, tapi juga tentang pilihan-pilihan sulit dalam hidup. Lou, gadis ceria dengan masa depan biasa-beda, bertemu Will, pria berkursi roda yang sinis dan traumatis. Chemistry mereka tumbuh perlahan, seperti bunga di antara reruntuhan, dan justru itulah yang bikin pembaca terlena sebelum akhirnya dihancurkan oleh keputusan Will. Adegan terakhir di Swiss? Aku masih belum bisa move on.
Kalau mau yang lebih klasik, 'The Fault in Our Stars' karya John Green selalu jadi pilihan. Hazel dan Gus adalah dua remaja penderita kanker yang menemukan cahaya dalam kegelapan penyakit mereka. Dialog-dialognya cerdas, lucu, tapi juga menusuk. Endingnya—oh, endingnya—membuatku menangis seperti anak kecil yang kehilangan es krim. Green berhasil mengemas tragedi tanpa jadi melodrama murahan. Pesannya tentang cinta dan waktu yang terbatas itu nyata banget. Aku sering merekomendasikan ini ke teman-teman yang pengen 'merasakan sesuatu' sampai ke tulang.