Membicarakan Pak Dede selalu bikin aku tersenyum karena karakternya yang begitu kaya. Di cerita itu, dia bukan sekadar tokoh pendamping—dia simbol kebijaksanaan lokal yang jarang ditemui di dunia modern. Awalnya, aku mengira dia hanya tetua biasa, tapi ternyata setiap ucapannya punya lapisan makna. Misalnya, saat dia bilang 'Jangan lihat sungainya keruh, tapi tanyakan kenapa airnya tak lagi jernih,' itu bukan nasihat biasa. Itu kritik sosial halus.
Dia juga punya backstory menarik yang diungkap pelan-pelan: ternyata dulu aktivis lingkungan yang memilih mengasingkan diri. Detail seperti tongkat bambunya yang selalu dibawa—yang ternyata warisan ayahnya—bikin karakternya terasa hidup. Uniknya, meski bijak, dia bukan sosok sempurna; kadang keras kepala soal resep sambalnya yang 'harus pakai cabe rawit setan'. Kombinasi antara kedalaman dan kemanusiaannya inilah yang bikin aku suka.