Takdir sang Nona Pewaris
Ia menoleh menatap jendela yang terbuka lebar, daun bunga bergoyang ditipu angin, indahnya bunga peach yang bermekaran itu membuat hatinya sedikit tenang.
“Kalau begitu, besok pagi kita harus bergerak. Ibu tiriku yang naik itu tidak akan memiliki keberanian untuk keluar kediaman, tentu saja sebagai putrinya aku akan membantu,” ucap Suran, tatapan matanya kini menyiratkan rencana yang matang.
“Baik. Kita akan mulai dari mana dulu, Nona?” tanya Wulien.
Suran tersenyum. “Aku paling suka menyerang langsung ke bagian kepala. Kalau otaknya rusak, bukankah badannya tidak akan bisa dikendalikan?”