Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Silent love

Silent love

ajak erlang "iya dek ayok masuk kerumah" "neneeekk!!!! "teriak bahagia erlang memeluk neneknya "ehh cucu nenek seneg banget kayaknya"ucap nenek "iya nek tadi asik pikniknya, nenek sih gak ikut" Erlang berceloteh menceritakan pengalaman yang di laluinya hari ini kepada neneknya, letta pun berjalan menuju kamar untuk beristirahat.
103.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 116 kali sebagai cerita nenek kebayan
Baca
+Pustaka
Cinta Satu Malam

Cinta Satu Malam

tanya Bima yang main tebak-tebakan bersama ayahnya dengan raut wajah yang senang. "Kau kemana Saja hari ini sama kakek, sampai melupakan ayah?" tanya Sabian. Bima menceritakan apa yang di laluinya hari ini bersama sang kakek, ke makam neneknya, ke tempat favorit kencan nenek dan kakeknya sampai mencoba makanan favorit neneknya, Bima sangat senang hari ini bisa mengobrol dengan sang kakek yang menceritakan awal bertemunya dengan sang nenek dan pertama kencan di tempat seperti apa.
9.7489.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 19.6K kali sebagai cerita nenek kebayan
Baca
+Pustaka
Kita dan Cerita

Kita dan Cerita

Naluri seorang ibu tidak akan pernah salah, dan perasaannya pun sangat kuat jika menyangkut tentang kedua anaknya. Meskipun mereka berdua sudah dewasa, namun bagi Revi mereka tetaplah anak anak yang harus selalu mendapat dukungan dan kasih sayang orang tuanya. Namun ia belum mampu memberikan sutuhnya, dirinya terkadang berpikir bahwa ia sangat egois. Lebih mementingkan pekerjaan ketimbang anaknya. Bahkan ia tidak bisa mengetahua keadaan anak anaknya seperti apa. Mereka berkata baik baik saja, namun ia tahu bahwa kedua anaknya itu merasakan kesepian tanpa dirinya maupun ayahnya. “Ma, gimana perjalanannya, pasti melelahkan” Kevin meraih koper milik mamanya itu.
18.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 691 kali sebagai cerita nenek kebayan
Baca
+Pustaka
Hantu Vila

Hantu Vila

Dan aku tidak menanyakan banyak hal lagi, karena aku yakin pak Kiai pasti tau semuanya dari cerita mang Deni ataupun Nenek. Segera aku dan pak Kiai berjalan ke ruang tengah, di mana sudah ada Nenek, mang Deni, bi Isoh dan anak pak Kiai. “Alhamdulilah nak sudah enakan sekarang?,” tanya nenek dengan masih cemas. “Sudah nek, baik-baik aja cucu nenek, jagoan gini Kevin tuh,” jawab pak Kiai sambil becanda.
9.917.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 476 kali sebagai cerita nenek kebayan
Baca
+Pustaka
Godaan Memikat Abang Ipar

Godaan Memikat Abang Ipar

Nara sontak menggeleng kepalanya, tapi mulutnya terkunci rapat. “Kalau bukan gitu, lalu apa dong? Apa kerjaan kamu bikin capek?” “Capek karena kerja itu wajar kok, Nek.” “Ya terus apa dong? Kamu nggak mau cerita sih. Nenek yakin banget nih kamu menyimpan sesuatu sama nenek. Nenek itu hidup udah jauh lebih lama dari kamu. Asam garam soal percintaan sama kerasnya kehidupan itu sudah nenek makan semua.”
108.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 196 kali sebagai cerita nenek kebayan
Baca
+Pustaka
Perjalanan Menemukanmu

Perjalanan Menemukanmu

Jeanne menyisipkan sedikit tawa di akhir kalimatnya. "Oh, baik. Baiklah." Pak Tomi mengangguk. Dia jelas tak bisa melupakan hal itu. Dia lantas melanjutkan, "Aku tak tahu nenek itu berasal dari mana. Ketika aku membuka toko buku disini, dia sudah tinggal di rumahmu seorang diri. Suaminya telah meninggal dan sepertinya ia tak memiliki anak. Entahlah. Yang kutahu nenek itu suka bercocok tanam dan dia dapat bantuan dari pemerintah sampai akhir hayatnya. Ia nenek tua yang jauh dari kata ringkih. Dia senang berjalan-jalan, rumahnya tampak terawat, halamannya selalu berumput pendek, dan dia tidak mengeluhkan karena bekerja merawat rumah sendirian. Sebetulnya dia ramah. Hanya saja agak tertutup unt
102.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 56 kali sebagai cerita nenek kebayan
Baca
+Pustaka
Kehidupan Gelap CEO

Kehidupan Gelap CEO

Ana memeluk neneknya dengan tangisan yang terus keluar dari matanya. "Aku tidak ingin hidup di dunia ini sendiri, aku ingin ikut dengan nenek." rengek Ana. Hati Ana merasa sangat hancur melihat kepergian neneknya. "Kuburannya sudah siap, sebaiknya kita segera menguburkannya." ujar salah satu bapak-bapak pelayat yang bernama pak Bambang seorang kepala RT. "Tidak! Aku masih ingin bersama nenek." Ana menggelengkan kepalanya berulang kali dan memeluk tubuh neneknya dengan erat. Ana merasa tidak ingin dipisahkan dengan neneknya.
108.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 263 kali sebagai cerita nenek kebayan
Baca
+Pustaka
Petaka Dua Garis

Petaka Dua Garis

Jujur, aku tak mengenalnya sama sekali dan ucapan beliau barusan sungguh membuatku risih. “Iya, Bu.” Aku menjawab sembari menyalami wanita paruh baya dengan kebaya kutu baru warna hitam tersebut. “Saya Budiarti, teman masa muda Ummi kalian. Dengar-dengar, kamu ini tidak bisa punya keturunan, ya? Makanya dipoligami? Aduh, kok kuat, sih? Apa resepnya biar tahan diduakan begini? Salut saya!” Nenek berlipstik terang itu berkata dengan sangat menyakitkan. Enteng betul mulutnya bertutur.
1032.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.1K kali sebagai cerita nenek kebayan
Baca
+Pustaka
Izinkan Suamimu Menikah Lagi

Izinkan Suamimu Menikah Lagi

"Maafkan Nenek, ya, siapapun kamu? Maafkan Nenek yang pernah telat menyanyangi. Maafkan nenek yang pernah meragukan keberadaanmu." Melihat mertuanya terus-terusan meneteskan air mata dan terisak, Nunik berusaha mengambil hati dengan menyusut tetesan itu di pipinya. "Ibu, yang sabar ya? Bukan ibu saja yang sedih, tapi Nunik juga. Nunik sedih, karena adiknya Risma tidak terlahir sebagai bayi, melainkan hanya sampai pada tahap janin. IBu sabar dan tenang. Nanti juga Nabila akan hamil lagi kalau sudah waktunya. Udah ya nangisnya? Ntar ibu jadi jelek, lho!" Nunik berusaha menenangkan Bi Saropah. Beruntung, saat ini Nunik bisa berguna untuknya. Walaupun, tidak dengan ikhlas.
1081.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 3.0K kali sebagai cerita nenek kebayan
Baca
+Pustaka
Maju Mundur Kena Duda Anak Satu

Maju Mundur Kena Duda Anak Satu

ucap Jiya “Dulu mertua Mama, neneknya Adam... itu tidak begitu suka dengan Mama.” “Apa ini semua juga karena Mama berasal dari desa?” tanya Jiya yang mulai sedih “Iya, kamu benar. Mama sering dikucilkan saat di keluarga besar papanya Adam dulu. Waktu itu papanya Adam masih merintis perusahaannya, sedangkan mas Susilo itu usahanya sudah naik terlebih dulu. Makanya mungkin neneknya Adam lebih memperhatikan mbak Ranti daripada Mama,” ucap Nyonya Titi sambil terlihat sedang mengingat-ingat masa lalu yang menyedihkan itu, wajahnya kini berubah menjadi sendu
109.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 287 kali sebagai cerita nenek kebayan
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status