Mas Bram, Besok Kita Bercerai
Gundukan tanah merah kecil kini ada di hadapannya, hanya ditandai dengan nisan kayu sederhana bertuliskan 'Fulan bin Bramantyo'.
"Udah selesai, Neng," ujar Pak Ujang sambil menyeka keringat. Dia menatap Aruna yang masih termenung menatap nisan. "Neng mending pulang, istirahat. Mukanya pucet banget. Nanti malah pingsan di sini."