Antara Penyesalan Dan Pembebasan
Sejak sahabat masa kecil Irfan meninggal, dia membenciku selama sepuluh tahun penuh.
Hari kedua setelah menikah, dia langsung mengajukan diri ke organisasi untuk pergi ke perbatasan.
Selama sepuluh tahun itu, aku menulis surat tanpa henti, berusaha menunjukkan ketulusanku. Tapi, balasan yang kuterima selalu hanya satu kalimat.
[Kalau kamu benar-benar merasa bersalah, lebih baik cepat mati saja!]
Namun, saat aku diculik, dia malah menerobos markas penjahat seorang diri, menembus hujan peluru demi menyelamatkanku.
Sebelum meninggal, dengan sisa tenaganya, dia menepis tanganku dengan keras.
“Menikah denganmu… adalah penyesalan terbesarku….”
“Kalau ada kehidupan berikutnya, kumohon jangan pernah
Hot Chapters